Finally, the story comes out

December 27, 2009 § 4 Comments

http://docere.antiblog.com

Sheila dan Haryono ditugaskan sementara di sebuah desa terpencil. Kebetulan mereka bertemu dan berkenalan di tempat dinas tersebut. Ini cuplikan catatan dari pembicaraan yang pernah mereka lakukan.

Catatan: kata-kata dalam kurung diucapkan dalam hati…

___

Sheila: (Kayanya gue beda dari dia. Kayanya pemikiran dia tertutup banget dan pemahaman kita tentang kehidupan beda. Hm, tapi emang sih aku tertarik sama dia. Cuma, aku ngga suka sama pemikiran-pemikiran dia. Nganggap pembunuh masal macam teroris sebagai pahlawan kayanya uda jadi petunjuk kalo visi misi hidup kita beda deh…)

Haryono: … *hanya tersenyum memandangi Sheila

__

Haryono: tau ngga, ini ada tulisan bagus dari Anis Matta, aku pengen cari tulisan-tulisan dia yang lain. *sambil menyerahkan beberapa lembar printout.

“Penerimaan positif itulah yang mengantar kita pada kerja mencintai selanjutnya: pengembangan. Pada mulanya seorang wanita adalah kuncup yang tertutup. Ketika ia memasuki rumah Anda, memasuki wilayah kekuasaan Anda, menjadi istri Anda, menjadi ibu anak-anak Anda: Andalah yang bertugas membuka kelopak kuncup itu, meniupnya perlahan, agar ia mekar jadi bunga.”

Sheila: hm… (hm, wah patriarkal dan patronizing banget nih tulisan. Berarti dia punya konsep kalau dia harus “membuat istrinya lebih baik” dan “dia sudah lebih baik dari istrinya”, dan “di menilai istri selalu lebih buruk dan lebih rendah dari dia”. Dengan pandangan seperti itu berarti dia menganggap dia yang “mengubah istrinya menjadi lebih baik” dan dia mengubah itu tentunya menjadi seperti versi yang dia anggap lebih baik menurut alam pikiran dia sendiri. Duh, kok perasaanku jadi nggak enak ya. Kalo ini dia suka tulisan ini berarti emang ini sesuai visi Haryono dan apa yang dia harapkan dari sebuah hubungan: mengubah seseorang lebih baik dari apa yang dia nilai tidak baik. Aku bukan cewe yang mau diperlakukan seperti itu, dan aku punya pemikiran sendiri, dan aku udah cukup banyak pengalaman hidup dan belajar dari situ. Dan buatku, suami bukan “penguasa” di mana istri ada di dalam “wilayah kekuasaannya”. Buatku suami istri adalah partner dalam menjalani dan membangun kehidupan bersama. Hm, bener nggak sih aku deket sama Haryono… )

*Sheila tidak mengucapkan komentar apapun tentang tulisan itu.

___

Sheila: Har, ada yang harus kamu tau tentang aku. Aku punya misi, buatku kerja itu bukan cuma cari uang tapi ibadah. Dan buatku bersyukur itu adalah dengan memanfaatkan kesempatan yang kita dapat sebaik-baiknya. Aku bakal sekolah lagi ke luar negri, dan di Indonesia setelah itu pun aku akan kerja jadi dosen dan sekolah lagi, bahkan mungkin sampai bertahun-tahun dari sekarang. Itu caraku melayani Allah. Itu kehidupanku yang sesungguhnya. Aku juga mau berkeluarga, tapi semua itu sejalan dan aku akan berusaha untuk itu semua.

Haryono: …

Sheila: Har?

Haryono: Eh, uda jadi belum nasinya?

Sheila: … (Aduh, kok dia ngga mau ngrespon hal ini sih, kan aku pengen tau pendapat dia soal gaya hidupku ini… Banyak hal dari dia yang bikin aku tertarik sama dia. Baik, asik, playful, pinter… Emang sih ada juga perbedaan antara kita. Cuma, hm, I can’t deny this feeling…)

___

Haryono: Kenapa sih kamu nggak S2 terus jadi dosen aja? Kenapa pake ambil spesialis lagi?

Sheila: Har, rencanaku uda jelas dan banyak orang yang bantu aku, mereka kerja keras mencarikan kesempatan belajar buat aku, dan kami sama-sama percaya langkah dan komitmen ini diambil demi sesuatu yang lebih besar daripada cita-cita pribadiku. Ini amanat buatku. Tapi ini juga impianku. Aku akan ambil master dan ngajar dan seterusnya, aku pengen suatu hari insya Allah jadi profesor. Tapi aku juga akan tetep ambil spesialisasi. Kalo aku disuruh milih antara laki-laki atau pelayananku ini, aku pasti akan milih pekerjaan dan ibadah ini. Pasti!

Haryono: …

___

Haryo: Aku ngga pernah seserius ini sama cewe lain. Dan aku mau menjalani hidupku ke depan sama kamu.

Sheila: Hm.. Har, aku uda cerita soal diriku sama kamu kan? Diriku dan cita-cita dan rencanaku. Gimana soal itu?

Haryono: Buatku sih ngga masalah cewe kerja. Aku dukung kamu.

Sheila: Kalo gitu ngga masalah, kita bisa jalanin ini… Soal cita-cita kamu gimana?

Haryono: Iya, aku akan selesein kontrakku di sana, abis itu aku daftar spesialisasi, kita bisa tinggal lebih dekat kan…

___

Sheila kemudian berada di Jakarta untuk mengurus pendaftarannya sebagai dosen. Haryono tetap di desa terpencil tersebut dan meneruskan kontrak sementaranya sebagai dokter.

___

Dua bulan kemudian lewat sambungan telepon

Sheila: Har, alhamdulillah, aku uda diterima jadi dosen!

Haryono: Wah syukur deh… Eh, tau nggak, tadi aku kehujanan pas main badminton. Payah ni ujan terus di sini.

Sheila: (Serius nih, aku baru bilang langkah awal mencapai cita-citaku tercapai terus dia malah ngomongin soal cuaca…? Hm, kayanya dia ngga seneng deh aku diterima jadi dosen)

___

Seminggu kemudian lewat sambungan telepon

Haryono: Ada yang harus aku omongin.

Sheila: apa?

Haryono: gmana nanti kalo kita udah nikah dan kamu sibuk ke luar negri?

Sheila: kan sebentar2 doang ke luar negrinya, abis itu juga aku menetapnya di sini kok…

Haryono: gmana kalo kamu sibuk banget? Kenapa ngga jadi dokter biasa aja? Praktek, trus pulang. Lagian kan kamu cewe.

Sheila: Hm, gini loh. Aku kerja di jam kerja. Abis itu aku pulang, di rumah, dan aku ngurus keluarga. Aku tau itu berat, Cuma aku akan berusaha keras biar dua-duanya berjalan dengan baik karena ini pilihanku.

Haryono: Sheila… kamu tau kan latar belakang keluarga kita beda. Kamu akademik banget, sementara aku ya gini ini…

Sheila: Loh, aku kan ngga pernah mempermasalahkan itu. Aku menghargai kamu dan keluargamu kok selama ini. Walaupun beda ngga masalah, kan tergantung niat baik kita aja… Maksud kamu apa sih? Kamu mau apa?

Haryono: … Di tempat kuliahku ada profesor, mereka suami istri sama-sama sibuk. Anaknya temenku dan dia sekolahnya kacau balau karna dia ngga diperhatiin orangtuanya. Orangtuanya nggak pernah saling ketemu, kalau pulang ke rumah tinggal tidur, nggak pernah komunikasi.

Sheila: Loh, di tempat kuliahku banyak profesor, dah kehidupan mereka semua baik-baik aja. Anaknya sukses-sukses melebihi orang tuanya, dan mereka bahagia dengan kehidupan mereka.

Haryono: Aku mau kamu selalu ada buat aku. Ngurus suamimu, ngurus anak-anak. Aku mau kamu ada di rumah sebagai istri.

Sheila: iya kan aku uda jelasin tadi, semua bisa berjalan bersama. Tapi udah deh kamu terus terang aja Har… Apa yang sebenernya kamu mau dari aku?

Haryono: aku mau kamu ngurangin kegiatanmu kalo aku minta.

Sheila: Kegiatan yang mana? Gimana?

Haryono: Kalo aku minta kamu brenti ngajar aku maunya kamu brenti.

Sheila: Kamu yakin kamu minta hal itu? Soalnya kalau itu pertanyaannya aku rasa kita berdua dah tau jawabannya. Kita sama-sama tau pilihanku kan, aku punya amanat dan tanggung jawab. Aku nggak bisa. Kalau kamu balik ke Jawa lagi kamu ketemu guru-guru dan teman kerjaku dong, kasih kesempatan, aku pengen kamu kenal komunitasku. Kamu bisa tau kalo kehidupan mereka normal dan bahagia, mereka sukses dalam pekerjaan dan keluarga. Semua itu bisa berjalan bersama.

Haryono: Hm, aku diskusi dulu sama ibu dan kakak laki-lakiku. Kalau aku menilai perlu ketemu lingkunganmu kalo aku balik ke Jawa ya aku ketemu mereka. Kalau nggak ya aku nggak ketemu mereka.

Sheila: Oh, gitu ya. Kalau gitu semua udah jelas.

___

Tidak ada kontak selama 2 hari dan pembicaraan selanjutnya tidak pernah dilakukan lewat telepon. Sheila dan Haryono hanya bertukar sms. Di akhir 4 bulan kebersamaan mereka akhirnya kebenaran terungkap.

Sheila: langkah kamu salah. Bukannya serius mengenal dan berusaha saling adaptasi dengan aku kamu malah sibuk ngajak aku kawin. Kamu ngajak aku ketemu keluargamu sebelum kamu bener-bener kenal sama aku. Kamu masuk hubungan ini dari awal dengan pikiran bahwa kamu akan mengubah aku?

Haryono: Iya, tadinya aku pikir dengan rasa cinta dan sayangmu padaku kamu mau berubah.

Sheila: Wah, hebat betul ya kamu. Kamu pikir kamu yang paling sempurna dan gaya hidupmu paling bener sampai aku harus berubah demi kamu. Kamu punya istri perfect di kepalamu, cewe yang nurut dan membenarkan semua kata-katamu, patuh sama semua perintahmu, selalu di rumah dan melayani semua kebutuhan kamu. Melakukan semua yang kamu minta. Itu bukan aku. Kamu merasa tertantang, karena aku beda dari kamu, dan kamu akan merasa berprestasi kalo bisa “menginsyafkan” dan merubah aku sesuai versi kamu. Kamu menilai dirimu terlalu tinggi Har. Pikiran kamu sempit. Aku selalu jujur sama kamu, tapi kamu ternyata selalu bohong sama aku dari awal. Aku jujur kalau aku harus sekolah, kerja, dan ngajar. Cuma kamu selalu bohong kalau kamu dukung dan terima aku, ternyata dari awal cita-cita kamu adalah mengubahku.

Haryono: Kalo kamu mau berubah kita bisa kembali seperti semula.

Sheila: Buatku udah jelas semuanya. Dan udah selesai.

___

Hubungan itu selesai dengan sebuah antiklimaks yang sunyi senyap. Ini bukan cuma soal kompromi, tapi ini masalah prinsip hidup. Keyakinan hidup mereka memang berbeda. Semoga Haryono berhasil menemukan calon istri yang bisa menuruti semua keinginannya, dan Sheila bisa menemukan calon suami yang memahami prinsipnya dan mendukung pilihan hidupnya.

Satu-satunya penyesalan Sheila: “Aku seharusnya mengikuti instingku. Dari awal aku udah ngrasa kami beda prinsip hidup. Cuma aku percaya kata-kata dia, dan aku ngasih dia kesempatan. Cuma ngga apa-apa, dia uda tau konsekuensi perbuatan dia. Sekarang saatnya aku melanjutkan hidupku. Tahun depan aku berangkat ke Inggris insya Allah. This is the beginning of the rest of my life, dan akan ada pria tepat yang akan menjadi bagian dari kehidupanku ini.”

Multatuli. 27-12-09

Cerita ini hanya fiksi. Kesamaan nama, tempat, atau peristiwa hanya kebetulan belaka.

Kisah ini kupersembahkan untuk semua perempuan yang belum sempat bermimpi dan mewujudkan impian mereka.

Dosenku bertanya, “Kalau di Indonesia jumlah perempuan lebih banyak, kenapa pake ada kementrian negara pemberdayaan perempuan?” Saya jawab dengan serius, “Karena di Indonesia masih banyak laki-laki dengan pemikiran seperti Haryono Dok”. Kata Serena di Gossip Girl, “Some men just are who they are.”

Keep dreaming and keep making them come true.

Advertisements

launching a new gallery: http://ajengmd.tumblr.com

December 26, 2009 § Leave a comment

Introducing our partner site, a brand new visual gallery, LOOK. LISTEN. FEEL. on http://ajengmd.tumblr.com

The gallery will also feature selected writings from Docere.

-multatuli-

Image of The Day: Electronic Refugees

December 23, 2009 § Leave a comment

Starting from now I will try to capture an interesting thing everyday on a camera-phone, and see if it’s interesting enough to make its way to this blog (whether the picture itself, or the story behind the picture).

I have to credit my friend Isky at http://twitter.com/iskyd for the inspiration =)

And this time, UNFORTUNATELY, it’s this one.

A fish bowl is placed just where all the computer stuff in my house is located. Suddenly the glass bowl decided it wouldn’t hold any longer and broke into pieces. No worries, the fish was immediately rescued off the floor and placed in a smaller, yet comfortable new home/flower vase.

This whole fiasco of course caused a major flood in the computer room and we needed sometime to dry, mop, wipe the wet surfaces and devices.

The electronics needed to be evacuated to a dry area until further notice as they actually got pretty bad splash from the water. As you can see here, the refugees are: a flat screen, a CPU, a wifi router, a modem, and a phone/fax/printer device.

The Electronic Refugees

The modem and wifi was luckily completely wet-free and was immediately put back on duty (hint: now I’m already blogging again and uploading this news). Here you see how the fish is still so jolly in the new home; and the modem is back in service after the traumatic and wet event.

-multatuli. 231209-

Soe Hok-gie …sekali lagi

December 22, 2009 § 2 Comments

Bahagia banget. Hari ini beli buku baru di sebuah toko buku diskon yang baru buka, gara-gara lihat di Kick Andy. Cuma ada 3 di toko buku tersebut, uda gtu lihat harganya, “Rp.50.000,-“. Oke lah, alhamdulillah sanggup beli (*sebenernya, apa sih yang nggak buat buku…) Tapi… nyaris pingsan kesenengan di depan kasir waktu denger kalo setelah diskon harganya jadi Rp.37.500,- !!! Subhanallah…!!! God bless discount book stores!

Akhir kata, bacalah bacaan bermutu. Dan semoga wawasan, imajinasi, dan motivasi kita senantiasa berkembang…

-ajeng. 22/12/2009-

http://docere.antiblog.com

dreaming big and making it happen

December 20, 2009 § 2 Comments

I was thinking last night. Maybe I’m slightly different now than what I used to be. Maybe I’ve become this boring adult who works all the time and being too satisfied with myself. I don’t even sound like a person I’d myself like.

In 2006 I was an enthusiastic young adult wanting to explore just how big the world is, and yet, how similar we all are as human being. I was in the world of NGO, and was mesmerized by it. I got inside the UNESCO building in Paris for God’s sake, staring straight at the Eiffel Tower. I even had a discussion in one of the building’s conference room. I was in Paris, acting like I belonged there (the truth is, I would’ve enjoyed living and working in Paris). I was even offered a staff position in one of the organizations under UNESCO (I’d be “poor” in Paris’ living standard, but I’d be a part of a force that tries to bring the human race together and encourage world peace. And I must say I’m just the “right” ambassador of Islam to the world). I was this lovable, multicultural happy hippie. The work offer was amazing, but I knew if I left my medical education to work in Paris for 1 year I might not finish it at all. I just had to channel my passion and enthusiasm through medicine.

In 2007 I was this curious beginner in the world of academics, trying to see all the possibilities in a familiar European country. Forget about wishing I’d be back to that country. Damn, I was busy figuring out what I wanted to do when I’d get back (yes, I was that certain that I would be back and working there). It was the first time I got bored and annoyed by an international flight, and I just thought, “I better get used to this, because this is my future, endless international flights just for work”. Is that optimism or overconfidence? I was introduced to an “almost professor” who had immigrated from a less wealthy country, and my professor at time looked at me with a strange smile like she knew something, she said intensely, “It can be like that”. It was just a beginning for me. It was my utopia. I traveled. I studied. I taught. I learned. I was again working in an international community. I was enthusiastic, and as passionate as ever. And I knew I’d be coming back for more.

It’s 2009, and I guess we’ll see what comes up next. Live it and enjoy it I’d say. I still want to be that girl who’s amazed by every new place in the world I stepped my feet on. I still want to have that adventurous spirit, that explorative desire, and that intensity in living and appreciating life.

Maybe I’m different now in a sense that I’m a little bit older, a little bit more aware of choices and consequences; a little bit too self-conscious but apparently not self-conscious enough. But I hope I’m still that same girl in that UNESCO building: a girl who was dreaming big and making it happen.

ajeng. 20-12-2009. http://docere.antiblog.com

Shocking Pink

December 20, 2009 § Leave a comment

This colour exists in nature… SHOCKING PINK!

We found this in a garden in Kaliurang, Jogja.

Bella and Edward in abusive relationship: all the wrong lessons girls learn from Twilight

December 14, 2009 § 2 Comments

Just sharing these posts, as it is most likely even our daughters watch Twilight some 15 years from now 🙂

This is someone else’s work, I credit them and provide the original link. No copyright infringement intended.

*

http://shelf-life.ew.com/2009/12/01/edward-bella-abusive-relationship/

Are Edward and Bella in an abusive relationship?

I’m the first person who’ll tell you how important the Twilight series is — not from a literary standpoint, mind you, but more from a reading standpoint: These are books that get kids reading. And yet, as a feminist and the mom of teenage daughters, I’ve also got some problems with them — namely, their depiction of women and relationships. Why does Bella always need to be rescued by men? Can’t she rescue herself occasionally? Heck — can’t she even drive herself places? (In New Moon, whenever she’s in her truck with either Edward or Jacob, they’re the ones driving.) Why do all the male vampires have college degrees, medical degrees, and so forth, while — SPOILER ALERT FROM ECLIPSE AND BREAKING DAWN!!! — Bella gets married fresh out of high school, with nary a word breathed about higher education? And then, when she becomes pregnant, why does she emphatically refuse an abortion, even though the pregnancy is killing her? (Let me be clear: I’m not saying it’s wrong for a woman to choose marriage and motherhood, or wrong for her to decide against college. But Bella is still a kid, even in Breaking Dawn.)So last week, in his excellent blog post, movie critic Owen Gleiberman compared Edward to a stalker. And yesterday, in “Is Team Edward Enabling Domestic Violence?”, GalleyCat’s Ron Hogan called my attention to a LiveJournal post describing how the Edward-Bella romance has all the earmarks of an abusive relationship as defined by a national domestic violence group: “Does your partner look at you or act in ways that scare you? Check. Make all the decisions? Check. Threaten to kill you? On their first date….”

Hmmm. what do you think?

*

http://www.wired.com/underwire/2009/11/twilight-lessons-girls-learn/

Top 20 Unfortunate Lessons Girls Learn From Twilight

By John Scott Lewinski

In the spirit of speaking truth to diamond-skinned power, enjoy this list of unfortunate lessons girls learn from Twilight. (The list operates under the principle that any grownup female who embraces Twilight’s junior-high dreck temporarily sacrifices her “woman card.”)

And so, with an insincere “love is forever,” we begin.

  1. If a boy is aloof, stand-offish, ignores you or is just plain rude, it is because he is secretly in love with you — and you are the point of his existence.
  2. Secrets are good — especially life-threatening ones.
  3. It’s OK for a potential romantic interest to be dimwitted, violent and vengeful — as long as he has great abs.
  4. If a boy tells you to stay away from him because he is dangerous and may even kill you, he must be the love of your life. You should stay with him since he will keep you safe forever.
  5. If a boy leaves you, especially suddenly (while telling you he will never see you again), it is because he loves you so much he will suffer just to keep you safe.
  6. When a boy leaves you, going into shock, losing all your friends and enduring night terrors are completely acceptable occurrences — as long as you keep your grades up.
  7. It is extremely romantic to put yourself in dangerous situations in order to see your ex-boyfriend again. It’s even more romantic to remember the sound of his voice when he yelled at you.
  8. Boys who leave you always come back.
  9. Because they come back, you should hold out, waiting for them for months, even when completely acceptable and less-abusive alternative males present themselves.
  10. Even though you have no intention of dating an alternative male who expresses interest in you, it is fine to string the young man along for months. Also, you should use him to fix things for you. Maybe he’ll even buy you something.
  11. You should use said male to fix things because girls are incapable of anything mechanical or technical.
  12. Lying to your parents is fine. Lying to your parents while you run away to save your suicidal boyfriend is an extremely good idea that shows your strength and maturity. Also, it is what you must do.
  13. Car theft in the service of love is acceptable.
  14. If the boy you are in love with causes you (even indirectly) to be so badly beaten you end up in the hospital, you should tell the doctors and your family that you “fell down the steps” because you are such a silly, clumsy girl. That false explanation always works well for abused women.
  15. Men can be changed for the better if you sacrifice everything you are and devote yourself to their need for change.
  16. Young women should make no effort to improve their social skills or emotional state. Instead, they should seek out potential mates that share their morose deficiencies and emotional illnesses.
  17. Girls shouldn’t always read a book series just because everyone else has.
  18. When writing a book series, it’s acceptable to lift seminal source material and bastardize it with tired, overwrought teenage angst.
  19. When making or watching a major feature film, you should gleefully embrace the 20 minutes of plot it provides in between extended segments of vacant-eyed silence and self-indulgent, moaning banter.
  20. Vampires — once among the great villains of literature and motion pictures — are no longer scary. In fact, they’re every bit as whiny, self-absorbed and impotent as any human being.

Since the writer of this piece is clearly not female, the list came together only after discussing Twilight at length with women who enjoyed and detested the book and the first two movies. Olivia Dunkley, Vanessa Fewings, Rosie Lewinski and Beth Ann Lewinski contributed to the article.

**

Where Am I?

You are currently viewing the archives for December, 2009 at Docere.