Ground Zero

March 27, 2009 § Leave a comment

It was a fabulous holiday 2 weeks ago. Everything started simply because I had wanted to watch Java Jazz Festival (JJF) in Jakarta. And the fact that I finally had finished my studies needed its own celebration. So I went to Jakarta, stayed at my aunt’s place somewhere in the south of Jakarta, not really knowing what to expect other than a great jazz event.

It turned out to be a self-cleansing holiday, a mind-clearing trip. The holiday was a blessing in disguise. I went to Jakarta with an anxiety of a personal problem, something big enough that has been bothering my mind for almost a year. I thought that I needed a closure on this matter, I couldn’t let it linger and drain my energy and my life. And in Jakarta, I found my soul again.

The holiday started with a meeting with my high school best friend. Guy friend. He’s so adorable and fun and I’m just so used to hanging out with him when he was still studying in UGM Jogja, that when he graduated Jogja was rather meaningless without him there. A good man, a great friend.

Saturday was time for JJF. Another best friend, with her friend, picked me up at my aunt’s place. We’re joined by another friend then head off to Senayan. The performances we watched were great, we had fun and fabulous music! 3 pm to 1 am. Haha… that’s a great way to finish off medicine!

Sunday was a family gathering, huge family gathering with 20 close family. My aunt’s bday dinner… it’s great to be with everyone. We had the dinner at Gandy in Menteng, a rather historical place for our family, that’s where we have the big family gathering since my grandparents’ time. It’s good to remember that we’re still the same people, the same family, and at the same time reflect on where we are in our lives at the moment.

Monday!!! Meeting my primary school bestfriend. Unbelievable. Our friendship survived 18 years of separation, the non-existence of cell phones and pretty much different life choices. She now has a master’s degree in English literature, and.. I’m almost done with medicine. I think we both read books religiously, although they’re different kinds. It’s always good to see her. I wasn’t a long meeting, and then I was picked up to go to Bogor! An impromptu trip, not really planned, which made it even better. In the evening we were back to Jakarta and hang out for a while in McCafe in Kemang.

Tuesday, I had a date with my best friend already. We went to a huge mall, enjoyed a huge lunch (an expensive treat for myself), and watched Valkyrie at the cinema.

Wednesday, the great pantomime performance by French artist Phillipe Bizot in Salihara theater, an invitation from a friend (Dari Colosseo ke Salihara).  It’s was late when we got back, and still went to Kemang Fest for dinner. We talked until really late, and in the end she decided to spend the night at my place because she was too tired to drive that late.

Thursday, my extended family and I watched my aunts perform Wayang Orang in Gedung Kesenian Jakarta, a wonderful and colourful performance. Again, this is just what my family does, dance and perform Javanese wayang orang. And it’s always nice to watch it in a place as extravagant as GKJ.

Friday, meeting a friend. And Saturday, meeting more friends from high school! It was a little reunion. And on Sunday morning I went to Dufan with 2 high school best friends. I wasn’t that daring with the rides, but it was fantastic, although we had to leave early, fearing it might rain, since we took the bus.

And the next Monday… I was off to Bandung!

*

Getting together with my friends have been good for me. They care about me. And my best friends, well, they love me unconditionally, they really do. There’s safety in knowing that. They’ll always be my family in the strange land of Jakarta. They remind me of who I was, what I’ve become, and where I’m heading. It’s even great to hear the repetitive jokes again. What matters is the storytelling and the shared laughters.

Sometimes the new beginning started from our past. I had searched for somewhere to begin. What kind of person am I? where do I belong in this world? Who do I love? Who loves me? Answers come from different places. From great best friends who love me. From a music concert. From an old friend from primary school. From a new journal and a pen given by a good friend. From a funky yellow-black bracelet on my wrist. From a holiday filled with dinners, conversations, and the realization of being loved and appreciated.

Begin, grow, flow. So this is ground zero. This is where I begin as a person, a woman, a lover, an artist, a humbled human being. This is where another chapter of my life begins. It’s not just a matter of where I fit in life. It’s a matter of where things are fitted into my life. I’m young, fresh. I’m starting at the point of my life where I feel encouraged, brave and enthusiastic.

So, it was a fabulous holiday. An inspiring one. A great one. One not just for my body and mind, but also for my soul and spirit. Get your holiday. It will affect you in so many ways that you didn’t expect.

to that birthday girl

March 22, 2009 § 1 Comment

To that birthday girl

I wish her happiness
I wish her life of joy
Life of overcoming obstacles

I wish her success
I wish she carries her life well, I wish life carries her well
I wish her blossoming flowers
I wish her warm and breezy spring

To that birthday girl
That friend at toughest time
That friend who stayed when I cried
That friend who cherishes the beauty in lif

Respected like a teacher
Loved like a best friend
Missed like a sister
Cherished, like a blossoming flower

To that birthday girl
Happy birthday!

Love, ajeng

** for the friend who’ve seen it all of me. Gina, happy bday dear!

dari COLOSSEO ke SALIHARA

March 19, 2009 § 6 Comments

Nasib dan perjuangan membawa manusia ke titik yang berbeda-beda dalam untaian waktu kehidupan. Malam itu saya menyaksikan pertunjukan pantomim Me and You oleh seniman pantomim Perancis, Phillipe Bizot di teater Salihara, Jakarta. Yang menarik adalah bagaimana saya bisa sampai ke tempat ini, karena sebenarnya saya tidak berkecimpung di komunitas Salihara, saya tidak kenal dunia teater, dan saya belum pernah menonton pertunjukan kebudayaan Perancis di Indonesia.

Percaya atau tidak, semuanya berawal 4 tahun yang lalu di Colosseum, Roma, 12.000 km jauhnya dari Jakarta. Suatu hari Sabtu yang cerah, di musim panas yang terik di Italia, saya memutuskan untuk berjalan-jalan ke Foro Romano, The Roman Forum, sebuah kompleks megah sisa peninggalan Romawi di jantung kota Roma. Saat itu saya berada di Italia dalam rangka tugas belajar dan menjadi relawan untuk program CCIVS-UNESCO. Saya bepergian sendirian, dengan jilbab rapi, tas ransel berisi dompet, botol minum, roti dan peta Roma.

Setelah berkeliling Colosseum, di toko souvenir saya disapa, “Sorry, are you from Indonesia?”

roma-blur

Dan saat itulah saya berkenalan dengan 3 teman baru saya, sesama orang Indonesia di tanah asing, mbak Aci, mbak Windie dan Mas Yosef. Mereka sendiri dikirim ke Perancis oleh tempat kerja mereka, CCF untuk mengenal Perancis dan mengalami kebudayaannya secara langsung. Mereka terbang ke Roma untuk berlibur. Dan setelah perkenalan singkat itu kami berpetualang keliling Foro Romano. Kami janjian bertemu keesokan harinya dan melanjutkan penjelajahan ke Patheon dan tempat lain. Tentu saja semua ini dengan jalan kaki dan naik bis, dengan berbekal peta. Tidak pernah tersesat untungnya.

Kafe teras di Roma saat musim panas jelas terlalu mahal buat kami. Jadi di hari itu kami beli pizza dan makan bersama di emperan trotoar yang dengan strategis terletak dekat sebuah air mancur yang mengalirkan air dingin segar yang siap mengisi botol minum kosong kami.  Dan dengan khidmat kami mensyukuri momen itu, dan mengucapkan doa (yang diamini beramai-ramai) agar suatu saat bisa kembali ke Roma, tinggal di hotel berbintang, makan dengan layak di kafe teras, dan yang jelas, tidak perlu piknik di trotoar tempat parkir.

Saya kembali melanjutkan pendidikan saya di sebuah kota yang “hot and crispy”, mbak Windie kembali ke Bandung, dan mbak Aci ke Jakarta dan kemudian menikah.

Dari situs pertemanan, lewat mbak Aci saya kemudian berkenalan dengan Bang Isky, yang akhirnya juga menjadi teman saya untuk diajak bertukar pikiran.

Dan dari 2 hari yang mencengangkan itu, dengan pertemuan yang sudah digariskan Tuhan, kami tetap saling berhubungan. Hidup di kota yang berbeda membuat kontak darat sulit, tapi setelah 4 tahun akhirnya ada kesempatan untuk saling berjumpa. CCF Jakarta mengadakan pertunjukan pantomim dan kebetulan saya liburan di Jakarta. Datang sms dari mbak Aci, menanyakan apakah saya mau menyaksikan pertunjukan ini, dia akan menyediakan tiketnya. Hari itu juga saya bertemu dengan Bang Isky, sekedar silaturahmi dan melanjutkan kontak kami yang sebelumnya hanya via internet. Bang Isky kemudian menjelaskan lokasi teater Salihara, menggambarkan peta untuk kami. Berbekal coretan Bang Isky dan peta Jakarta, saya dan Gina berusaha mencari alamat yang kami tuju. Kali ini Jakarta lebih parah dari Roma, kami salah belok dua kali dan nyaris tersesat karena jalan yang remang-remang dan keterampilan membaca peta yang memburuk. Macet berat, dan kami nyaris terlambat.

Beberapa menit sebelum pertunjukan dimulai kami berhasil sampai di Salihara, dan akhirnya, setelah 4 tahun, kali ini di negara sendiri, saya kembali berjumpa dengan mbak Aci. Dan benar-benar baru kali ini saya mengikuti acara yang diadakan CCF, sampai saya bisa tahu tempat apakah teater Salihara ini.

Tempat yang sangat bergaya. Acara yang sangat menyenangkan. Baru kali ini saya datang ke pertunjukan semacam ini.

Kemarin, di Bandung, saya juga akhirnya menemui mbak Windie. Luar biasa, setelah dipikir-pikir tidak banyak yang berubah dalam waktu 4 tahun, selain kami jadi semakin kaya pengalaman hidup. Dan di CCF bandung sore itu mengalirlah kisah-kisah masa lalu yang belum perlu dikenang, rencana-rencana masa depan yang rendah hati dan penuh harapan, 4 tahun dirangkum dalam pembicaraan 40 menit.

Empat tahun untuk sampai dari Colosseo ke Salihara. Melihat kembali ke belakang, tidak ada yang tahu perjalanan kami dan apa yang akan terjadi dalam tahun-tahun ke depan. Dan jika kita digariskan Tuhan berjumpa di tempat yang menjadi simbol kemudaan dan antusiasme kita, semoga kita akan dipertemukan kembali di tempat yang menggugah hati dan semangat kita. Seperti dari Colosseo ke Salihara.

Bandung, 18 Maret 2009

**

Mbak Aci, doain aku ama mbak windie “nyusul yah…”, aaaaaaamiiiiiiiiiiiiiin

Sama Insya Allah kita semua bisa balik lagi ke sana plus eksplorasi ke lebih banyak tempat (my obsession: Andalusia!), aaaaaaaaamiiiiiiiiiiiiiiin

saatnya memulai hidup baru

March 17, 2009 § 6 Comments

Ello keren. Dan lagunya emang bikin semangat!

Ini Cuma tulisan asal yang tanpa rencana. Ada beberapa hal yang pengen kutulis aja di sini. Mari kita lupakan sejenak hal serius seperti struktur kalimat yang baik, EYD, atau pokok pikiran dalam satu paragraf.

Pertama, sudah saatnya memulai hidup baru. Begin, grow, flow. Itu sbenernya slogan contekan dari sebuah agenda keluaran Starbucks.

Kedua, kalau lihat aku sekarang, ada gelang anyaman tali warna kuning dan hitam di pergelangan tangan kanan. Ini bukan sekedar gelang biasa, ini simbol. Melihat gelang ini mengingatkanku untuk maju terus karena aku punya keluarga besar dan teman-teman yang baik yang selalu mendukungku. Dan bentuk gelang ini cukup aneh, cukup besar dan mencolok dengan warnanya yang tidak biasa.

Ada cara-cara yang tidak biasa dalam menjalani hidup. Kita bisa memilih jalur yang biasa-biasa saja, atau kita bisa memilih menjadi luar biasa. Kita bisa memilih untuk mengambil pilihan yang mudah dan menyenangkan banyak orang di sekitar kita, atau kita memilih untuk mengikuti semangat dan hati kita. Kita bisa memilih untuk membeku dalam ketakutan menjalani dunia baru, atau kita bisa dengan rendah hati dan penuh semangat menjalani cita-cita kita.

Gelang sederhana warna kuning-hitam ini, dan pertemuan dengan sahabat-sahabat terbaikku, mengingatkan aku bahwa aku masih orang yang aneh dan lumayan “gila”, penuh semangat, bercita-cita tinggi, berani menentukan pilihanku sendiri, kuat dan insya Allah sanggup menjalani apa yang ada di depanku.

Ketiga, aku memang akan maju terus. Mungkin selama ini cara pandang yang salah yang menambatkanku pada masa lalu. Liburan yang kujalani 2 minggu terakhir ini sama seperti liburan-liburan yang kujalani sejak kuliah (terakhir 2 tahun yang lalu, saat aku belum terlalu sibuk dengan pekerjaan). Liburan ini membuatku mengingat siapa diriku, menemukan kembali bagian diriku yang hilang dan terlupakan, dan memunculkan hal-hal baru dari diriku. Dan mungkin sekarang aku punya perspektif yang lebih baik tentang siapa saja teman-teman terbaikku.

Sekali lagi, buat sahabat-sahabat terbaikku, terima kasih atas kasih sayang kalian yang mengeluarkan aku dari hari-hari gelapku!

Jakarta, 16/3/2009

Buat Ipan, semangat slalu ya bro! Thanks udah ngajarin bahwa silaturahmi itu penting banget.

Buat Gina, thanks for everything Gin… luv ya gurl!

tentang feminisme

March 3, 2009 § 7 Comments

Apakah salah menjadi feminis, sampai harus apologetik dan menyangkal bahwa seseorang bukanlah seorang feminis? Apakah hanya perempuan yang berpikiran feminis?

Kebenaran umum yang telah saya jumpai sendiri adalah bahwa feminisme sering disalahtafsirkan.

Menurut Aquarini Prabasmoro dalam Kajian Budaya Feminis (2006), salah tafsir sering terjadi karena feminisme dianggap sebagai budaya barat (dengan segala atribut negatifnya), dan atau sebagai gerakan yang membenci laki-laki atau penganut seks bebas.

Pada diskusi pribadi saya dengan Daydreamer hari ini saya menanyakan langsung, apa yang membuatnya cenderung memandang feminisme dengan apriori dan kecurigaan. Ia mengatakan bahwa tanpa sadar, ia sendiri terbawa arus pemikiran “pada umumnya”/mainstream (yang menganggap feminisme adalah sesuatu yang berbahaya atau ofensif). Saya katakan bahwa saya cukup terkejut dia berpandangan seperti itu, karena buat saya, keseharian dan pandangan hidupnya sendiri cukup merefleksikan apa yang akan saya sebut feminisme.

Saya tidak pernah menganggap bahwa feminisme itu sesuatu yang dimiliki “perempuan tertentu”, atau sebagaimana pandangan mainstream. Mungkin walau saya belum pernah membaca tentang feminisme sampai 2 hari yang lalu, saat SMU saya pernah membaca sampul buku yang kurang lebih berkata Nabi Muhammad adalah seorang feminis. Saya lupa judul tepat maupun penulisnya. Ini juga diungkapkan kembali oleh Aquarini

…seorang Nasarudin Umar menulis buku Argumentasi Kesetaraan Gender yang merupakan ekstrak dari disertasi doktoralnya.  Ia membahas betapa pemaknaan terhadap Al Qur’an sangat patriarkal dan menunjukkan bahwa Al-Quran mengandung banyak nilai feminis, bahkan Nabi Muhammad juga dapat dikategorikan sebagai seorang feminis.

Hal ini juga pernah saya baca, bahwa teks Quran harus dipahami sesuai konteks masyarakat saat diturunkannya. Intinya, bukan teks eksplisit mengenai perempuan, namun kerangka pemahaman yang berupa kemajuan untuk perempuan yang dibawa Islam ke masyarakat Mekah dan Madinah saat itu.

Pada dasarnya, laki-laki dan perempuan yang menyadari adanya ketimpangan struktur (misalnya, bahwa perempuan HARUS bekerja di rumah dan laki-laki di luar rumah) adalah seorang feminis, tidak masalah jika ia tidak mau disebut feminis. Mata yang terbuka terhadap adanya ketimpangan ini membuatnya secara de facto menjadi feminis. Namun, pemikiran dan gerakan feminis lahir dalam konteks tertentu, baik budaya, agama dan interpretasi terhadap agama, ras, etnik, dan pengalaman kelompok maupun individual. Tidak ada satu macam feminisme; yang ada adalah feminisms, bentuk jamak, bukan hanya feminism.

Menurut Aquarini pula, yang juga saya setujui, tuntutan bahwa perempuan harus “credible di luar rumah dan perfect di dalam rumah” merupakan kekerasan terhadap kemanusiaan perempuan, sebagaimana tuntutan agar perempuan selalu melayani suami di rumah dengan mengabaikan kebutuhannya sendiri juga merupakan kekerasan. Menurutnya, menjadi perempuan adalah menjalani hidup dengan sebaik-baiknya sesuai pilihannya sambil menyadari bahwa pilihan atas suatu hal dapat menyebabkan berkurangnya kemampuan untuk memenuhi kewajibannya atas yang lain.

Mungkin pelabelan “feminis” bukan hal yang diperlukan. Yang saya tahu, saya risih jika melihat kondisi perempuan yang masih tak berdaya dalam tuntutan laki-laki ataupun lingkungannya yang tidak realistis. Saya menjalani keseharian dengan berpikir bahwa saya tidak memiliki hak yang lebih sedikit dibandingkan laki-laki, dalam hal usaha, cita-cita maupun pencapaian. Dan mungkin ini lebih mudah buat saya karena menjalani bidang yang saya jalani sekarang, yang kini cenderung lebih banyak digeluti kaum perempuan. Semua kembali pada “nature” dan “nurture” kita. Wajar jika semua orang memiliki pandangan berbeda karenanya.

ajeng. smg 3-3-09

094-kajianbudaya1

Penerbit: www.jalasutra.com

…membuat malu anak-anak kami

March 2, 2009 § 4 Comments

Ini adalah sebuah hasil karya teman saya, dr.Panji yang waktu itu kurang lebih memvisualisasikan bagaimana seandainya 25 tahun dari sekarang saya (gitaris band) dan teman saya Gina (bassist) bergabung lagi untung manggung bareng (dengan umur yang 2x lipat dari sekarang tentunya) dan disaksikan (serta kemungkinan membuat malu) anak-anak kami.

anak lo-lo pade (ALP) : hai teman!
temennya anak lo-lo pade (TALP) : hai! lo anaknya tante ajeng ma tante gina yang funky itu yah??
ALP : hah? sapa tuh? *pura2 ga kenal..
TALP : iye.. kmaren gw liat pas mereka ngeband jingkrak2 di panggung lo ada di belakang panggung mimi cucu coklat..
ALP : bukan gw! bukan gw! lo salah liat kali! *mulai panik..
TALP : ah masa sih? tapi di baju lo ada tulisan nama lo ko waktu itu..
ALP : ah masa? waaw.. namanya sama kali? nama gw pasaran kali.. *berusaha ngeles..
TALP : hmm.. waktu keadaan panggung memanas dan tante gina memukul2kan gitar nya dia sempet nyapa gw ko.. dia bilang “hai teman anakku..”
ALP : oya? setau gw anak nya dia satu sekolah ama kita.. tapi bukan gw! sumpah!
TALP : oya!? tapi waktu tante ajeng loncat dari panggung ke arah penonton.. dia sambil teriak nama lengkap lo dan menyebar foto lo loh!
ALP : aaaahhh tidaaaaakkk! mommy u’ve ruined my liiiifffeeeeee..!!!

(copyright @ dr.Panji)

Thanks bro, bwt pinjeman ur supercool imagination! Hahaha…

Refleksi kebingungan

March 2, 2009 § Leave a comment

Tulisan “How much will you give up to be with a man” adalah sebuah refleksi jujur dari kebingungan yang saya alami. Saya melihat perempuan baik dan cerdas menyerahkan segalanya untuk seorang lelaki yang ternyata tidak bisa menghargai dia. Ini bukan soal cinta saja. Ini soal tidak dipenuhinya hak dasar manusia untuk dihargai dan dihormati.

Respon yang muncul bagi saya mulai dari hopeful (“waw.. inspiring”) sampai mengejutkan, karena ternyata ada perempuan yang masih menganggap bahwa hidup penuh pengorbanan adalah bagian penting dari percintaan, bahkan jika itu demi laki-laki yang belum tentu berhak mendapatkannya.

Tujuan tulisan itu untuk orang lain sebenarnya sama, saya hanya ingin perempuan muda maupun yang sudah lebih matang untuk sejenak memikirkan hal ini. Berkorban adalah prerogatif tiap individu, namun alangkah indahnya jika yang ada adalah kompromi yang dilandasi rasa saling menghargai dan saling mengapresiasi satu sama lain.

Buat saya ini menunjukkan bahwa kita sering “take for granted”, menggampangkan atau tidak terlalu membandingkan pilihan-pilihan yang bisa kita jalani, karena dengan mudahnya kita berasumsi bahwa orang lain memiliki pandangan yang sama. Hal yang buat kita “mudah saja”, “sederhana”, bisa jadi “tidak terpikirkan” atau “kelewatan” buat orang lain.

Tapi sekali lagi, docendo disco, scribendo cogito. I learn by teaching, I think by writing.

**

Komentar daydreamer, “bukan berarti saya feminis”, menyadarkan saya bahwa sangat sedikit yang kita ketahui tentang kata feminis.

Apa “feminis” adalah suatu momok, bahkan bagi perempuan sekalipun? Apakah salah menjadi feminis, sampai harus apologetik dan menyangkal bahwa beliau bukanlah seorang feminis? Apakah hanya perempuan yang berpikiran feminis? Bagaimanapun saya harus berterima kasih pada daydreamer yang sudah melontarkan kata tersebut dan memacu saya untuk menilik lebih lanjut tentang feminisme. Mungkin di posting selanjutnya saya akan bicara sedikit tentang hal ini.

Where Am I?

You are currently viewing the archives for March, 2009 at Docere.