tentang feminisme

March 3, 2009 § 7 Comments

Apakah salah menjadi feminis, sampai harus apologetik dan menyangkal bahwa seseorang bukanlah seorang feminis? Apakah hanya perempuan yang berpikiran feminis?

Kebenaran umum yang telah saya jumpai sendiri adalah bahwa feminisme sering disalahtafsirkan.

Menurut Aquarini Prabasmoro dalam Kajian Budaya Feminis (2006), salah tafsir sering terjadi karena feminisme dianggap sebagai budaya barat (dengan segala atribut negatifnya), dan atau sebagai gerakan yang membenci laki-laki atau penganut seks bebas.

Pada diskusi pribadi saya dengan Daydreamer hari ini saya menanyakan langsung, apa yang membuatnya cenderung memandang feminisme dengan apriori dan kecurigaan. Ia mengatakan bahwa tanpa sadar, ia sendiri terbawa arus pemikiran “pada umumnya”/mainstream (yang menganggap feminisme adalah sesuatu yang berbahaya atau ofensif). Saya katakan bahwa saya cukup terkejut dia berpandangan seperti itu, karena buat saya, keseharian dan pandangan hidupnya sendiri cukup merefleksikan apa yang akan saya sebut feminisme.

Saya tidak pernah menganggap bahwa feminisme itu sesuatu yang dimiliki “perempuan tertentu”, atau sebagaimana pandangan mainstream. Mungkin walau saya belum pernah membaca tentang feminisme sampai 2 hari yang lalu, saat SMU saya pernah membaca sampul buku yang kurang lebih berkata Nabi Muhammad adalah seorang feminis. Saya lupa judul tepat maupun penulisnya. Ini juga diungkapkan kembali oleh Aquarini

…seorang Nasarudin Umar menulis buku Argumentasi Kesetaraan Gender yang merupakan ekstrak dari disertasi doktoralnya.  Ia membahas betapa pemaknaan terhadap Al Qur’an sangat patriarkal dan menunjukkan bahwa Al-Quran mengandung banyak nilai feminis, bahkan Nabi Muhammad juga dapat dikategorikan sebagai seorang feminis.

Hal ini juga pernah saya baca, bahwa teks Quran harus dipahami sesuai konteks masyarakat saat diturunkannya. Intinya, bukan teks eksplisit mengenai perempuan, namun kerangka pemahaman yang berupa kemajuan untuk perempuan yang dibawa Islam ke masyarakat Mekah dan Madinah saat itu.

Pada dasarnya, laki-laki dan perempuan yang menyadari adanya ketimpangan struktur (misalnya, bahwa perempuan HARUS bekerja di rumah dan laki-laki di luar rumah) adalah seorang feminis, tidak masalah jika ia tidak mau disebut feminis. Mata yang terbuka terhadap adanya ketimpangan ini membuatnya secara de facto menjadi feminis. Namun, pemikiran dan gerakan feminis lahir dalam konteks tertentu, baik budaya, agama dan interpretasi terhadap agama, ras, etnik, dan pengalaman kelompok maupun individual. Tidak ada satu macam feminisme; yang ada adalah feminisms, bentuk jamak, bukan hanya feminism.

Menurut Aquarini pula, yang juga saya setujui, tuntutan bahwa perempuan harus “credible di luar rumah dan perfect di dalam rumah” merupakan kekerasan terhadap kemanusiaan perempuan, sebagaimana tuntutan agar perempuan selalu melayani suami di rumah dengan mengabaikan kebutuhannya sendiri juga merupakan kekerasan. Menurutnya, menjadi perempuan adalah menjalani hidup dengan sebaik-baiknya sesuai pilihannya sambil menyadari bahwa pilihan atas suatu hal dapat menyebabkan berkurangnya kemampuan untuk memenuhi kewajibannya atas yang lain.

Mungkin pelabelan “feminis” bukan hal yang diperlukan. Yang saya tahu, saya risih jika melihat kondisi perempuan yang masih tak berdaya dalam tuntutan laki-laki ataupun lingkungannya yang tidak realistis. Saya menjalani keseharian dengan berpikir bahwa saya tidak memiliki hak yang lebih sedikit dibandingkan laki-laki, dalam hal usaha, cita-cita maupun pencapaian. Dan mungkin ini lebih mudah buat saya karena menjalani bidang yang saya jalani sekarang, yang kini cenderung lebih banyak digeluti kaum perempuan. Semua kembali pada “nature” dan “nurture” kita. Wajar jika semua orang memiliki pandangan berbeda karenanya.

ajeng. smg 3-3-09

094-kajianbudaya1

Penerbit: www.jalasutra.com

Advertisements

Tagged:

§ 7 Responses to tentang feminisme

  • anggi says:

    setauku,kaum feminis tu sangat mengagung2kan kaum wanita.jgn mau dilecehkan-lah..jgn mau dijadiin istri kedua-lah..jgn mau dipandang sebelah mata-lah.plis deh…kalo g mau dilecehkan,ya jgn pake baju merangsang-lah.biasanya mreka bakal bilang..itu wujud ekspresi,tubuh wanita emang indah..itu semua tergantung laki2 yang liat.
    naa..masalahnya pria ga bisa diandalkan dalam hal ini (duh,jd sensi ni)

    masalah istri kedua.mnurutku ga usah dibikin rumit..wanita banding pria 3 banding 1.mgkn emang harus pnya istri lebih dari 1,biar adil.kalo dengan begitu, bisa bikin pengangguran berkurang, bisa bikin makmur.why not??? tapi, emang harus bertanggungjwab sih,ga bisa sembarangan…

    jadi, ga salah jadi feminis, tapi mbok ya jangan keterlaluan-lah.bikin pusing saja..maksudku tiap manusia punya kelebihan,kekurangan,hak, n kewajibannya masing2.tugas manusialah untuk membuat segalanya berjalan seimbang, sesuai kodratnya, sesuai porsi mereka di dunia ini.

    itu kalo definisiku tentang feminis itu bener loh,jeng..aku harus cari kamus dulu nihh..bye..bye!!

  • multatuli says:

    …dari dr, Gina:

    Jujur,mpe skrg gue blm pernah baca apa definisi feminisme sebenarnya.
    Buku yg loe pernah liat itu gue jg pernah tau jeng, bhw nabi muhammad saw mmg seorang feminisme, dan islam memang sangat mjunjung tinggi hak perempuan..
    Namun,d jaman yg serba cepat n dtuntut serba bisa,tampakny apa yg brlaku d jaman rasul gk bsa 100% diterapkan u saat ini..
    Gue setuju bhw memang sudah kwajiban qt sbg prempuan u mjadi istri n ibu yg baik,
    namun..
    Hdp penuh pilihan dan setiap pilihan mengandung konsekuensi.
    So, gak ad salahny para wanita yg menyadari bhw diriny mampu,bisa,dan memang memiliki kemampuan lbh d bidang karier (yg notaben adalah kewajiban pria sbg pmbri nafkah) u maju n mengembangkan diri..
    Karna itu hak qt sbg wanita, dan d jaman yg serba keras ini, itu juga menjadi kekuatan qt..
    Perempuan sekarang dtuntut (scr lgsg maupun tak lgsg) u menjadi mandiri..
    Dan gue tmasuk yg menganut prinsip ini..
    Namun, bgmanapun islam mengajarkan suami sbg imam keluarga,shg sbg istri hndkny qt meminta izin dan berlaku sebaliknya..
    Jadi,jeng,u gue,elo,n temen2 cewek2 yg lain..qt msti pinter2 milih suami ni,yg memuja qt sbg wanita skali9us memahami kebutuhan qt u diakui setara dlm hal karier.. Dan qt hrs memahami,bhw tgs n tgg jwb sbg perempuan memang berat.. Selama qt mau memahami konsekuensiny dan brtanggung jwb,gue rasa gk ad masalah.
    Menurut gue Feminisme itu kesadaran akan hak dan kewajiban qt sbg wanita..
    Dan terakhir tinggal bgmana persepsi qt u menjalaniny ^_^

    yo go gurlz!

    Cowok2 skrg tmpkny jg lbh menyukai qt yg aktif n bprestasi kok..
    Kan pengaruhny jg baik u calon anak2nya..he2.
    He2,asal ad bts2ny sech (ini yg kdg sulit u dkompromikan)

    Ya kan? (u yg cowok2)

    ^_^

    dari Ayu:
    Banyak orang mikir feminis itu cewek2 bawel yan gak suka cowok. padahal kataku feminis itu bermacam-macam. Cara mereka menjalani pikiran mereka berbeda-beda tapi dengan satu tujuan, menghilangkan penindasan terhadap kaum perempuan. Yang terpenting bagi aku adalah setiap perempuan punya pilihan atas hidup mereka masing-masing. Terserah mereka mau menjadi apa dan bagaimana, asalkan mereka menjalaninya dengan penuh tanggung jawab dan sadar akan konsekuensi setiap pilihan.

  • ganes says:

    menurutku ini lebih pada persoalan istilah,definisi dan pemahaman. Feminisme yang ada diruang publik sekarang mengandung definisi dan pemahaman yang mengarah ke kapitalism.

    banyak orang mengira bahwa kontra-argumen feminisme hanya muncul dari kelompok Islam. Padahal kontra-argumen feminisme juga muncul dari teman-teman yang berpaham kiri dan sosialis.

    Bagi kelompok kiri dan sosialis, feminisme merupakan anak kandung kapitalisme. Ada banyak referensi yang reliable tentang keterkaitan Feminisme dan kapitalism.

    dalam konteks Islam, setahu saya Islam menempatkan wanita dalam posisi yang luar biasa mulia.

  • multatuli says:

    dari Mbak Tyas:

    Tidak ada bukti pasti bahwa wanita dengan pria itu 3 banding 1. Ini biasanya hanya alasan orang yang menjustifikasi poligami saja. Di alam, rasio laki-perempuan biasanya selalu 1:1.
    Tolong berikan bukti poligami membuat kehidupan jadi makmur. Tolong daftar apakah betul semua istri yang dipoligami merasa bahagia.
    Kewajiban manusia mengekang nafsunya dong.
    Lagipula kalo mau dipikir-pikir, dunia ini bakal lebih makmur kalo yang berlaku adalah poliandri bukan poligini. Pikir saja: Satu perempuan, banyak suami: Anak-anak ditanggung oleh lebih banyak laki-laki. *shrugs*

  • multatuli says:

    Wah, mas ganes kelihatannya masih diplomatis nih jawabnya.

    Ini sebenarnya masalah memiliki pendapat pribadi di ruang publik, bedanya, istilah yang digunakan adalah istilah “umum”, milik bersama, walau yang menginterpretasikannya berbeda-beda.

    Berbagai pendapat di forum ini menggambarkan bahwa masih banyak terdapat perbedaan antar individu mengenai feminisme dan keperempuanan.

    @ Anggi: ini sudut pandang yang merendahkan perempuan, dan dengan pandangan seperti ini laki-laki bebas berbuat apa saja karena yang salah selalu perempuan.

    ILUSTRASI:
    dr. Putri (bukan nama sebenarnya), menikah pada usia 25 tahun dengan Ir. Dityo. Mereka sebelumnya berpacaran selama 4 tahun, putus-sambung, alasannya banyak rintangan dari keluarga. Keluarga Dityo enggan menerima Putri karena visi mereka tentang seorang istri yang pantas bagi Dityo adalah yang siap sedia di rumah, menyambut suami dengan rumah yg bersih rapi wangi dan makanan lezat yang dimasaknya sendiri, dan selalu menyiapkan dan melayani kebutuhan Dityo. Putri sendiri sebenarnya adalah dokter yang punya potensi sukses besar kalau memilih untuk memprioritaskan karirnya. Cuma demi cinta, dia memilih untuk menikah lebih dulu.
    Sebelum menikah, Dityo rupanya berharap Putri jadi dokter yang cukup praktek di rumah, sehingga akan senantiasa siap mengurus rumah, suami, dan anak-anak nantinya. Sementara itu ambisi pribadi Putri adalah untuk melanjutkan spesialisasi (di bidang yang cukup melelahkan: spesialisasi anak).
    Putri memutuskan untuk bekerja dan menikah dulu, sementara keinginan spesialisasi ditunda.
    Ternyata setelah dalam kehidupan berumah tangga, semuanya makin berat, setidaknya untuk Putri. Dityo menuntut rumah “perfect”, menuntut Putri menjadi “istri perfect” di rumah, sementara pekerjaan menuntut Putri untuk “credible di Rumah Sakit”.
    Masalahnya ini bukan situasi sembarangan. Putri adalah seorang dokter. Kita sebagai dokter tidak bisa memberi “less than credible” di pekerjaan kita karena tuntutannya adalah merawat pasien (bentuknya termasuk memperbaiki keadaan pasien, mencegah agar kondisi pasien tidak memburuk, menjaga agar pasien selamat). Tidak boleh kurang dari itu. Itu adalah tugas seorang dokter yang tidak bisa ditawar. Dan setelah melakukan ini seharian dengan credible, kadang semalaman (saat jaga malam), sangat manusiawi kalau seorang perempuan menjadi istri yang tidak perfect saat sampai di rumah. We can never be “less credible” as a doctor, so in a way that makes sense, we may be “less than perfect” as a wife. Dan ini adalah hal yang harus dimengerti dan diterima oleh semua suami dokter.
    Sayangnya Dityo belum bisa memahami ini, dan kehidupan rumah tangga adalah jalan panjang yang butuh pembelajaran. Jadi, my heart goes to dr. Putri out there, semoga semua akan membaik dengan waktu.

  • ganes says:

    tahu kok kalo ini pendapat pribadi, itu comment ane di atas juga cuman pendapat pribadi hehehe

  • DayDreamer says:

    Wow… Saya mengakui bahwa ternyata selama ini saya juga telah terbawa mainstream yang telah menyalah-artikan Feminisme sebagai gerakan yang membenci laki-laki atau sebagai bentuk “kemandirian” perempuan yang berlebihan sehingga segala tindak-tanduk seorang Feminis itu cenderung semau gue dan menghalalkan segala cara, misalnya saja seperti yang dipertontonkan dalam film Suami-Suami Takut Istri… atau yang lebih ekstrim lagi adalah suatu peristiwa kontroversial yang pernah terjadi di Amerika Serikat di mana seorang wanita bertindak sebagai Imam Sholat Jumat dengan Jamaah yang semuanya pria… atau berbagai contoh ekstrim lainnya yang dianggap orang banyak sebagai suatu Feminisme.

    Setelah membaca blog Multatuli ini saya jadi punya pemahaman baru mengenai Feminisme, serta merasa tidak perlu lagi bersikap apologetik dan menyangkal bahwa saya adalah seorang Feminis. Malah, saya jadi curiga, jangan-jangan pemahaman mainstream mengenai Feminisme sengaja dibuat oleh pihak tertentu (okay… katakanlah, kelompok tertentu dari kalangan pria…) karena khawatir posisi mereka sebagai “pemimpin” (dalam hal apapun itu) suatu hari akan tergeserkan oleh wanita. Hahaha… Mungkin kecurigaan saya itu terlalu berlebihan ya…

    Baiklah, bagaimana kalau kita berpikir seperti ini saja: kenapa harus ada istilah Feminisme (dengan segala pemahaman dan gerakan yang beragam mengenainya) jika memang sudah seharusnya ada kesetaraan antara pria dan wanita??? Bukankah istilah Feminisme itu sendiri terlahir karena adanya anggapan bahwa pria harus selalu superior terhadap wanita, sehingga menyebabkan adanya kebutuhan bagi wanita untuk menyangkal kebenaran anggapan itu??? Bukankah kita seharusnya bisa menanggalkan atribut ke-gender-an kita untuk berjalan sejajar dan bersama untuk mencapai tujuan-tujuan yang mulia??? Dan itulah sebabnya, tidak perlu ada lagi ketimpangan struktur peran antara pria-wanita.

    Akhirnya, saya ingin mengutip sebuah kalimat dari buku Even Angels Ask oleh Jeffrey Lang : “Monoteisme Islam tidak hanya menuntut kita menerima Tuhan Yang Esa, tetapi juga menerima konsekuensi yang semestinya: semua orang, laki-laki dan perempuan, adalah sama di bawah otoritas Tuhan.”

    Bahkan Surga saja tidak berada di bawah telapak kaki Bapak…

    = DayDreamer =

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading tentang feminisme at Docere.

meta

%d bloggers like this: