PUBLIC ANNOUNCEMENT – WANTED: A GOOD MAN

May 3, 2008 § 2 Comments

Malem minggu calon dokter yang single buat apa?

Kalo lagi ga ada acara keluar ama temen2 (pernah nih, ngga banget: ke tempat hangout yang ada live music-nya dan kita sibuk godain para pemain bandnya, just for fun. Rusuh dan ngaco banget, kuakui. Mungkin kebanyakan kopi, jadi ga bisa berpikir jernih.), pergi ma keluarga, nonton DVD, baca buku.
Sekedar info, dari kelompok koasku yang 5 orang yang udah punya calon suami Cuma Sita seorang. Sisanya yaitu Aku, Ang, Astia, dan Ainayah (semua bukan nama sebenarnya) adalah cewek-cewek single yang belum beruntung, seperti Wulan: belum ada yang ngajak nikah!

Pernah ada dosen yang tanya-tanya sekedar refreshing, aku punya pacar ngga. Aku bilang ngga sambil senyum-senyum karena malu (bukan karna malu blum punya pacar, tapi itu kan urusan pribadi, penting yah dosen tau, masi mending kalo mau njodohin!). Trus dia bilang, “kamu mau langsung nikah aja ya..?”

Eitsss, tunggu dulu. Jangan salah. Lagi gak punya pacar bukan berarti anti pacaran loh. Aku ngga tau dengan 3 gadis single lain di kelompokku, tapi kalo aku sih bukannya tidak mau pacaran. Pacaran itu penting. Harus dong saling kenal dulu. Cuma ya itu tadi, belum beruntung, hehe… (lihat ini pasti 3 temen koasku itu bilang, “Iiiiih, ajeng desperate banget sih lo, malu-maluin!” dengan mimik muka yang menunjukkan keilfilan mereka padaku). Cuma aku kan orangnya nyantai dan cenderung melucu-lucukan kenyataan yang sebenernya ga lucu.

Emang sih pernikahan dini sekarang lagi tren buat para siswa sekolah dokter. Biar ga keburu sibuk, alasan standarnya. Ato biar masih dalam masa optimal bereproduksi (astaga, biologis banget seeeh!). Dan emang temenku ada yang nyesel belum nikah tapi udah keburu ujian sekolah spesialis dan kerja. Susah cari waktu nikahnya katanya. Sibuk banget, dan sebagaimana yang rekan-rekan siswa sekolah dokter tahu sendiri, jadi dokter (terutama di bagian besar) itu kerjanya 40 jam sehari, 8 hari seminggu. Ga boleh cuti kalo masih PPDS tahun pertama, Cuma bisa ijin sehari tok buat nikah. Gitu deh…

Dan tadi secara tak sengaja aku denger temen cowokku bilang, “aduh, iya nih gue butuh calon istri!”. Omigosh! PAS BANGET tau ga seeeh, aku juga butuh calon suami!!! Hmmm… TRING! What if we hook up???? Hahaha, aku ga bilang gitu tentunya… Wah, seandainya dunia semudah dan seindah itu.

Sementara nih, papiku udah gusar aku belum mengenalkan pria spesial. Entah pengen segera gendong cucu ato emang masih perspektif tahun 60 sampe 80-an: usia menikah adalah setamat SMA. Omigod…susah bener sih membahagiakan orang tua.

Yah, at this point in my life I’m so freakin ready for a serious relationship. So, here’s a public announcement, WANTED: A GOOD MAN! U know where to reach me =)

-Ajeng. http://docere.antiblog.com

Advertisements

Anima Mundi

May 1, 2008 § 3 Comments

Dia dipanggil Wulan. Melihat dia kita harus melihat garis keturunannya. Siapa-siapa orang tuanya, kakek neneknya, keluarga besarnya, dan yang lebih penting, bukan siapa tapi apa yang mereka lakukan untuk rakyat. Kalau melihat dia saya pikir sama saja seperti melihat anak muda jaman sekarang yang lain, dia suka main musik, nongkrong (kadang, tidak sering) di kafe, membicarakan hal tidak bermutu dari infotainment. Penampilannya asal, temannya bilang cenderung “ancur”, ke kampus dengan sendal, jeans dan kaos oblong saat di kampusnya yang diperbolehkan adalah baju semiformal berkerah dan sepatu dengan ujung tertutup. “I go for comfort”, katanya. Dia bilang neneknya mungkin kecewa padanya, dia gagal total jadi putri bangsawan Jawa yang lemah gemulai. Cenderung memalukan kalau identitas darah birunya diketahui masyarakat.

Karena aku tahu dia, aku tahu banyak kekurangan dan kekhawatirannya. Kecenderungannya tampil sebagai figur yang mandiri tapi butuh orang yang bisa dipercaya di sisinya, yang bisa melembutkannya. Keras penampilannya, pembawaannya, kadang perkataannya, tapi sebenarnya lembut hati dan luar biasa penyayang. Aku juga tahu hatinya, jiwanya, yang dia bagi pelan-pelan denganku. Aku tahu buku-buku apa yang dibacanya, yang juga sekelebat kubaca. Aku tahu ada cerita-cerita tentang Soe Hok Gie yang memompa darahnya. Ada koleksi nyaris lengkap dari 2 penulis spiritual-religius, profesor-profesor yang menulis karya populer, yang mati-matian dia kejar, dia katakan dengan bangga bahwa mereka inspirasinya. Ada setumpuk buku-buku yang dia baca asal-asalan sampai halaman 20-an, lalu dia lempar begitu saja ke karpetnya, tidak pernah diselesaikan. Dia bilang buku-buku itu ngawur. Ada yang dia bilang tidak cocok dengan jiwanya, salah satunya, saya tahu, adalah novel Ayat-Ayat Cinta yang dicintai begitu banyak orang. Dia tidak suka beratnya “content” fikih di buku itu; kurang ruang untuk berpikir katanya.

Kata orang dia beruntung. Tapi saya tahu dia bisa seperti sekarang bukan karena dibelai kemewahan, ditinggi-tinggikan karena status ningratnya, atau diistimewakkan karena bapaknya adalah seseorang. Dia seperti sekarang karena karakter yang ditanamkan orang tuanya: etos kerja, integritas, ambisi, melayani rakyat; karena pengalaman hidup yang sudah jauh melampaui 25 tahun hidupnya. Ada yang tidak suka dengan pencapaiannya, dan kemudian berpesta pora menghinanya, merancang kebohongan yang sampai hari ini masi tercecer-cecer di selokan dan kepala orang-orang yang kurang berpikir. Yang mengenal dia tahu bahwa tidak mungkin dia seperti itu, karena dia tulus, jujur, dan punya integritas; sesuatu yang tidak dipunya lawan-lawannya.

Saya tahu penderitaannya, saya tahu saat dia merasa batinnya sakit dan menderita. Tapi dia jarang mengeluh. Dia bilang, “lebih baik semua orang yang bohong tentang aku itu lihat aku sudah sampai mana sekarang. Biar tenaga mereka habis memfitnahku. Biar Allah yang mewakilkan urusanku.” Di tengah semua itu dia juga berkata, “Jeng, ini latihan buat hati. Hidup masih panjang, dan urusanku di dalamnya masih banyak. Ini Cuma latihan. Yang meremehkan itu takut dan lemah, yang berbohong itu iri, yang memfitnah itu sudah kehabisan akal karena dengki mereka”

Dia baru saja merasa kehilangan. Aku tahu dia dekat betul dengan kakaknya. Mereka sampai melibatkan air mata kalau sedang ribut. Tapi seperti hampir semua adik, dia mengidolakan kakaknya. Dia “emotional blanket” Wulan. Dan Wulan hanya membiarkan dirinya rapuh di depan kakaknya, satu-satunya orang yang menurutnya betul-betul mengenalnya. “Kakakku jeng, dia pindah dan sekarang sudah kerja di tempat lain. Dia bukan cuma kakakku, dia sahabatku. Sekarang dia pindah, dia sibuk. Dia tetap kakakku, tapi aku merasa kehilangan sahabatku.” Aku tidak pernah melihatnya sesedih saat itu. Gantian aku yang bilang padanya, “Tidak ada bentuk yang abadi. Dia tetap kakakmu kan? Dia tetap sahabatmu. Kamu tetap orang paling penting dalam hidupnya, orang yang paling disayanginya. Dia tetap ingin kamu memeluknya saat dia sedih, dia tetap ingin kamu tertawa saat dia melucu, dia tetap ingin menceritakan segalanya padamu. Dan kamu tetap sahabatnya” Tapi aku tahu dia tetap merindukannya, setiap hari; tajam, mengiris sampai menembus hatiku jika aku melihat wajahnya.

Dia guruku. Aku geleng-geleng melihatnya bukan karena dia makhluk sempurna, tapi justru karena aku tahu minus-minusnya. Dia kukagumi karena jalan yang dia pilih sepi dilalui orang. Dari sekian banyak manusia, sebagian saja yang mau meluangkan waktu berpikir dan merenung, apalagi yang punya “software” yang cukup canggih untuk itu. Dari sekian yang berpikir, sedikit yang pikirannya menempuh jalan kebenaran di sisi rakyat, di sisi orang yang benar tapi tertindas. Dari sekian orang itu, segelintir yang punya nyali bicara tentang hal yang mereka temukan dan renungkan. Cari orang pintar gampang, tapi kebanyakan mereka puas jadi pengecut. Pemberani banyak, tapi bodoh atau mungkin kurang pintar. Orang pintar yang pemberani tidak banyak, dan dia salah satunya. “Ada waktunya harus diam Jeng. Hidup itu serius, tapi kadang juga main-main. Kata kakekku, orang harus bisa punya kepribadian macan: kuat, cepat, berani dan apa adanya, mengaum di saat-saat tertentu. Tapi orang juga harus sanggup jadi ular: mengendap, mengkristal, merenung.”

Gairahnya untuk bicara di depan umum besar. Walau ke semua orang dia bilang dia pemalu tidak akan ada satu nyawapun di bumi yang akan percaya. Diminta presentasi atau bicara di depan umum dia akan bilang bahwa dia bersemangat membagi apa yang dibaca atau diketahuinya ke banyak orang. Jika ditanya dia berusaha menjawab, dan jika tidak tahu jawaban dia akan menjawab apa yang diingatnya dan bilang bahwa selain itu dia tidak tahu. Dia tidak pernah menggurui. Suatu kualitas yang menurutku akan membuatnya jadi guru yang hebat. Dia berbagi, berdiskusi, bertanya, mengajak berpikir, tapi tidak pernah menggurui.

Dia penyemangat. Siapapun yang menceritakan rencana mereka padanya, seremeh-temeh apapun, sebesar duniapun, akan dia beri semangat. Dia antusias mendengarkan, menanyakan, dan menyemangati. Dia cheerleader semua orang. Dia yang dibalik semua perhatiannya menyampaikan satu pesan: jalani cita-citamu. Dia pernah berkata, “Ada rencana yang kelewat tinggi tanpa modal yang cukup. Ada rencana yang dibuat karena tetangganya punya rencana itu dan dia pikir enak juga kalau bisa hidup seperti itu. Ada rencana yang disusun karena itu yang paling praktis dan mudah. Ada rencana yang disusun karena orang mau gampangannya saja tanpa banyak usaha. Ada rencana yang dibuat tanpa mau melihat kenyataan sama sekali. Ada rencana yang rendah hati dan tulus, yang dibuat dengan melihat tanda-tanda dan jawaban Tuhan, yang dengan hati-hati dan penuh semangat dibarengi dengan usaha keras dan pengharapan pada Tuhan, yang penuh rasa syukur. Yang terakhir itu Insya Allah rencana yang ingin sanggup kujalani.”

Ditanya apa rencananya, dia biasanya menjawab realistis dengan sedikit malu-malu. Dia bilang harus menjalankan kewajiban dulu, melayani di daerah. Setelah itu dia ingin menjalani pendidikan spesialis. Biasanya dia hanya menjawab sampai situ. Lalu si penanya akan bertanya lagi, “Gak ke luar negri?” karena buat mereka sepantasnya orang seperti Wulan belajar di luar negri saja. Dia akan bilang, “Insya Allah.” Ada temannya yang bilang ingin kerja untuk WHO setelah lulus. Dia agak bisik-bisik bilang padaku, “Insya Allah aku pengen di guideline-guideline internasional WHO dari Jenewa itu ada namaku.” Kenapa bisik-bisik? Dia pernah bilang padaku, “Mimpi kita bisa jadi racun yang menimbulkan kebencian dan rasa iri orang lain. Mimpi kita juga bisa jadi inspirasi orang lain. Tergantung hati seperti apa yang mendengarnya. Aku hati-hati kepada siapa aku menceritakan mimpiku yang mana.”

Lalu pelan-pelan dia cerita padaku, bahwa dia percaya Tuhan sudah menunjukkan jalannya. Dia tahu bahwa dia akan melayani. Dan jalan yang dipilihnya adalah pendidikan. Buatnya itu adalah konteks yang lebih besar dari kesehatan. Sudah banyak dokter, katanya. Dia ingin jadi guru. Dia bisa punya visi untuk masyarakat dan negara; dia bisa punya visi untuk 20 tahun mendatang, dan dia punya komitmen untuk mencapainya. Dia tahu bahwa dia punya minat, bakat dan kemampuan untuk menjadi guru. Dia bilang dia tidak akan menyia-nyiakannya, Insya Allah itu jalannya. Dia bilang, “Daripada yang dapat beasiswa ke luar negri hanya orang yang ingin gaya-gayaan dan dikagumi, daripada yang terpilih adalah anak orang berkuasa tapi kemampuan minimalis, daripada yang dipilih adalah orang yang takut-takut, yang tidak tahu mereka mau apa, yang hanya ingin jalan-jalan; lebih baik aku yang betul-betul ingin saling belajar dari mereka-mereka di luar negri, yang tulus ingin melayani negara, yang punya kemampuan” Lalu dia melanjutkan, “Lebih baik aku yang jadi pengajar, daripada orang-orang yang ingin jadi dosen karena mereka anak dosen yang cari gampangnya saja padahal tidak tulus ingin mengajar, atau biar anak-anaknya gampang masuk kedokteran karena bapak-ibunya dosen, atau sekedar ingin gaji bulanan yang mapan sebagai PNS. Lebih baik aku yang punya jiwa berbagi, mencari, berpetualang sampai aku tersesat dan menemukan diriku di jurang ilmu. Lebih baik aku yang dari tetesan darah ini mengalir darah guru. Lebih baik aku yang bersemangat melayani, bergairah belajar dengan mengajar!”

Pedas, panas. Tapi itu ucapan jujurnya yang hanya dia ungkapkan padaku. Mungkin aku kebanyakan bergaul dengannya, tapi aku berharap bisa punya “api” seperti dirinya. Dia bilang api itu hasil dari usahanya mengenal dirinya sendiri dan kehidupan. Anima mundi, katanya.

Dia penghibur, lucu. Kadang guyonannya kelewat batas dan terlalu “serius”. Yang tidak kenal dia bisa tersinggung berat mendengar komentar-komentar sarkastiknya yang asal-asalan, yang seringnya hanya untuk melepas stres.

Dia bilang dia budak cinta. Cinta dan persahabatan adalah pesan agung yang tertulis di langit dan hati kita cukup besar untuk menanggung konsekuensinya. “Aku payah. Aku berusaha hidup dengan cinta. Bangun setiap pagi dengan mencintai pekerjaanku, mencintai orang-orang yang dekat denganku. Tapi kamu mesti ingat, jangan kehilangan dirimu kalau mencintai orang lain. Kamu tetap kamu, dengan semua impian, cita-cita dan garis hidupmu. Aku pernah terseret-seret, bingung. Karena aku sangat mencintai seseorang aku hampir merelakan diriku yang sesungguhnya. Aku takut kehilangan orang yang bisa kucintai, yang mencintaiku. Aku takut kehabisan cinta. Aku jadi posesif, menyebalkan. Tapi kemudian aku sadar, aku bukan hanya siapa yang kucintai. Aku bisa selalu mencintai karena Tuhan, dari-Nya semua berasal, dari-Nya semua kembali. Dan mengingat-Nya aku kembali menemukan diriku.”

Dia seorang romantis yang putus asa. Didesak cepat nikah sama bapaknya. “Ya ampun Jeng, cewek jaman sekarang masak disuruh langsung nikah begitu umur 20. Calonnya aja belum ada!” Saya bilang padanya, “kamu itu terlalu cuek. Kamu cewek tapi gayamu ancur gitu. Kamu sibuk ngurusi segala macam, belajar terus, baca buku terus, kapan kamu mau cari pacar lagi?” Dia bilang sambil guyon, “susah ya bo. Cowo mesjid takut liat aku, takut gagal membawa ke surga kali. Cowo kafe takut liat aku, ngira aku agamis banget. Yang tengah-tengah pada di mana ya…” Dia dituduh terlalu mandiri, pemilih dan punya standar terlalu tinggi. Kenyataannya memang dia belum beruntung, belum ada yang ngajak nikah! Saya tahu persis seperti apa setia dan penyayangnya dia. Sisi lembutnya yang istimewa hanya dia tunjukkan ke beberapa teman dekat dan mantan pacarnya yang “ternyata belum berjodoh”.

Kawan-kawan kami bilang bahwa dia punya “stage presence” yang luar biasa. Kesan kuat dan berwawasannya terasa, kontras dengan penampilannya yang tidak lepas dari dandanan. Kerendahan hatinya tampak dengan ketertarikannya yang tulus terhadap orang lain yang ditemuinya. Penerimaannya terhadap semua orang terasa oleh tiap hati yang disentuhnya. Buat dia setiap orang bisa dia jadikan guru dan orang yang dia cintai. Ketulusannya itu kami terima dengan senyuman. Dia selalu meninggalkan kesan yang dalam bagi orang lain.

Lebih dari orang lain sebaya kami yang pernah kutemui, dia berusaha mengenal dirinya. Dia bilang dia berulang kali mati dan hidup kembali. Berulang kali ragu dan yakin kembali. Berulang kali tersesat dan kembali. Berulang kali kehilangan dirinya namun selalu menemukan dirinya lagi. Anima mundi, katanya. Temukan jiwa duniamu, “your soul of the world”, jiwa yang mengarahkan garis hidupmu, alasanmu ada di dunia ini, caramu melayani Tuhan. Dan aku harap aku menemukan anima mundi-ku.

-Ajeng. Semarang 1 Mei 2008. http://docere.antiblog.com
Untuk seorang teman setia. Terima kasih untuk segalanya.

Where Am I?

You are currently viewing the archives for May, 2008 at Docere.