I’ll die anyway

January 30, 2009 § Leave a comment

Some smile
Some stay, others would go away
Some laugh, they play
I slowly slip away

Die
Bleed
Fade
Vanish

Love me when I crumble into pieces
Love me when I self-destruct
Love me when I stop breathing
Love me when I’m dying

I have nothing
I take nothing
I feel nothing
I am nothing

I’m violent, I’m enraged
I know I feel like drowning
Hold me, tell me to pray
I won’t bleed out, but I’ll die anyway

ajeng. 29-01-09

For The Friend of My Soul

January 25, 2009 § Leave a comment

Rasa sakit dan ditinggalkan yang bisa kutahan ada batasnya. Aku tahu apa yang bisa membuatku sedih, tapi aku tahu apa yang akan membuatku hancur, memudar perlahan-lahan, sampai suatu saat nanti aku tidak bisa mengenali bayangan wajahku sendiri di cermin. Ada hal-hal yang tidak bisa kuubah, tidak bisa kukendalikan.

Seperti kehilangan yang kurasakan bertahun-tahun yang lalu yang masih tajam dan menyiksa sampai sekarang. Kesepian dan kehilangan yang sakitnya tidak bisa kujelaskan kepada siapapun, kecuali satu orang, sahabatku, atau yang sebenarnya lebih suka kuanggap kakakku. Dia melihat seberapa dalam jiwaku, seberapa tangguh nyaliku, seberapa lembut hatiku.

Aku pernah mengatakan padanya, dia bukan hanya sahabat terbaikku, dia adalah “emotional blanket”-ku. Saat kulitku yang terlalu tipis dan rapuh terancam pecah berkeping-keping, dia yang menjagaku. Dia selalu menjagaku.

Sampai sekarang aku masih percaya bahwa Allah mempertemukanku dengannya, memberikan kasih sayang-Nya padaku lewat dia.

Terlalu banyak rasa frustasi dan kekecewaan yang kami tahan setahun belakangan ini. Dan menyakitkan rasanya kalau hanya sekedar ingin mendengar suaranya saja kini aku kesulitan. Kami berjauhan sekarang, tapi buatku tidak terpisahkan. Jika Allah yang mempertemukan kita, Allah yang akan menjaga kita.

Dari begitu banyak hal yang ingin kukatakan padanya, tidak semuanya bisa diketahuinya. Dari begitu banyak hal yang ingin dia katakan padaku, tidak ada yang aku pahami. Baris-baris ini kuulang dalam hati seperti doa, seperti doa yang menghilangkan sakitku, menghilangkan ketakutan dan kekhawatiranku kehilangan dirinya. Kuulang, kubisikkan, aku berharap dia mendengarnya, mengingatnya, mengulangnya. Aku harap ini menguatkannya.

Physically, we are separated

Spiritually we are close, always together

I will always be a friend of your soul

Closer than your own heart

Nothing can separate us

ajeng. semarang 25-1-09

Mdp. I will always be a friend of your soul. ilymtywek.

*

Catatat dari November 2007

https://freedocere.wordpress.com/2007/11/24/sayang-betul-aku-dengan-sahabatku-ini/

Sayang betul aku dengan sahabatku ini. Jangan salah, aku punya banyak sekali teman, banyak teman baik, beberapa teman dekat dan segelintir sahabat. Dan aku sering berucap, “aku sayang teman-temanku!” Tapi dia, ah, entahlah. Dia sahabat terbaikku. Sebuah sebutan superlatif! Persahabatan tidak bisa dinilai dengan angka, tapi dengannya, aku gunakan kata “ter-“.

Dialah yang menggenggam tanganku saat aku linglung dengan sebuah kegagalan yang kualami. Aku limbung saat mendengar berita buruk itu. Waktu itu mataku langsung panas, kepalaku pusing, dan tiba-tiba semua indraku lumpuh. Sayup-sayup aku dengar suaranya, “Jangan khawatir, masih ada kesempatan lain…” Dia tahu betapa aku menginginkan hal itu, dia tahu betapa aku merasa ngilu dan seperti berdarah-darah saat itu. Aku masih tertegun. Diam. Terpukul. Dan sepertinya dia memegang tanganku, mencoba memberi sedikit kekuatan padaku. Karena saat itu aku masih harus bertemu beberapa orang, aku belum bisa meratapi kegagalanku. Gara-gara masih ada banyak orang di sekitarku, aku harus menenangkan diri dulu dan bertahan sementara waktu sebelum bisa menangis sejadi-jadinya. Dan betul, begitu hanya tinggal aku dan dia, runtuhlah pertahananku. Dan akhirnya aku bisa berduka. Dia ada untukku.

Kata salah satu temanku, “every friendship has their own magic, you can’t explain it” Begitu pula aku dengannya. Mungkin yang paling jelas adalah kenyamanan yang dengan begitu sederhana kurasakan bila bersamanya. Duduk di sebelahnya sudah cukup buatku. Dia adalah obat penenangku dengan jendela terapi yang lebar dan dosis optimal yang mengalir konstan dalam darahku. Satu hal yang kurasakan, aku bisa habis-habisan mengekspose kisahku padanya. Tidak ada keengganan, tidak ada keseganan. Baginya, aku bukan sebuah sandi yang harus dipecahkan. Dia membacaku seperti pawang membaca hujan. Seperti pelaut membaca rasi bintang. Dia tahu aku dan dia tahu kalau aku menyadari hal itu, dia tahu aku merasa nyaman dengan hal itu. Dan makin lama, kami makin fasih dengan kata-kata eksplisit yang kerap kami gunakan untuk menumpahkan bahasa hati. Makin lama, kami makin mahir dengan kediaman yang sebenarnya buah dari kehampaan kami akan kata-kata yang sanggup menjelaskan perasaan kami.

Badai besar pernah menghantam persahabatan ini. Saat itu dia meradang karena aku mengasingkan diri. Saat itu, aku mengasingkan diri karena dia meradang. Entah bagaimana kami sampai ke titik itu. Seolah-olah waktu itu aku melihatnya dari kejauhan, dan bukannya menghampiri aku justru berbalik badan dan pergi. Dia tersakiti tapi aku mati rasa.

Namun kenyataannya, saat kita terpuruk sampai ke dasar, saat itu pula tidak ada arah lain untuk bergerak kecuali untuk kembali naik ke permukaan. Apa yang kupikir adalah ucapan selamat tinggal terakhir untuknya justru memberi nyawa baru untuk persahabatan kami. Sekarang, hari-hari keterpisahan kami itu adalah lembaran lama yang sudah ditutupnya. Belakangan dia mengejutkanku dengan mengatakan bahwa sepenggal lirik lagu sempat menjadi soundtrack episode itu dalam hidupnya.

“Wanting you to be wanting me.
No that ain’t no way to be.
How I feel, read my lips,
because I’m so over..
Moving on, it’s my time,
you never were a friend of mine.
Hurt at first, a little bit,
but now I’m so over.
I’m so over it..”

Dan jujur aku terenyuh. Baru kali itu aku mengerti benar apa yang dia rasakan saat itu. Baru kali itu aku paham kehilangan semacam apa yang dia rasakan. Dan rasanya aku ingin minta maaf lagi dan lagi padanya seperti yang kemarin-kemarin belum cukup. Masa itu menyakitkannya dulu. Masa itu masih menyakitkan buatku sampai sekarang.

Sekarang ini kami lebih memahami satu sama lain. Lebih tenang dalam menghadapi keterbukaan yang kadang kebablasan. Lebih sabar menghadapi kekesalan-kekesalan dan tuntutan-tuntutan yang kadang hanya sekedar pelampiasan keletihan. Lebih kuat menghadapi kenyataan bahwa jarak adalah sebuah kenyataan hidup yang tragis namun kami tidak harus kehilangan satu sama lain karenanya. Lebih siap menjalani kenyataan bahwa dia harus pergi.

Persahabatan ini membuatku merasakan keindahan, dan itu yang kuelu-elukan, kudengung-dengungkan penuh rasa syukur. Kunyanyikan dengan riang. Persahabatan ini. Keindahan ini. Dengan khidmat dia menyimaknya. Sekali waktu menyedihkan memang, saat kerinduan membuat kami mengharu biru. Tapi kami selalu bertemu lagi. Yang kujanjikan padanya sebelum dia pergi adalah bahwa aku membawanya dalam hatiku. Dan waktu aku terpasung di pulau sunyiku, merindu sampai menangis, dia syairkan hal yang sama untukku: dia membawaku dalam hatinya.

Ajeng. 24 November 2007.

– Aku katakan padanya, “Aku tahu kalimat pertama tulisan ini. Seperti dibisikkan malaikat padaku pagi ini. Sayang betul aku pada sahabatku yang satu ini.” –

Kidung luka

January 25, 2009 § 2 Comments

Kidung saja takkan hilangkan luka

Cuma aku yang tahu apa itu duka

Biar dulu aku menyerap bait-bait cahaya, mutiara kata

Sorot hangat kucari dari jiwa-jiwa berbeda

Sakit itu melumpuhkan aku

Rapuh kata orang, tapi aku hanya tembok yang hancur

Biar kubangun lagi, sendiri

Biar yang luluh lantak berdiri lagi

Sedih ini seribu tahun menderita

Sedih tidak meninggalkan aku sendiri

Tanpa sahabatku aku mencari matahari

Mencari warna-warna lagi

Sabar, bisiknya

Sabar, hiburnya

Sabar, janjinya

Sabar…

ajeng. semarang 25-1-09.

Bams, I’m still the same, but suffering a little more compared to when you’re here.

Untuk hari demi hari bersama Al-Hikam Ibn Athaillah, bait cahaya yang membuatku bertahan.

Blog of enduring spirit and beauty of life

January 21, 2009 § 2 Comments

I keep track of several medical students blog in Medscape. They are not anonymous. This morning, I saw one blog titled “My journey through medical school” from a US medical student. And I wondered if I’d ever written my own experience through medical school. And the answer is NO, I’ve never written about my journey through medical school. And now I’m almost through medical school.

Why did I write publicly? Say there are 10 people who go through an experience. 8 may think about it once in a while. 6 seriously contemplated their experience. 4 thought about writing that experience. 2 eventually wrote about it. But perhaps only 1 spoke truly about the depth of that experience, a moment, honesty about the glory or failure. I’ve chosen to be 1 out of 10 people, the one who eventually speaks and tell a story.

I write my journey through life, through experiences, hardship and happiness, but never specifically through medical school. I write about my experiences abroad (one was an intercultural course + voluntary camp for 2 months in France and Italy, a UNESCO organized program; another is a medical course and internship for 3 months in Holland). In fact I started the blog because I went to France. But those writings were mostly my experience, my fascinations, my pleasure in finding beauty through travelling and meeting new people.

There is so much life in this blog. Those who’ve been reading it for 2 years, or at least through the part where my journey was toughest (being discriminated in Rome because I looked so muslim is not exactly easy), can appreciate me more than just the medical student who write stuff. There is emotion, sweat, and from what I learn to appreciate, an enduring spirit through life.

Personally for me, the joy, the beauty, the tough stuff, can not be packed in this box called “my journey through medical school”. Legal issues, formal and informal rules, cultural reasons require me to be extremely critical of myself. Simple to say that I choose to not frame my writings as my journey through medical school,because most of them (90%?) is not related to med school anyway.

The blog is not about med school, not about people in med school, they’re not meant for med school audience in particular. This blog is not anonymous, but shows less than 10% of who I really am. This blog is definitely NOT all what there is of me.

I hope the new audience/readers of this blog can now get to know me a little better, more than just one or two posts that people gossip about. Yes I study medicine, yes I want to be great in what I do, and yes, I write in english in a quite lovely way for an Indonesian.

One profound Latin expression is my source of inspiration: Docendo disco, scribendo cogito, I learn by teaching, think by writing. I write because I learn, I write because I think.

I have learned to grow by experiencing life, feeling, doing, contemplating, and eventually writing. Once again, this blog is for us to be able to share the enduring spirit and beauty of life.

ajeng. semarang 21-1-09

Prof. Dr. Soeharso

January 21, 2009 § 2 Comments

Kali ini saya akan mengajak rekan-rekan pembaca mengenal sosok Prof. DR. Soeharso. Alasan saya mengekspose Almarhum di sini adalah karena saya beruntung sempat mendengar berbagai cerita tentang beliau. Kisah di sini merupakan artikel yang terdapat di Wikipedia dan tempat lain di internet, sayangnya saya sendiri tidak pernah berjumpa dengan Almarhum untuk dapat bercerita langsung mengenai beliau. Walau saat saya lahir Almarhum sudah tiada, namun kisah hidupnya berulang kali menginspirasi dan membangkitkan semangat kami para penerusnya.

Salah satu hal yang berkesan adalah menurut cerita ayah saya, Almarhum kakek saya meminta ketiga anaknya untuk menimba ilmu di luar kota Solo, domisili Almarhum saat itu. Hal ini dimaksudkan agar mereka berkembang dan mandiri, jauh dari pengaruh Almarhum (walau sulit karena mau tidak mau mereka dikenal sebagai putra Dr. Soeharso).

Inilah sosok yang benar-benar melayani negara dan kemanusiaan.

Berikut artikel dari http://id.wikipedia.org/wiki/Soeharso (beberapa keterangan tambahan tercetak tebal)

“Soeharso dilahirkan tanggal 13 Mei 1912 di Desa Kembang Kecamatan Ampel Kabupaten Boyolali, anak ke 4 dari 8 bersaudara putera Raden Sastrosoeharso.

Masuk sekolah tahun 1919 di HIS Salatiga, tamat pada tahun 1926. Tahun 1922 saat Soeharso masih duduk di HIS, ayahanda Raden Sastrosoeharso meninggal dunia. Setamat HIS pada tahun 1926 Soeharso melanjutkan pendidikan pada MULO di Solo dan selesai tahun 1930.

Pada tahun 1930 melanjutkan pendidikan pada AMS Yogyakarta sampai dengan tahun 1933. Beliau aktif dalam organisasi Jong Java sejak di MULO dan AMS. Setamat dari AMS Yogyakarta, beliau melanjutkan pendidikan di NIAS Surabaya dengan mendapat beasiswa.

Lulus sebagai dokter tahun 1939 dan dikenal dengan gelar Indische Art; bekerja di CBZ (RSU) Surabaya sebagai asisten bedah. Pada tahun 1941 beliau pindah ke Pontianak karena mengalami konflik dengan suster dari Belanda.

Tahun 1941 menikah dengan Djohar Insijah, puteri Dr. Agusdjam.

Tahun 1942 Jepang menduduki Indonesia. Di daerah Ketapang Pontianak dan daerah lain, Jepang membunuh para intelektual. Dr. Soeharso dan istri kembali ke Pulau Jawa. Tahun 1945 Dr. Soeharso bersama kawan-kawan membentuk Cabang PMI untuk membantu pejuang-pejuang kemerdekaan. Pada tahun 1946 Dr. Soeharso terpanggil untuk membuat prothesa dan orthosa karena begitu banyaknya pemuda yang cacat akibat perang.

Selanjutnya beliau konsisten mengembangkan bidang prosthesis-orthosis serta rehabilitasi medik di Indonesia.

Beliau mendapat Diploma INTERNATIONAL COLLEGE OF SURGEON di Geneva tahun 1956. Mendapat Brevet AHLI BEDAH tahun 1957.

PENGABDIAN DAN JASA

Jabatan yang pernah diemban:

  1. Lektor muda, Lektor sampai dengan Profesor pada Perguruan Tinggi Kedokteran Cabang Surakarta, UGM, UNAIR.
  2. Pemimpin Umum Usaha Prothesa.
  3. Supervisor RC.
  4. Penasehat ahli Mentri Sosial.
  5. Ketua Umum IKABI.
  6. Pemimpin Lembaga Orthopedi dan Prothese oleh Presiden RI (1955).
  7. Penasehat atau Ketua Organisasi-Organisasi, kegiatan-kegiatan LSM baik dalam maupun luar negeri.
  8. Pemimpin atau Penasehat pada lembaga yang didirikan atas prakarsa beliau.
  9. Member or EXPERT COMMITTEE ON REHABILITATION, WHO selama dua periode yaitu tahun 1958 dan 1963.
  10. Pimpinan delegasi Indonesia di luar negeri.

Mendirikan Organisasi/Lembaga Pelayanan Masyarakat:

  1. PMI tahun 1945.
  2. Usaha pembuatan Prothesa tahun 1946.
  3. Rumah Sakit Orthopedi Solo tahun 1951.
  4. YPAC tahun 1953.
  5. Yayasan Sheltered Workshop Solo tahun 1953.
  6. Sekolah Perawat Fisioterapi tahun 1954 yang dikonversi menjadi Akademi pada tahun 1964.
  7. Yayasan Koperasi Penderita Cacat “Harapan” tahun 1955.
  8. Sheltered Workshop PROMORTO tahun 1957.
  9. Yayasan Pembinaan Olah Raga Penderita Cacat tahun 1962.
  10. Yayasan Balai Penampungan Penderita Paraplegia tahun 1967.
  11. Yayasan Danan Skoliosis Risser tahun 1968.
  12. Federasi Penderita Cacat Mental Indonesia di Yogyakarta tahun 1967.

Penghargaan yang diterima:

  1. Tahun 1954 : World Rehabilitation Prize oleh World Veteran Federation.
  2. Tahun 1956 : Fellow of The International Colelge of Surgeons.
  3. Tahun 1958 : Penghargaan IDI pada Muktamar VII.
  4. Tahun 1961 : Bintang Satya Lencana Pembangunan.
  5. Tahun 1961 : Bintang Satya Lencana Kebaktian Sosial.
  6. Tahun 1968 : Bintang Mahaputra Kelas III.
  7. Tahun 1969 : Albert Marry Lasker Award, Untuk Prof. Dr. R. Soeharso dan Nyonya.
  8. Tahun 1969 : Warga Kehormatan daerah Propinsi Jawa Tengah.
  9. Tahun 1969 : Doctor Honoris Causa dalam Ilmu Kedokteran dari Universitas Airlangga.
  10. Tahun 1969 : University Of California, sebagai Qualified Instruktor Clinical.
  11. Tahun 1970 : Penghargaan dari People To People Program Committee For Handicapped, USA.
  12. Tahun 1974 : Pahlawan Nasional.

Karya Tulis: Sebanyak 86 buku dan ratusan karya-karya lainnya.

Wafat pada tanggal 27 Februari 1971 pukul 19.00 dalam usia 59 tahun di rumah Jl. Slamet Riyadi, Surakarta. Delapan Instansi/Lembaga dan Organisasi yang dirintis oleh beliau menggunakan nama beliau. Pengukuhan nama ini ditetapkan oleh:

(dari http://id.wikipedia.org/wiki/Soeharso)

Salah satu kehormatan yang Almarhum terima adalah dijadikannya nama beliau sebagai nama Kapal Angkatan Laut Republik Indonesia baru-baru ini.

Selasa, 18 September 2007

KRI dr Soeharso 990: Satu-satunya rumah sakit terapung milik RI

JAJARAN TNI Angkatan Laut (AL) boleh berbangga hati. Pasalnya, tentara yang bertugas mengamankan wilayah perairan Indonesia itu kini dibekali kapal perang khusus untuk rumah sakit. KRI dr Soeharso bernomor lambung 990, yang diresmikan KSAL Laksamana TNI Slamet Soebijanto, kemarin, telah didesain menjadi rumah sakit terapung. Tak tanggung-tanggung, kapal itu dilengkapi fasilitas modern dan penanganan medisnya disejajarkan rumah sakit tipe B.

Rumah sakit apung terbesar dan satu-satunya di Indonesia itu, dulunya merupakan kapal bantu angkut personel, dengan nama KRI Tanjung Dalpele-972. Setelah diresmikan, kapal itu berganti nama menjadi KRI dr Soeharso-990 dan berfungsi sebagai kapal bantu rumah sakit yang masuk jajaran Satban (satuan kapal bantu).

“Kapal ini merupakan satusatunya di Indonesia. Kapal jenis ini memang sudah ada sebelumnya, tetapi kapal bantu rumah sakit baru ini saja yang ada di Indonesia,” ujar KSAL.

Kenapa dinamakan dr Soeharso? Karena pahlawan nasional itu mempunyai jasa-jasa cukup banyak untuk NKRI, terutama dalam hal kedokteran. “Ini untuk mengenang jasa-jasa beliau, ” ujar KSAL.

Pihak keluarga dr Soeharso pun telah mengikhlaskan nama leluhurnya dijadikan nama KRI itu. Bahkan pihak keluarga juga memberikan kenang-kenangan berupa foto sang pahlawan pada kapal berbobot 2.48-ton dan dilengkapi landasan helikopter itu.
Ruang bedah

Layaknya sebuah rumah sakit, kapal ini juga dilengkapi Unit Gawat Darurat (UGD), serta tiga ruang operasi untuk melakukan pembedahan. Sebanyak 68 tenaga medis yang terdiri dari dokter umum, dokter spesialis, dan juru rawat, diperbantukan untuk operasional.

Kapal yang dibuat di galangan kapal Daesun Shipbuilding and Eng Co Ltd, Pusan, Korsel, 9 Januari 2002, mampu menampung pasien rawat sebanyak 40 orang. Meski demikian kapal itu mampu melayani ribuan pasien rawat jalan setiap harinya.

Kapal itu juga pernah diujicoba untuk melakukan operasi usus buntu saat ditugaskan di Wamena, Papua, pada tahun 2006. “Jadi untuk melakukan semua kegiatan operasi atau penanganan medis, kapal ini sudah mampu. Karena sudah sejajar dengan rumah sakit tipe B,” terang dia.

Dengan kemampuan ini, diharapkan kapal perang KRI dr Soeharso ini mampu memperkuat TNI AL dalam menjaga kestabilan wilayah perairan Indonesia.

Sebagai bentuk pengabdiannya pada masyarakat dan negara, kapal itu akan segera diberangkatkan ke Bengkulu untuk misi sosial, membatu korban gempa.

“Begitu selesai saya kukuhkan, besok langsung saya perintahkan berangkat ke Bengkulu. Sebelumnya sudah saya kirim dua kapal lainnya untuk membantu ke daerah yang dilanda bencana itu,” tuturnya. mun/lek/zal

http://www.wawasandigital.com/index.php?option=com_content&task=view&id=9327&Itemid=28

KRI DR Soeharso (990)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

KRI DR Soeharso (990) (sebelumnya bernama KRI Tanjung Dalpele (972)) adalah kapal jenis Bantu Rumah Sakit (BRS). Awalnya kapal ini berfungsi sebagai Bantu Angkut Personel (BAP) bernama KRI Tanjung Dalpele (972), karena perubahan fungsi maka pada tanggal 17 September 2008 di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, dikukuhkan oleh KASAL saat itu Laksamana TNI Slamet Soebijanto.[1]

Sejarah

Pada saat bernama KRI Tanjung Dalpele (972), kapal ini adalah kapal serba guna yang berfungsi sebagai kapal bantu angkut personel (BAP), kapal bantu rumah sakit (BRS) serta dapat mendaratkan dua heli jenis Super Puma.

Kapal ini diklasifikasikan sebagai kapal LPD (Landing Platform Dock). Nama Dalpele diambil dari sebuah tanjung yang terletak di pulau paling timur gugusan pulau di Provinsi Papua. Nama tanjung tersebut diabadikan sebagai nama KRI karena di tempat itu para sukarelawan yang terdiri atas putra-putri terbaik Indonesia rela mengorbankan jiwa ketika berlangsungnya operasi Komando Trikora untuk membebaskan Irian Barat. Kapal produksi Daesun Shipbuilding and Eng.Co.Ltd Pusan Korea Selatan ini tiba di Indonesia 21 September 2003.

Seiring dengan kebutuhan TNI AL secara umum dalam menjalankan tugas-tugas negara, TNI AL memesan 2 unit kapal yang menyerupai kapal ini dan telah beroperasi dan diberi nama KRI Surabaya dan KRI Makassar.

Nama dr. Soeharso diambil dari nama seorang dokter orthopaedi (dokter ahli bedah tulang) yakni Prof. dr. Soeharso nama yang sama dengan nama rumah sakit orthopaedi dan rehabilitasi di Solo. Beliau telah banyak berjasa selama masa perjuangan kemerdekaan membantu menolong dan merehabilitasi pejuang yang mengalami cacat anggota gerak tangan dan kaki akibat peperangan.

Desain

Kapal ini berbobot 11.394 ton kosong dan 16.000 ton berisi penuh. Kapal sepanjang 122 meter, lebar 22 m, dan draft 6,7 m ini mempunyai geladak yang panjang dan luas sehingga mampu mengoperasikan dua buah helikopter sekelas Super puma sekaligus.

Kapal ini juga dilengkapi sebuah hanggar untuk menampung helikopter satu lagi dan juga melakukan perawatan terhadap helikopter. Sebagai kapal rumah sakit, telah disediakan 1 ruang UGD, 3 ruang bedah, 6 ruang poliklinik, 14 ruang P-jang Klinik dan 2 ruang perawatan dengan kapasitas masing-masing 20 tempat tidur.

Kapal ini memiliki 75 anak buah kapal (ABK), 65 staf medis dan mampu menampung 40 pasien rawat inap. Jika dalam keadaan darurat, KRI DR Soeharso juga dapat menampung 400 pasukan dan 3000 penumpang.

Dalam fungsinya sebagai kapal angkut, kapal ini mampu mengangkut 14 truk/tank dengan bobot per truk/tank 8 ton, 3 helikopter tipe Super Puma, 2 Landing Craft Unit (LCU) tipe 23 M dan 1 hovercraft.

Persenjataan, kapal ini dilengkapi senjata Meriam Bofors SAK 40 mm L/70 1 pucuk, 2 pucuk Kanon Penangkis Serangan Udara (PSU) Rheinmetall 20mm, dan 2 buah senapan Mesin 12,7 mm.

Tenaga penggeraknya adalah mesin diesel.

Dari http://id.wikipedia.org/wiki/KRI_Tanjung_Dalpele

S Curve-Idealism in Surgery

January 20, 2009 § Leave a comment

A career is shaped like a big S

When you start out, you are at the top of the gentle Scurve, full of idealism;

you want to Save the world.

Mid – way, starting to slide down, you largely just want to Save your ass (stay out of trouble and the courts).

Near the end you have returned to idealism and want to Save the world again.

Eugene[sic] – From http://www.worldortho.com

Creepy, but this is freaking true.

Thanks to http://dokterkecil.wordpress.com

docere over coffee

January 17, 2009 § 2 Comments

Ini bukan sekedar tempat publik untuk menaruh catatan harian pribadi. Ini adalah tempat berekspresi. Tempat menaruh memoar cinta dan kehidupan. Kawan-kawanku mendatangi tempat ini dari waktu ke waktu untuk menikmati aliran kata-kata dan rasa yang menyertainya.

Ini bukan tempat untuk sekedar bercerita, ini tempat di mana aku menghibur, membelai jiwa-jiwa yang nyaris mati rasa.

**

Hari ini dengan seorang teman aku keluar pertama kalinya setelah suntuk sekian lama bekerja. Bukan beban pekerjaannya yang menjadi masalah, cuma memang pekerjaan yang aku lakukan adalah tipe pekerjaan yang serius. Jadi relaksasi dari waktu ke waktu penting untuk dilakukan.

Lalu tentu saja kami berhenti di sebuah tempat minum kopi yang lumayan tenang di sebuah mal yang lumayan tenang pula. Pembicaraan yang bukan hanya sekedar cerita-cerita, tapi sedikit suplemen buat otak. Di satu titik aku berpikir, dari caramel macchiato dan cappucino bisa lahir ide brilian, tulisan hebat, think tank!

Mungkin atmosfer bohemian yang menginspirasiku. Bahwa kita bisa berpakaian seperti apapun (tampilan agak casual-hippie, dengan jeans, sendal, sling bag, t-shirt dan syal),bertemu siapapun, berpikir tentang apapun, bicara apapun dan menulis tentang apapun. Bahwa dari sebuah tempat ngopi, lahir pemikiran, strategi dan semangat baru.

Lalu saat itu terlintas, “so much comes out just from a talk over coffee”. Dan lahirlah jargon yang simbolik untukku, “over coffee”.

Cuma, sepertinya pengorbanan besar untuk mengganti “docere” dengan “over coffee”. Filosofi docere adalah makna kata dasar bahasa latin tersebut, yang diterjemahkan sebagai “to teach”. Dan bagiku, mengajar bukan menggurui atau menuturi (“to dictate”), tapi menyibakkan, menyingkap (“to unveil”). Menyingkap apa yang telah dan bisa kita ketahui.

Docere for me means unveiling the knowledge, wisdom and power that is within us; that is closed from our sight before we unveil the layers covering them.And that word, being the root word of an existence that means a lot to me, is not easy to let go.

And yet, this unveiling, is again what can be done over coffee. It takes a clear mind, a free floating discussion with enthusiasm and passion, and all of us can have a “docere over coffee”.

Where Am I?

You are currently viewing the archives for January, 2009 at Docere.