sahabatku

November 26, 2008 § 1 Comment

Aku bingung, aku kacau dan kesakitan.

Aku dan dia, sahabatku, pernah saling membutuhkan.

Dia penting buatku, karena kehilangan dia berarti kehilangan sebagian diriku. Tanpa dia, bagian diriku yang lemah, rapuh, tidak sanggup berdiri sendiri. Tanpa dia, bagian diriku itu akan kusisihkan, kutepikan, kulupakan dan kuendapkan entah di mana, terkubur dalam-dalam sampai layu kering.

Karena dia aku berani hidup, berani merasakan, berani berbagi dan mencintai. Karena ada dia, aku tidak takut terluka dan hancur berkeping-keping. Karena suatu saat pernah ada dia dalam hidupku.

Dan sekarang aku tertinggal, hanya ada bentakan-bentakan. Ketidakpedulian. Hanya ada pertanyaan-pertanyaan dan kesedihanku.

Sekarang dia tidak membutuhkanku, dan aku tidak boleh membutuhkannya. Dia dan kehidupannya. Dia dan teman-temannya. Dia dan segala-galanya, kali ini tidak ada aku di dalamnya.

Advertisements

dari bidadari penyair

November 26, 2008 § Leave a comment

…lalu kita tertawa

sempat pula kita menangis

dari jiwa yang bertemu lahirlah cerita

pada lebih dari 2000 kali pergantian matahari

dan hampir 200 jiwa berbeda yang melayang bersama

kita bertemu, bukan sekedar untuk berpisah

kenangan manis, diantara tangis

bidadari penyair yang menuliskannya pada larik pelangi

tersimpan di langit

ada terbaca tiap kali kita menengadah

sibakkan bintang, sibakkan kelam malam

saat menatap ke arah surga

di sana aku selalu ada

**

Ini puisi perpisahan angkatan 2001 yang ditulis Almh. Diya Arafah. Luar biasa, seperti yang sempat kukatakan padanya, aku sangat suka tulisan ini.

Dan tiba-tiba saat ini, saat aku kehilangan teman baikku, tercampakkan, kebingungan, puisi ini datang pada saat yang tepat, memberikan pesan harapan, atau justru jeritan kehilangan.. Entah. Di saat kesakitan pun aku mencari ketenangan dalam keindahan..

Where Am I?

You are currently viewing the archives for November, 2008 at Docere.