Diam-diam

July 11, 2008 § 1 Comment

Sayang, di pantai ini angin memelukku seperti kau memelukku. Di pantai ini aku ingin menggenggam tanganmu. Nyanyikan aku kasih sayangmu. Mungkin aku sampai lapuk akan menunggumu, menunggu belaianmu. Waktu ombak menerjang pantai aku membisu, karena aku ingin merasakanmu. Waktu panas pasir membakar kakiku aku tak bergeming, aku rindu kamu. Tolong ombak, kalau kembali ke lautan berikan salamku pada kekasihku. Biar matahari membuatku merasakan hangatmu. Biar teriknya membakar amarah seseorang yang ditinggalkan. Biar di remang-remang bulan aku mendambamu. Biar di kegelapan aku menunggumu.

Sayang, puisi cintamu hanya berupa sentuhan-sentuhan halus, belaian yang mengoyak kesendirianku. Aku tahu kau sudah terlanjur sayang padaku. Sedangkan aku terlanjur mencandu kasih sayang dan kelembutanmu. Terima kasih karena serendah apapun diriku, kau menerimaku.

Sayang, aku ingin menyentuhmu. Sumpah, aku ingin menyentuhmu. Biarkan aku mencintai, mengagumi, menginginkan. Di balik kesombongan dan ketakutan kita, di balik persahabatan kita, ada cinta dan keinginan: Aku ingin menjelajahi tubuhmu. Dan aku tahu kau bukan sekedar menyayangiku seperti sahabatku, kau jatuh cinta padaku. Dan berulang kali kaukatakan padaku: kau mendambakanku. Terima kasih karena telah begitu berani menyayangiku walau kita tidak akan pernah bersama. Aku akan tetap ada di dekatmu. Supaya kau bisa memilikiku diam-diam.

-untuk Idoth dan Oci dan kisah cinta yang tidak pernah dimulai-

Advertisements

Where Am I?

You are currently viewing the archives for July, 2008 at Docere.