Kidung luka

January 25, 2009 § 2 Comments

Kidung saja takkan hilangkan luka

Cuma aku yang tahu apa itu duka

Biar dulu aku menyerap bait-bait cahaya, mutiara kata

Sorot hangat kucari dari jiwa-jiwa berbeda

Sakit itu melumpuhkan aku

Rapuh kata orang, tapi aku hanya tembok yang hancur

Biar kubangun lagi, sendiri

Biar yang luluh lantak berdiri lagi

Sedih ini seribu tahun menderita

Sedih tidak meninggalkan aku sendiri

Tanpa sahabatku aku mencari matahari

Mencari warna-warna lagi

Sabar, bisiknya

Sabar, hiburnya

Sabar, janjinya

Sabar…

ajeng. semarang 25-1-09.

Bams, I’m still the same, but suffering a little more compared to when you’re here.

Untuk hari demi hari bersama Al-Hikam Ibn Athaillah, bait cahaya yang membuatku bertahan.

Advertisements

Tagged:

§ 2 Responses to Kidung luka

  • GL says:

    Kata orang, yang dibawa oleh seorang penulis pada setiap cerita dan rangkaian kata2nya adalah sikap, sikap yang biasanya diasah oleh luka-luka kehidupan. Ur the great writer… GBU

  • multatuli says:

    Ada sebagian dari kita yang lebih peka.
    Terhadap luka, terhadap kebahagiaan, terhadap sentuhan, terhadap nada.
    Yang terselamatkan oleh keindahan akan menulis, membuat musik, memanifestasikan seni.
    Tapi kadang selalu ada sedikit sakit yang mengiringi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Kidung luka at Docere.

meta

%d bloggers like this: