Kemutuk

June 14, 2008 § 3 Comments

Sebelum berangkat ke desa aku katakan pada anak2 bahwa kita harus menganggap bahwa kita akan backpacking di Tibet. Aku bahkan tidak tahu Tibet seperti apa,selain dari imajinasiku bahwa itu adalah tempat di pegunungan, dingin, udara segar dan fasilitas minimal. Kemutuk adalah desa yang terletak paling utara di kecamatan Tempuran Kabupaten Magelang. Kami menuju tempat tersebut dengan 4 mobil,penuh dengan barang-barang yang kami harap dapat meminimalkan penderitaan kami tinggal di desa.

Jalan mendaki, berliku, satu jalur,satu arah. Bukit, gunung, parit-parit menghimpit. Deru mobil membawa kami makin tinggi sampai jalan menyempit, rumah-rumah menghilang digantikan pepohonan, persawahan. Balai desa tampak dan kami berhenti.

Kami disambut perangkat desa dan satu set meja baru yang masih berselimut serbuk gergaji, buatan desa asli dan berkualitas tinggi. Kata sambutan yang 100 persen bahasa jawa halus dengan logat kental yang entah dari mana seketika membuat para dokter muda pucat pasi,terutama karena hanya segelintir dari kami yang bisa berbahasa jawa. Kami kemudian diantarkan ke rumah Pak Lurah yang akan menampung kami seminggu ke depan. Hati kami langsung ringan disambut dengan emping dan teh manis.

Sebenarnya kami berniat langsung survey, namun untuk menghormati kebiasaan kulanuwun setempat kami akhirnya menunggu Pak Lurah selama 1 jam yang akhirnya dibarengi menunggu waktu makan siang, dan barulah kami berangkat survey menjelang waktu Ashar. Dibagi menjadi tim 2 orang kami mendatangi rumah-rumah, berbekal kuesioner, perut kenyang dan bahasa jawa pasif kami.

Sebelum survey kami mencari kamar mandi, dan sebagai informasi, di Kemutuk tersedia beberapa alternatif kamar mandi dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pertama di rumah Pak Lurah: saat masuk yang ada di pikiran saya adalah kolam penangkaran ikan,yang berfungsi sebagai bak air, lengkap dengan ikan di dalamnya dan WC cemplung (yang hanya berupa tempat jongkok yang bagian bawahnya berlubang). Kamar mandi ini berukuran besar, 2×2 meter dengan sekat dan dinding yang tidak rapat dan rasanya berhubungan dengan dunia luar. Kemudian MCK di depan balai desa, yang terdiri dari 2 tempat mandi dan 2 WC, semua di bawah satu atap. Menariknya, di salah satu WC pintunya bolong besar di bagian bawah sampai ketika teman saya jongkok maka saya dari luar bisa dadah-dadahan dengannya. Saya sendiri lebih suka MCK balai desa tersebut, airnya mengalir, dengan dinding rapat dan Insya Allah aman dari pengintipan. Waktu itu saya katakan ke teman-teman saya, MCK balai desa ini lebih nyaman daripada kamar mandi sebuah youth hostel jorok di Paris yang pernah saya singgahi saat backpacking. Selain itu masih ada kamar mandi yang bisa ditumpangi di rumah ibunya Bu Lurah. Lumayan lah.. Air berasal dari mata air pegunungan (suer, ini bukan cuma tulisan boong di kemasan air mineral) yang dialirkan dengan pipa paralon ke tempat-tempat penampungan di desa.

Saya dan Ilke kemudian berkelana mencari sasaran survey. Dan dengan gaya interogator kami, terkumpullah 9 hasil survey dalam waktu 3 jam, yang menurut kami adalah hasil fantastis mengingat medan yang kami lalui tidak mudah.
Setelah mengumpulkan kesembilan hasil itu kami memutuskan sudah saatnya istirahat dan akhirnya kami hanya duduk-duduk di depan rumah Pak Lurah sambil menikmati bintang-bintang yang dengan gagah memamerkan diri di langit Kemutuk. Dan malam itu kami memuaskan diri dengan kisah-kisah kegagalan percintaan masa lalu yang kadang memalukan, kadang menyedihkan. Setelah makan malam tugas berlanjut dengan penghitungan hasil survey sampai saya akhirnya menyerah pada kantuk.

Esoknya kegiatan terfokus untuk menyelesaikan tabulasi data, dan sayangnya medan pegunungan ini membuat tubuh saya kewalahan. Kemungkinan kelelahan juga melemahkan kekebalan tubuh saya dan meningkatkan kerentanan saya terhadap alergi. Saya bersin dan meler non-stop selama 3 jam bahkan setelah minum anti-alergi dan dekongestan. Saya berulang kali sisi dengan tisyu di depan teman-teman dan saya bilang, maaf kalau saya membuat mereka menderita dengan suara-suara itu,tapi saya lebih menderita dari mereka jadi mohon . Di kantor kecamatan pun saya tidak efektif mengumpulkan informasi karena terlanjur pusing dan pilek. Akhirnya setelah minum obat anti-alergi yang lebih mujarab saya membaik,dan bertekad minum obat rutin saja untuk pencegahan.

Siang itu kami makan di magelang dan benar-benar puas menikmati kebersamaan. Nyaman dan menyenangkan! Sore sampai larut malam kami kembali sibuk berkutat dengan tabulasi survey dan menyiapkan bagan untuk dipresentasikan di musyawarah desa esoknya. Keadaan cukup rumit karena walau kami punya modal sedikit info tentang apa yg hrs kami presentasikan, tetap saja sebagian besar persiapan kami didasarkan pada insting. Persiapan berjalan sampai sekitar jam 11 malam, tapi beberapa pejuang bertahan sampai jam 3 pagi.

Esoknya kami cukup santai memulai hari dan makan siang di.. KFC. Keputusan mencoba jalur alternatif lewat Kaliangkrik sempat membuat saya kebat-kebit karena kami hanya mengandalkan bertanya pada orang di jalan untuk bisa sampai ke Kemutuk tepat waktu. Siangnya kami melakukan MMD. Saya cukup senang melihat bahwa tingkat partisipasi perempuan desa juga cukup tinggi walau belum proporsional dengan jumlah mereka dibandingkan para pria.

setelah MMd dimulailah serangkaian kegiatan kami untuk warga. Penyuluhan sempat berjalan tertatih-tatih karena kendala bahasa,namun dengan senyum dan keberanian yang luar biasa Bos Chief Hendri Hidayat dan Ilke Karkan berhasil menaklukkan warga dan membuat mereka paham tentang gizi dan kesehatan. Selanjutnya penyuluhan tentang rumah sehat disampaikan. Kegiatan berlanjut esoknya dengan lomba memasak antar RT. Hari berikutnya diisi dengan lomba rumah sehat dan penyuluhan di SD Kemutuk.

Saya menemukan sebuah anjungan alam yang super indah di balik bukit. Sebuah hadiah spektakuler atas sedikit rasa ingin tahu. Berjalan sedikit ke arah persawahan dari rumah Pak Kades, menyusuri pematang, naik ke atas bukit terjal yang berliku, masuk ke daerah berkanopi, dan sampailah kami ke area terbuka yang luar biasa indah: anugerah Tuhan untuk Kemutuk. Sawah membentang, landscape yang gagah terlalu rendah hati untuk minta dikagumi. Terasering mengalasi lereng bukit, batu-batu besar seperti menahan sawah di atasnya. Pohon kelapa menjulang, tersebar di antara petak-petak sawah. Semua itu dengan warna kontras biru langit membaur; hijau, kuning dan biru menjadi satu. Alam melukis dengan cahaya. Kebesaran Tuhan tampak sejauh mata memandang. Aku beruntung bisa menikmatinya.

09062008

Ada yang membuatku merasa Kemutuk sangat familier. Mungkin nostalgia dari jaman primitif, saat aku kecil nyaris tiap tahun aku berlibur ke rumah eyangku di Kaliurang yang notabene masih bersuasana desa. Aku menikmati tempat ini: kenyamanan udara siangnya, pemandangan indahnya, hamparan bintangnya, ketulusan senyum dan kata-kata warganya.

Ada cerita di balik foto-fotoku. Satu yang paling kusukai adalah fotoku yang dijepret Ilke. Aku berdiri di depan rumah Pak Lurah, tersenyum malu dan bahagia sekaligus. Masalahnya di foto itu aku memeluk sebuah kantong plastik besar berisi semua barangku yang tertinggal di seluruh penjuru rumah Pak Lurah: 1 kaos, 1 jilbab, senter, sepatu, dan sleeping bag! Memalukan. Tetap saja di foto itu wajahku berbinar-binar dan bahagia. Seperti biasa, itulah wajah puasku setelah “traveling” (ingat: berlibur ke Tibet!). Bahagia karena aku lagi-lagi merasa lebih hidup di tempat ini. Bahagia karena aku bersama teman-teman baru dan.. Karena im with my guy there.

Happy_and_relaxed

Di hari kepulangan kami suasana cukup..aneh. Kombinasi kelegaan karena kembali ke habitat asli kami, kesibukan memikirkan laporan yang harus diselesaikan dalam semalam, keengganan meninggalkan orang-orang baik yang tulus menyambut kami di desa. Dan seperti yang selalu saya rasakan saat traveling ke manapun: tekad kuat dan keyakinan bahwa saya akan kembali mengunjungi tempat indah ini suatu saat nanti.

ajeng. http://docere.antiblog.com

Advertisements

Where Am I?

You are currently viewing the archives for June, 2008 at Docere.