berkelana

April 29, 2008 § Leave a comment

Satu hal yang tidak pernah betul-betul saya ungkap ke banyak orang. Bahwa dari pengalaman saya bertemu dengan banyak orang dari berbagai negara dengan beragam latar belakang, banyak betul yang saya pelajari. Yang saya syukuri adalah kesempatan yang saya dapatkan untuk banyak berdiskusi dengan mereka soal agama dan kepercayaan, perbedaan dan persamaan budaya, kehidupan. Mungkin sulit untuk dipahami bahwa interaksi bisa menjadi hal yang sangat berharga dan luar biasa mengasyikkan, namun itu yang saya rasakan.

Tinggal di luar negri bisa memberi saya jarak dan ruang yang saya butuhkan untuk mengevaluasi cara saya mengenal negara, tempat hidup saya, agama dan sistem hidup saya. Bukan tidak bisa diskusi asyik di sini, tapi tentu saja konteksnya berbeda jauh karena walau bagaimanapun “di sini” masih lebih homogen daripada di sana di mana saya bertemu macam-macam manusia.

Mungkin terdengar klise dan tidak realistis kalau ada ungkapan bahwa seorang pengelana, traveler, pergi untuk menemukan dirinya sendiri. Tapi saya tahu itu benar karena saya mengalaminya. Bahkan saat saya berada cukup lama di suatu negara pun saya selalu menyempatkan untuk melakukan perjalanan ke tempat-tempat lain, melancong, pesiar. Kalau beruntung ada temannya. Kalau tidak ada teman tidak apa-apa. Buat saya, bepergian sendirian ini terasa seperti sebuah perjalanan spiritual. Kalau tidak ada orang lain yang bersama di perjalanan, maka semua indra kita akan lebih peka, lebih awas dan waspada terhadap semua rangsangan dari luar. Semua yang saya lihat, dengar dan rasakan jadi indah, melankolis, syahdu. Hal paling kecil dan paling tolol bisa diambil hikmahnya. Ada romantisme yang saya nikmati sendiri diam-diam dalam hati.

Saat-saat berjalan di tengah keramaian orang di Paris, Florence, Venice, Madrid, Roma, adalah saat-saat di mana saya belajar (saya mengutip seorang alim) untuk “melihat Allah di depan, di dalam dan di balik segala sesuatu. Saat saya sedang konsentrasi penuh presentasi di depan mahasiswa dan dosen di Nijmegen adalah saat di mana saya bersyukur karena diberi kenikmatan dan kesempatan yang luar biasa, wahana untuk tenggelam dalam kemewahan intelektualitas gaya barat. Syukur, syukur, syukur. Itu yang dengan susah payah saya pelajari selama saya belajar dan berjalan-jalan.

Bepergian sendiri itu, percaya atau tidak, adalah latihan yang bagus untuk jiwa kita. Itulah saat di mana kita belajar menggantungkan diri pada Yang Di Atas. Bismillah. Semoga Allah melindungi dan memudahkan saya dalam perjalanan ini. Sebuah upaya yang kalau hanya menjalani rutinitas sehari-hari sukar dihayati karena kita hanyut dalam kebosanan. Di perjalanan sendirian semacam itu, orang asing bisa jadi kawan, penolong, penunjuk. Tangan-tangan Tuhan yang menyentuh kita.

Mungkin hanya di saat hening seperti itu semuanya bisa menjadi jelas. Bahwa ada yang lebih besar dari saya dan perjalanan saya. Bahwa diri saya di tempat itu pada saat itu adalah resultan dari cetak biru Tuhan melalui peristiwa demi peristiwa sebelumnya. Semua kebetulan ternyata bukan kebetulan. Semua jalan yang saya lalui sebelumnya membawa saya ke detik ini di sini. Detik ini di sini adalah bagian dari perjalanan besar saya, my big trip, di dunia ini. Dan dengan perspektif yang lebih holistik, menyeluruh, esoterik, saya melihat ada rencana besar yang jauh lebih besar dari sekedar “diri saya”. Dan saat saya merasa kecil ternyata saya bisa merasa bahagia.

Seorang teman yang sangat saya kagumi kerendahhatiannya mengatakan bahwa semua terjadi karena Tuhan menghendaki. Dia bilang dia tidak pintar, tidak hebat. Tuhan yang Maha Baik padanya. Dan dia memarahi saya kalau sedikit saja dia mencium aroma berbangga diri saya. Tapi lebih dari itu, kalau saya bisa fokus ke segala sesuatu di luar saya, ke suatu sistem yang lebih besar, ke cara saya melayani di dunia, saya amat bersyukur. Bersyukur bisa bersyukur, bersyukur bisa merasa rendah.

Setiap kali pergi ke luar negri, atau hanya bepergian, saya menabung inspirasi. Tidak melulu keluar jadi dongeng atau tulisan, tapi saya biarkan serpihan-serpihan itu menambah kekayaan hati dan memoles saya. Mungkin gabungan elemen-elemen di atas: ada keasyikan merambah dunia baru yang asing; ada gairah menjelajahi ide-ide baru yang sebelumnya tidak terpikir untuk saya sentuh; ada kesejukan dalam hati saat saya sendirian dan merenungi kebesaran-Nya. Kesempatan belajar adalah karunia-Nya, tapi keinginan untuk merenung dan mengambil hikmah adalah pilihan manusia. Saya bersyukur atas keduanya.

-Ajeng. http://docere.antiblog.com, 29 April 2008

Our deepest fear

April 26, 2008 § Leave a comment

Our deepest fear is not that we are inadequate.
Our deepest fear is that we are powerful beyond measure.
It is our light, not our darkness that most frightens us.
We ask ourselves, Who am I to be brilliant, gorgeous, talented, fabulous?
Actually, who are you not to be?
You are a child of God. Your playing small does not serve the world.
There is nothing enlightened about shrinking so that other people won’t feel insecure around you.
We are all meant to shine, as children do.
We were born to make manifest the glory of God that is within us.
It’s not just in some of us; it’s in everyone.
And as we let our own light shine, we unconsciously give other people permission to do the same.
As we are liberated from our own fear, our presence automatically liberates others.

– by Marianne Williamson
from A Return To Love: Reflections on the Principles of A Course in Miracles –

something I truly believe in..

short sweet lines

April 12, 2008 § 1 Comment

Dont cry little girl
I’m on your side
I have your hand in mine
And if you wanna rest for a while,
baby lay here with me

This shelter is not forever
but I’m trying
The promises are not forgotten
they’re just not kept at times
But I promise you forever and for always
For ever and for always

-ajeng, semarang 12/4/08

Where Am I?

You are currently viewing the archives for April, 2008 at Docere.