For The Friend of My Soul

January 25, 2009 § Leave a comment

Rasa sakit dan ditinggalkan yang bisa kutahan ada batasnya. Aku tahu apa yang bisa membuatku sedih, tapi aku tahu apa yang akan membuatku hancur, memudar perlahan-lahan, sampai suatu saat nanti aku tidak bisa mengenali bayangan wajahku sendiri di cermin. Ada hal-hal yang tidak bisa kuubah, tidak bisa kukendalikan.

Seperti kehilangan yang kurasakan bertahun-tahun yang lalu yang masih tajam dan menyiksa sampai sekarang. Kesepian dan kehilangan yang sakitnya tidak bisa kujelaskan kepada siapapun, kecuali satu orang, sahabatku, atau yang sebenarnya lebih suka kuanggap kakakku. Dia melihat seberapa dalam jiwaku, seberapa tangguh nyaliku, seberapa lembut hatiku.

Aku pernah mengatakan padanya, dia bukan hanya sahabat terbaikku, dia adalah “emotional blanket”-ku. Saat kulitku yang terlalu tipis dan rapuh terancam pecah berkeping-keping, dia yang menjagaku. Dia selalu menjagaku.

Sampai sekarang aku masih percaya bahwa Allah mempertemukanku dengannya, memberikan kasih sayang-Nya padaku lewat dia.

Terlalu banyak rasa frustasi dan kekecewaan yang kami tahan setahun belakangan ini. Dan menyakitkan rasanya kalau hanya sekedar ingin mendengar suaranya saja kini aku kesulitan. Kami berjauhan sekarang, tapi buatku tidak terpisahkan. Jika Allah yang mempertemukan kita, Allah yang akan menjaga kita.

Dari begitu banyak hal yang ingin kukatakan padanya, tidak semuanya bisa diketahuinya. Dari begitu banyak hal yang ingin dia katakan padaku, tidak ada yang aku pahami. Baris-baris ini kuulang dalam hati seperti doa, seperti doa yang menghilangkan sakitku, menghilangkan ketakutan dan kekhawatiranku kehilangan dirinya. Kuulang, kubisikkan, aku berharap dia mendengarnya, mengingatnya, mengulangnya. Aku harap ini menguatkannya.

Physically, we are separated

Spiritually we are close, always together

I will always be a friend of your soul

Closer than your own heart

Nothing can separate us

ajeng. semarang 25-1-09

Mdp. I will always be a friend of your soul. ilymtywek.

*

Catatat dari November 2007

https://freedocere.wordpress.com/2007/11/24/sayang-betul-aku-dengan-sahabatku-ini/

Sayang betul aku dengan sahabatku ini. Jangan salah, aku punya banyak sekali teman, banyak teman baik, beberapa teman dekat dan segelintir sahabat. Dan aku sering berucap, “aku sayang teman-temanku!” Tapi dia, ah, entahlah. Dia sahabat terbaikku. Sebuah sebutan superlatif! Persahabatan tidak bisa dinilai dengan angka, tapi dengannya, aku gunakan kata “ter-“.

Dialah yang menggenggam tanganku saat aku linglung dengan sebuah kegagalan yang kualami. Aku limbung saat mendengar berita buruk itu. Waktu itu mataku langsung panas, kepalaku pusing, dan tiba-tiba semua indraku lumpuh. Sayup-sayup aku dengar suaranya, “Jangan khawatir, masih ada kesempatan lain…” Dia tahu betapa aku menginginkan hal itu, dia tahu betapa aku merasa ngilu dan seperti berdarah-darah saat itu. Aku masih tertegun. Diam. Terpukul. Dan sepertinya dia memegang tanganku, mencoba memberi sedikit kekuatan padaku. Karena saat itu aku masih harus bertemu beberapa orang, aku belum bisa meratapi kegagalanku. Gara-gara masih ada banyak orang di sekitarku, aku harus menenangkan diri dulu dan bertahan sementara waktu sebelum bisa menangis sejadi-jadinya. Dan betul, begitu hanya tinggal aku dan dia, runtuhlah pertahananku. Dan akhirnya aku bisa berduka. Dia ada untukku.

Kata salah satu temanku, “every friendship has their own magic, you can’t explain it” Begitu pula aku dengannya. Mungkin yang paling jelas adalah kenyamanan yang dengan begitu sederhana kurasakan bila bersamanya. Duduk di sebelahnya sudah cukup buatku. Dia adalah obat penenangku dengan jendela terapi yang lebar dan dosis optimal yang mengalir konstan dalam darahku. Satu hal yang kurasakan, aku bisa habis-habisan mengekspose kisahku padanya. Tidak ada keengganan, tidak ada keseganan. Baginya, aku bukan sebuah sandi yang harus dipecahkan. Dia membacaku seperti pawang membaca hujan. Seperti pelaut membaca rasi bintang. Dia tahu aku dan dia tahu kalau aku menyadari hal itu, dia tahu aku merasa nyaman dengan hal itu. Dan makin lama, kami makin fasih dengan kata-kata eksplisit yang kerap kami gunakan untuk menumpahkan bahasa hati. Makin lama, kami makin mahir dengan kediaman yang sebenarnya buah dari kehampaan kami akan kata-kata yang sanggup menjelaskan perasaan kami.

Badai besar pernah menghantam persahabatan ini. Saat itu dia meradang karena aku mengasingkan diri. Saat itu, aku mengasingkan diri karena dia meradang. Entah bagaimana kami sampai ke titik itu. Seolah-olah waktu itu aku melihatnya dari kejauhan, dan bukannya menghampiri aku justru berbalik badan dan pergi. Dia tersakiti tapi aku mati rasa.

Namun kenyataannya, saat kita terpuruk sampai ke dasar, saat itu pula tidak ada arah lain untuk bergerak kecuali untuk kembali naik ke permukaan. Apa yang kupikir adalah ucapan selamat tinggal terakhir untuknya justru memberi nyawa baru untuk persahabatan kami. Sekarang, hari-hari keterpisahan kami itu adalah lembaran lama yang sudah ditutupnya. Belakangan dia mengejutkanku dengan mengatakan bahwa sepenggal lirik lagu sempat menjadi soundtrack episode itu dalam hidupnya.

“Wanting you to be wanting me.
No that ain’t no way to be.
How I feel, read my lips,
because I’m so over..
Moving on, it’s my time,
you never were a friend of mine.
Hurt at first, a little bit,
but now I’m so over.
I’m so over it..”

Dan jujur aku terenyuh. Baru kali itu aku mengerti benar apa yang dia rasakan saat itu. Baru kali itu aku paham kehilangan semacam apa yang dia rasakan. Dan rasanya aku ingin minta maaf lagi dan lagi padanya seperti yang kemarin-kemarin belum cukup. Masa itu menyakitkannya dulu. Masa itu masih menyakitkan buatku sampai sekarang.

Sekarang ini kami lebih memahami satu sama lain. Lebih tenang dalam menghadapi keterbukaan yang kadang kebablasan. Lebih sabar menghadapi kekesalan-kekesalan dan tuntutan-tuntutan yang kadang hanya sekedar pelampiasan keletihan. Lebih kuat menghadapi kenyataan bahwa jarak adalah sebuah kenyataan hidup yang tragis namun kami tidak harus kehilangan satu sama lain karenanya. Lebih siap menjalani kenyataan bahwa dia harus pergi.

Persahabatan ini membuatku merasakan keindahan, dan itu yang kuelu-elukan, kudengung-dengungkan penuh rasa syukur. Kunyanyikan dengan riang. Persahabatan ini. Keindahan ini. Dengan khidmat dia menyimaknya. Sekali waktu menyedihkan memang, saat kerinduan membuat kami mengharu biru. Tapi kami selalu bertemu lagi. Yang kujanjikan padanya sebelum dia pergi adalah bahwa aku membawanya dalam hatiku. Dan waktu aku terpasung di pulau sunyiku, merindu sampai menangis, dia syairkan hal yang sama untukku: dia membawaku dalam hatinya.

Ajeng. 24 November 2007.

– Aku katakan padanya, “Aku tahu kalimat pertama tulisan ini. Seperti dibisikkan malaikat padaku pagi ini. Sayang betul aku pada sahabatku yang satu ini.” –

Advertisements

Tagged:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading For The Friend of My Soul at Docere.

meta

%d bloggers like this: