“dua hari, teman”

December 7, 2007 § Leave a comment

Terlalu banyak yang sudah kita bagi dalam 2 hari, teman. Lewat matamu aku lihat salju yang bukan karena dinginnya aku takuti, tapi karena putih dan kelembutannya aku kagumi. Kalau boleh dalam 2 hari aku merasa mengetahui sebagian kisahmu, maka keberanian jiwamu yang akan kutorehkan selamanya di hatiku.

Hari itu aku menyapamu hanya dengan pandangan mata yang lugu dan membawa sebuah pertanyaan sederhana yang tak perlu kata-kata, “apakah aku bisa menjadi temanmu?”. Dan jawaban itu datang pula meluap-luap dari tatapanmu. Lalu aku datangi kamu dan kusapa, dengan sedikit malu mengakui bahwa aku sudah tahu namamu.

Percakapan pertama yang terburu-buru karena terik matahari mengantar kita ke sebuah perkenalan yang cukup untuk membuatku mengenal apa itu cita-cita, apa itu cinta. Terlalu banyak serpihan ceritamu yang juga milikku. Di antara tuturmu aku ingin menjerit, “Aku sepertimu!” Karena kita berdua percaya bahwa cinta dan persahabatan adalah sebuah pesan agung yang tertulis di langit, dan hati kita cukup besar untuk menampung segala konsekuensinya.

Aku sudah belajar melihat melampaui warna kulit dan bentuk mata. Aku sudah belajar membaca raut wajah, sorot mata, intonasi di balik kata serta bahasa tubuh. Aku sudah belajar melihat melampaui standar moral tinggi kebanyakan orang yang seringkali hanya sebuah konformitas masal: diikuti hanya karena semua orang mengikutinya. Aku sudah belajar bahwa sebuah kesalahan fatal ada hanya karena kita dipercaya untuk tumbuh darinya. Aku sudah belajar bahwa dari hampir tiap orang aku bisa mengambil percikan kebaikan untuk memperkaya hatiku. Dan aku sudah belajar bahwa kadang kita hanya punya 2 tahun, 2 bulan, 2 minggu, bahkan 2 hari untuk mengenal seseorang, dan membiarkannya meninggalkan jejak abadi untuk hidup kita.

Waktu itu tidak ada yang lebih mencengangkan dibandingkan saat aku mendengarmu berkata, “seandainya aku mengenalmu seminggu lebih lama” Seandainya kita punya paling tidak 2 minggu, bukan hanya 2 hari. Kubisikkan padamu lewat tulisan ini, “Aku bersamamu. Dan kita berdua akan tetap mengikuti pesan langit itu”

Ajeng. Semarang, 7 Desember 2007.

Untuk sebuah pertemuan dengan orang yang tepat, namun dengan waktu yang teramat singkat.

Advertisements

Where Am I?

You are currently viewing the archives for December, 2007 at Docere.