tidak ada lagi dari dirinya yang bisa kucintai

January 9, 2009 § Leave a comment

Sore ini semuanya berbeda. Tidak ada kekecewaan, kekesalan. Sepertinya hujan dan angin singgah untuk mengambil dukaku dan membawanya pergi. Semua kenangan itu sekarang seperti foto hitam putih yang terletak di sebuah kotak, tersimpan di pojok paling berdebu: aku tahu benda itu di sana, dan aku tidak merindukannya. Mungkin aku kelelahan. Semua pertanyaan mungkin telah dengan berani kujawab dengan jujur, paling tidak kepada diriku sendiri.

Apakah aku mencintainya? Ya.

Apakah aku kehilangan dirinya? Ya.

Apakah aku dapat hidup tanpa dirinya? Ya.

Jadi itulah akhir segalanya, aku dapat hidup tanpa dirinya.

Lalu aku menjadi diriku sebelum aku bertemu dengannya, aku menjadi diriku sebagaimana kuinginkan selama ini, bebas dan tanpa beban. Kalaupun hal ini itu masih mengingatkanku padanya, tidak ada lagi perih yang mengikuti dan menusuk-nusuk. Tidak ada lagi keseriusan dan kegigihan untuk menjangkaunya. Dia sudah tiada, dan aku akan melanjutkan hidupku yang selama ini dibayang-bayangi ketakutanku berjalan tanpa dirinya.

Pada akhirnya aku bisa bahagia karena sebelum pergi dari dunia ini dia pernah mendapatkan kebahagiaanya bersamaku, walau sesaat.

Dia pernah meraih cita-citanya sendiri. Hidup bersama dengan orang yang mencintainya (bukan denganku, walau aku yakin dia mencintaiku). Hidup dengan rutinitas yang merupakan jaring pengamannya (berangkat dan pulang kantor dengan jam teratur, kerja bak mesin mencari nafkah untuk keluarganya, mati-matian mengejar gaya hidup yang hanya untuk membuat orang lain terkesan; bukannya hidup dengan gairah menggebu-gebu untuk mencapai impiannya). Dan walau aku yakin dia akan menjalani kehidupan yang penuh antusiasme dan kebahagiaan bersamaku, mungkin keinginan terbesarnya adalah menjalani kehidupan yang.. biasa-biasa saja. Menikah, ke kantor, punya anak, punya rumah, ke kantor, dan seterusnya. Mungkin impiannya masih akan dia perjuangkan, impian menjadi besar, menjadi seperti yang kukatakan kulihat darinya. Tapi impian itu akan terseret-seret dalam kesibukannya, dalam rutinitasnya yang kini menjadi alasan eksistensinya: dia harus membanting tulang untuk menghidupi keluarganya.

Dan dia bukan lagi sosok yang dulu kucintai. Dia bukan lagi yang memberi, yang mencintai, yang menginspirasi, yang menjadi matahariku. Di hari-hari akhirnya dia hanya sebuah mesin.

Dan walaupun aku pernah berusaha mencintainya dengan diam-diam dari kejauhan (karena tentu saja aku tidak berhak lagi atas dirinya), sudah tidak ada lagi dari dirinya yang bisa kucintai.

-ajeng, jepara 9-1-09-

buat nana: dia ga layak buat lo.

Advertisements

Tagged:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading tidak ada lagi dari dirinya yang bisa kucintai at Docere.

meta

%d bloggers like this: