Girl, Guy, Drugs and The Divine

May 20, 2009 § 13 Comments

Transkrip dari pembicaraan dua orang teman lewat MSN Messenger… Mungkin dari yang sederhana muncul pemikiran tentang jalan hidup…

Rendi: tak sambi nonton “knowing” yah..

Wulan: aku juga lg nonton buffy the vampire slayer

buffy_season5_cast

Rendi: film kuno itu?

Wulan: yes, the legend. all 7 seasons, marathon. mataku sampe picek, sehari nonton 6 jam

Rendi: haha… sikap rakus tuh ada akibatnya, yah

Wulan: serem deh, tadi sore aku mimpi in english, english! bahkan mimpiku bukan bilingual. dan ada buffy dkk tentunya…

Rendi: hahahaha…sampe segitunya..

Rendi: aku pernah mimpi aneh juga,

Rendi: mau tau?

Wulan: apa????????????

Rendi: aku memimpikan cewek yang dah punya cowok

Rendi: sementara di saat yang sama, aku lagi mengejar wanita lain

Rendi: aneh, berkali-kali mimpi dia

Rendi: emang tiap hari ketemu di kantor, sih

Rendi: tapi yang gak habis pikir, aku lagi kejar cewek lain

Rendi: dan dia dah punya cowok

Rendi: kok bisa2nya mimpi dia

Rendi: berulang kali lagi

Rendi: argh..

Wulan: you are subconsciously obsessing the unobtainable

Wulan: whether you’re looking for challenge

Wulan: or seriously interested in her

Wulan: or you just wont let urself to seriously pursue the other girl

Wulan: “creating a distraction for yourself”

Wulan: but hey, im not Sigmund Freud

Rendi: c’mon…

Rendi: aku lagi ngejar wanita lain, kok,

Rendi: dan benar-benar dibikin pusing ama wanita yang aku kejar

Wulan: you tell me

Wulan: emang napa? emang napa jd pusing ma ce itu

Rendi: cewek yang mana?

Wulan: ih susah deh diajak ngomong, you need Ritalin maybe

Ritalin-SR-20mg-full

Rendi: ritalin apa, tuh?

Wulan: look it up

Wulan: it’s a drug for ADHD heheee

Wulan: bcanda

Rendi: ADHD?? c’mon…

Rendi: ce yg aku kejar  playing hard-to-get, 5 bulan pdkt

Wulan: corner her and ask her what she wants

Wulan: you’re the guy

Wulan: u have to be fast and furious, jangan smpe kamu yg playing hard to get

Rendi: i’ve cornered her

Rendi: and, finally, she rejected me

Wulan: hahahaaa

Wulan: ups sorry

Rendi: after rejecting for few times

Wulan: ih… that sucks

Wulan: does she give u a reason? soalnya ada rejection yg “we’re never gonna work out”, ada yang “hm… let’s see in a little while if I can like you”

Rendi: first, kenapa bilang “ih…that sucks”???? bukannya biasa aja ditolak?

Wulan: yah, well kalo aku jadi cowo sih, aku akan brusaha mikir gmana caranya jangan smpe ditolaknya five times

Wulan: jangan2 emang ngga compatible… gtu, dan kalo ngga nyadar kan sucks (ngga nyadar kalo ngga compatible)

Wulan: hey, that’s just me loh, this is strictly my POV

Rendi: okay…

Rendi: aku sendiri dah mikir berkali-kali, dan mendekati lagi dengan metoda yang berbeda-beda

Rendi: why r u so into her gak usah dijawab lah, klasik

Rendi: yang jelas bukan kacangan,kayak anak kecil

Rendi: itu di luar domain pembahasan

Rendi: dia bilang, awalnya sih memang tertarik dan mau sama aku, tapi, “setelah aku pikir lagi, aku ternyata gak suka ama kamu,” dia bilang begitu

Wulan: hah

Wulan: aneh

Rendi: jujur, aku merasa dipermainkan juga, kok

Wulan: okay, the possibilities are…

Wulan: a. she’s bothered by u, thus the super explicit rejection

Wulan: b. she’s in love wit someone else, thus the super explicit rejection

Wulan: c. she’s NOT interested in ANY relationship at the moment, so she’s deliberately pushing u away as far as possible

Rendi: a, tidak mungkin: dia justru mengontakku kalau aku tidak mengontaknya setelah sekian waktu

Rendi: b, bisa jadi: berulang kali dia menyinggung lagu yang bertema seperti itu, tapi sepertinya itu cowok not interested in her

Rendi: c, bisa jadi: kelakuan dia menunjukkan yang ini juga

Rendi: it’s ok, then

Rendi: dia dah nolak untuk terakhir kalinya

Rendi: dan dia dah ganti nomor HP (aku tahu dari status Facebook-nya)

Wulan: wow

Rendi: dan, don’t worry, aku gak ingin mengontak dia lagi, kok

Rendi: ini dia lagi OL

Rendi: tapi aku cuekin ajah

Rendi: kenapa ‘wow’?

Wulan: she’s not into you, for whatever reason. masih suka ato masih penasaran nih km?

Rendi: udah nggak lagi

Rendi: andai dia menawarkan diri di depanku sekalipun, aku gak akan minat. itu ilustrasi terbaik yang bisa kuberi

Wulan: well, nothing is bothering u then

Rendi: iya, emang. tapi dia dah bikin aku untuk tidak mempercayai tanda-tanda yang diberikan oleh lawan jenis lagi – tanda penerimaan, maksudnya

Wulan: haduh… dont let this traumatize u man… she’s just one girl

Rendi: at least, untuk saat ini, “In skepticism we trust

Wulan: haha… anthem of the fractured liver

Rendi: hahaha..

Wulan: the right time, the right person…

Rendi: dan aku yakin tidak akan seribet ini

Wulan: hehe, mungkin ak selfish, tp klo aku emang sukanya yg ngga ribet, yg ngga banyak berantemnya

Rendi: iya,  , aku juga begitu

BUZZ!!!

Rendi: mending mikir karir dulu, lah

Wulan: hm

Wulan: hehe…

Wulan: itu juga soal tipe

Wulan: aku ngga bisa sm cowo manja, karna aku manja. bukan manja SMA, manja dewasa…

Wulan: jadi next time perhatiin baik2 dulu nih, dy gmana orangnya

Wulan: intuisi bisa bener, tapi ngga menggambarkan 100% keadaan orang itu. u can be intuitive but perhaps only about some part of that person, not the rest

Rendi: i believe in intuition

Wulan: me too

Rendi: aku sering menyelesaikan persoalan matematis dengan menggunakan intuisi,

Rendi: and i believe in that

Rendi: berbagai persoalan, sih, bukan matematika saja. Kadang tau sesuatu sebelum terjadi..

Wulan: that’s a lot of burden, knowing the inevitable

Rendi: dulu aku masa bodoh, dan anggap yang gaib itu takhayul semata

Rendi: dan omong kosong para kyai

Wulan: people perceive what they’re able to..

Rendi: awalnya sih aku gak ngerti,  , bisa ngerti atau tidak

Rendi: dan, itu tak bisa diminta

Rendi: datang sendiri

Wulan: iya iya…

Rendi: maksudnya, kalau ditanya pun, aku gak bisa menjawab

Rendi: tapi ngerti

Wulan: well, that’s a big responsibility

Rendi: punya bakat kali yah,

Rendi: soalnya semua kakekku tergolong orang yang kayak gitu

Wulan: mesti

Rendi: jadinya nurun

Wulan: iya

Rendi: at least, punya potensi untuk jadi gituan juga

Wulan: im a person of medical science, i believe that things are inherited and passed on automatically

Rendi: meskipun yang berbau metafisik?

Wulan: yes

Wulan: there is a God spot

Wulan: i believe there’s a portal for increased perception, increased sensitivity

Rendi: frontal lobe?

Rendi: ada yang bilang meditasi meningkatkan kapasitas frontal lobe

Rendi: hahaha..frontal lobe, terlampau fisik

Rendi: dan, memang, aku jadi semakin sering berhubungan dengan dunia macem gitu setelah sering meditasi

Wulan: i am more into the biomelucular processing of things, the biochemical processing of anything physical can be transformed into the mental/spiritual, vice versa

Rendi: shalat, dzikir, dan ngaji diperbanyak

Rendi: phuh…emang bisa,  ? baru tahu aku

Rendi: dunia kedokteran mengakuinya?

Wulan: if you look into it, iya. some people are doing these research

Wulan: yg gampang, kaya mental disorder, semua bisa karena ngga seimbangnya neurotransmitter di otak, ada jenis tertentu yang kebanyakan ato justru kurang

Wulan: drugs bisa bikin divine sensation

Wulan: enlightment ato awareness, itu juga menurutku karena increased sensitivity of the spiritual area of the brain

Wulan: banyak cara menuju ke situ

Wulan: solat, zikir, ngaji, meditasi, puasa, drugs

Rendi: btw, emang ada spiritual area di otak?

Rendi: btw, jadi, secara ilmiah, mungkin sekali kan Nabi Muhammad mengetahui semua realitas? karena memiliki kepekaan yang sangat tinggi

Rendi: begitu, bukan?

Wulan: menurutku iya, prophets have that. Wallahu’alam

Wulan: aku percaya bahwa all the divine experience of the prophets adalah karena mereka bisa mengakses a trancendent experience through their biological existence

Rendi: phuh, bahasamu, lan!! I like it!

Rendi: thanks, yow

Wulan: Nah.. tapi aku juga percaya bahwa akses ini adalah ijin Allah

Wulan: dan dari yang aku baca sih, (al-hikam terjemahannya syekh fadhlalla, punya serambi), kalo beginian ikhlas aja, because it is given to you as a gift. as anything that is given, it can be taken away as well

buku_Al-Hikam_baru

Wulan: so, enjoy what ur entrusted with

Rendi: hahaha….iya, kayaknya sekarang diambil lagi, deh

Rendi: kurang peka lagi,

Rendi: sekarang kurang peka

Wulan: mungkin bsa usaha untuk peka lagi, tapi usaha ngga berarti otomatis bisa peka lagi

Wulan: ada faktor “gift”nya kan

Rendi: tapi, kalau gak ngaji, aku stress

Rendi: makanya, sekarang ngaji lagi

Rendi: jadi kecanduan

Rendi: iya, ngerti aku,

Rendi: ada faktor ‘gift’nya tadi

Rendi: tapi emang bener, kok, dengan mendekatkan diri pada Tuhan maka diri kita jadi tenang

Rendi: sepertinya dengan mendekatkan diri pada Tuhan, writer’s block bisa hilang

Wulan: Kata Too Phat, Sajadah is where the boot is

Rendi: apa tuh artinya?

Wulan: so, inspirasi emang perlu dicari…

Wulan: well, kalo sajadah is where the boot is, jadinya kita bisa nemuin Allah di manapun kita berada, we can serve Him wherever we are

Wulan: dan… as you say, The Divine can be the greatest inspiration

Wulan: jadi… as long as there’s a place where u can find calmness, beauty, love, that’s a place of inspiration. as long as you can see the source of that beauty and love

Wulan: I think selama bisa melihat The Divine di manapun kita melangkah, ke manapun kita melangkah kita bisa mendapatkan inspirasi itu

Rendi: hmm..intinya, jika kita menja an Allah sebagai tujuan kita, maka kita tak akan merasakan kesulitan itu, bukan?

Rendi: hanya dengan mengingat Allah, kita menjadi tenang

Rendi: barangsiapa yakin mendapatkan air, tak merasakan dahaga

Wulan: Kalo Allah sebagai tujuan yang sulit pun Insya Allah terlewati dgn mudah

Rendi: air=rahmat Allah, sepertinya begitu

Wulan: yes

Wulan: bersyukur aku bisa pegang paradigma dan keyakinan itu through challenges, hardship, heartbreaks…

Rendi: nah, yang sulit, tuh…meluruskan niat dan tujuan, kan,  ?

Rendi: gimana tuh biar tumbuh kesadaran semacam gitu terus yah…???

Wulan: Niat dan tujuan itu juga gift. seumur hidup mencari tanpa dapet juga bisa terjadi

Wulan: kalo kata seorang guru ngaji, the biggest zikir is the simplest one, bismillah

Wulan: Bismillah aja

Wulan: because you’ll never know

Rendi: lha terus cowok2 yg biasa kmu temuin tuh yang gimana?

Wulan: there is no perfect person I guess

Rendi: iya, bener itu, gak ada yang sempurna,

Rendi: yang bisa kita lakukan hanyalah menyempurnakan diri

Rendi: phuh…

Rendi: meluruskan niat, deh, yah

Rendi: jadi dokter, niatnya ridha Allah

Rendi: jadi penulis, niatnya ridha Allah

Rendi: insya Allah ntar jadi yang terbaik di bidangnya

Wulan: amin

Wulan: well, aku kan deeply affected sm paulo coelho’s the alchemist

0446793509a0134145712110.L._AA240_

Rendi: oh, yah?

Wulan: jadi waktu itu jd terbuka aja pikiranku bahwa I will serve through my own destiny. jadi berusaha peka sama “tanda-tanda”, sama hal2 yang dimudahkan Allah buatku. Trus mikir, If this seems like “given” to me then maybe this is my gift, this is my path, my way of serving

Wulan: anyway, tipe cowo yg sama aku?

Wulan: yang comfy dengan kondisiku yang overachiever

Wulan: trus hardworker, apapun yg dia kerjain

Wulan: loyal, caring

Wulan: jadi soal minat kita ada perbedaan nggak masalah

Rendi: kayaknya  kamu niy, sebagai cewek dan manusia, memiliki definisi berbeda tentang hidup yang comfortable, yah?

Rendi: bener nggak?

Rendi: at least, dibandingkan dengan wanita lain pada umumnya?

Rendi: how do you define comfortable?

Wulan: Well, financially, comfortable is having more than enough in terms of money. That’s unexpected for someone like me, tapi that’s what i believe in.

Wulan: trus… have a family that is a place to come home to. rumah bukan cm tempat tidur, tapi a loving and supportive environment

Wulan: trus Live for something we believe in, having something we dedicate our life to

Wulan: yang paling penting, seorang cowo yang maklum kalo aku fighting so hard to achieve something, karena pekerjaanku is more than just a career for me, it’s my service to God. My work is my prayer

Rendi: keren…

Wulan: hahaaa

Rendi: amin..

Wulan: amin

Rendi: muga2 terkabul

Wulan: amin

Wulan: and you?

Wulan: sebagai cowo nih…

Wulan: what’s comfy to you?

Rendi: 1. memiliki keluarga/pasangan yang bisa memahami apa yang aku lakukan

Wulan: gila, listed numbers

Wulan: trus?

Rendi: 2. melihat ideku banyak dijalankan oleh orang2

Rendi: 3. bebas mengekspresikan diri tanpa terpikirkan permasalahan finansial (berpikir untuk berekspresi saja, tanpa memikirkan risiko finansial)

Rendi: tentu saja, yang ke-3, tuh, disertai oleh pertimbangan kondisi keuangan yang mantap

Rendi: keluarga harus  asih makan, to,

Rendi: 4. bisa mengalahkan dominasi atas diri sendiri

Rendi: ..yah, sepertinya itu saja,

Wulan: itu poin ke-3 adalah di mana pemikiran sexist-ku muncul

Wulan: coz im a girl, i’m not directly responsible for the financial well being of the family

Rendi: hahahaha..terus??

Wulan: curang ya… I thought, my husband has to be the one who makes money, I want to live doing what I love. Tapi trus aku dimarain nyokap begitu bilang gitu

Rendi: yang penting, keluarga tercukupi sandang dan pangannya,  . gitu saja

Wulan: nyokap bilang “ce harus punya uang sendiri, harus makes money sendiri, ngga boleh entirely dependent”. That’s just how I’m raised in my family

Rendi: aku setuju dengan ibumu,

Rendi: aku pun begitu, lebih suka wanita yang bekerja juga

Rendi: mengapa???

Wulan: km ky pak guru deh, mengucapkan kata2 retoris

Rendi: karena wanita yang juga bekerja cenderung memiliki penghargaan yang lebih tinggi terhadap materi itu sendiri

Wulan: aha… bener juga

Wulan: never thought about it that way

Wulan: iy iya…

Rendi: iya, emang begitu

Rendi: dan, keluarga yang wanitanya turut bekerja, cenderung memiliki anak-anak yang berkualitas lebih tinggi daripada wanita yang gak bekerja

Rendi: kalau menurut perhitungan, interaksi dengan anak berkurang

Rendi: tapi, pada kenyataannya, teman2ku yang ibunya gak bekerja malah gak karuan sikapnya

Rendi: secara akademis pun buruk

Rendi: demikian pula dari segi kognitif dan attitude

Wulan: iya bner

Wulan: kognitif n sikap, setuju

Wulan: i think I never think twice about working women, ato ambitious working women

Wulan: yang penting seorang ce sadar sama pilihan2 yang dia buat dan bisa bertanggung jawab

Rendi: ngomong2 masalah kesadaran..

Wulan: wazzup

Rendi: sekarang, banyak orang yang gak sadar akan dirinya sendiri,

Rendi: banyak kok yang gak tau hidup itu buat apa

Rendi: kita lumayan teringat gara2 diskusi barusan

Rendi: padahal, diskusi kayak yang kita lakukan ini jarang sekali disinggung ama orang

Rendi: yang diomongin kebanyakan masalah mendapatkan kekayaan tanpa henti

Rendi: yang terus bekerja untuknya meski dia dah mati

Wulan: iya…

Rendi: phuh…kita hidup di dunia materialis yah..

Rendi: atau…dari dulu dunia emang bersifat materialis,  ?

Rendi: perasaan zaman Fir’aun pun dunia dah gini

Wulan: well, ada good example di the alchemist, tentang seorang pedagang kristal yang seumur hidup mencari uang… karena tujuan hidupnya, yg baru tercapai pas dia tua adalah bisa naik haji

Wulan: the point of his life is to try meeting God. that’s a beautiful illustration.

* Ajeng, 20-5-2009. https://freedocere.wordpress.com

Advertisements

Tagged: , , ,

§ 13 Responses to Girl, Guy, Drugs and The Divine

  • Hanif says:

    Nice

  • Sari Q says:

    S’times,Big things begin from simple things..like chatting. 😛

  • isky says:

    ‘before sunrise’ versi chatting

  • Paramitha Khairan says:

    Inspiring!!!!:)
    Walopun agak2 “flight of idea”:),tapi ini obrolan 2 arah yg asik krn berkembang terus..
    btw,ttg paragraf ini,”jadi… Read More… as long as there’s a place where u can find calmness, beauty, love, that’s a place of inspiration. as long as you can see the source of that beauty and love” menurutku,”the place” itu bisa di mana aja,asal dg org tertentu.ada kan org2 yg bisa ngeluarin sisi terbaik kita,plus membuat kt ngrasa nyaman n terinspirasi..:)
    Btw,obrolan ini kalo mau dijabarin satu2 bisa jadi banyak tulisan yg beda2 lho!:)

  • Ulin says:

    whaaa.. too many ideas hit me by this notes..need some more time to read and think..thank’s for the great share sis!

  • Tita Paramitha says:

    COOL!! and deeply sweet…

  • Gina says:

    Weleh2 say.. Elo emang lahir mjd inspirator u smua orang dgn pandangan luas srta wawasan luas lo ec hobi baca elo..
    Kembali tulisan ini menggelitik hati gue..
    Kembali n terus diingatkan akan sosok itu n 7an hdup qt..
    Jeng,elo cm satu2ny di dunia ini,dan gue bangga jd temen elo (wedew..gk nyambung ma topikny ya? Hehe)
    thx y say….. Read More
    For always remind me
    ^^

  • FaRid SoLaNa says:

    Akan ada suatu masa dimana diberlakukan sistem copyright pada transkrip chatting..hahaha…

    Itu Rendi dan Wulan kayaknya keren banget isi otaknya, yah.
    Dari hal sepele bisa berkembang ke berbagai macam topik.

    Perasaan diawali dengan saling menyapa, dan disambi nonton film: Rendi nonton “Knowing”, dan Wulan nonton “Buffy the Vampire Slayer”, deh.

    Tapi kemudian berkembang menjadi topik ketuhanan hingga membahas epistemologi dan status ontologi pengetahuan itu sendiri.

    Rendi dan Wulan emang top!

  • Ajeng says:

    Hm, sistem copyright untuk blog jelas udah jalan, seperti yang terpampang di blog ini, hahaaa…

    Nggak banyak orang kaya Wulan dan Rendi di dunia ini… mereka secara aktif mengembangkan pengetahuan dan wawasan mereka, berani punya interest di luar bidangnya. Cocok banget temenan…

    Pembicaraan epistemologi itu juga jarang2 dibahas Wulan, tau sendiri, kalo yang nggak terbiasa baca2 hal seperti itu bakal ngrasa “ni orang2 aneh banget…”

    Btw, kapan ya mereka ngomongin The Tao of Islam? Rendi udah baca buku itu belum ya…

  • FaRid SoLaNa says:

    Wah, Tao of Islam…..???

    Karya Sayyed Hosein Nasr, yah??
    Kali Rendi dah baca..

    Kalo aku sih, blom…
    Yang udah mah Tao of Physics, karya Fritjof Capra…

    hehehehe…
    Rendi dan Wulan emang aneh..

  • Ajeng says:

    Tao of Islam yg nulis Sachiko Murata, dia ahli sufisme dan muslim, perempuan dan orang Jepang tentunya. Kombinasi yang secara demografis dan intelektual sangat menarik.

    Sayyed H Nasr yang pernah kubaca salah satunya Heart of Islam, yang bersyukur banget kubaca sebelum aku berdiskusi sama temen2ku yang atheis di Eropa, bagusnya gayanya kan inklusif dan logis, jadi alur pemikiran dalam menjelaskan Islam itu sangat bisa diterima temen2ku itu.

    Tapi untuk kategori buku tetep di saat gundah gulana, Al-Hikam is the best!

  • Ajeng says:

    Oya, Tao of Islam, compare and contrast Taoisme dan Islam, dualisme yang ada di keduanya.
    Bagus banget…
    Bahkan ada tafsir yin-yang dari Al-Fatihah… buku yang sangat mencerahkan. Termasuk salah satu buku yang mengubah hidupku.

    Btw suami Sachiko Murata itu William Chittick, penulis literatur sufisme yang super produktif. Bener2 super couple…

  • erviana agustiani says:

    l love this conversation..i like this blog
    ngasih banyak inspirasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Girl, Guy, Drugs and The Divine at Docere.

meta

%d bloggers like this: