sayang betul aku dengan sahabatku ini

November 24, 2007 § 4 Comments

Sayang betul aku dengan sahabatku ini. Jangan salah, aku punya banyak sekali teman, banyak teman baik, beberapa teman dekat dan segelintir sahabat. Dan aku sering berucap, “aku sayang teman-temanku!” Tapi dia, ah, entahlah. Dia sahabat terbaikku. Sebuah sebutan superlatif! Persahabatan tidak bisa dinilai dengan angka, tapi dengannya, aku gunakan kata “ter-“.

Dialah yang menggenggam tanganku saat aku linglung dengan sebuah kegagalan yang kualami. Aku limbung saat mendengar berita buruk itu. Waktu itu mataku langsung panas, kepalaku pusing, dan tiba-tiba semua indraku lumpuh. Sayup-sayup aku dengar suaranya, “Jangan khawatir, masih ada kesempatan lain…” Dia tahu betapa aku menginginkan hal itu, dia tahu betapa aku merasa ngilu dan seperti berdarah-darah saat itu. Aku masih tertegun. Diam. Terpukul. Dan sepertinya dia memegang tanganku, mencoba memberi sedikit kekuatan padaku. Karena saat itu aku masih harus bertemu beberapa orang, aku belum bisa meratapi kegagalanku. Gara-gara masih ada banyak orang di sekitarku, aku harus menenangkan diri dulu dan bertahan sementara waktu sebelum bisa menangis sejadi-jadinya. Dan betul, begitu hanya tinggal aku dan dia, runtuhlah pertahananku. Dan akhirnya aku bisa berduka. Dia ada untukku.

Kata salah satu temanku, “every friendship has their own magic, you can’t explain it” Begitu pula aku dengannya. Mungkin yang paling jelas adalah kenyamanan yang dengan begitu sederhana kurasakan bila bersamanya. Duduk di sebelahnya sudah cukup buatku. Dia adalah obat penenangku dengan jendela terapi yang lebar dan dosis optimal yang mengalir konstan dalam darahku. Satu hal yang kurasakan, aku bisa habis-habisan mengekspose kisahku padanya. Tidak ada keengganan, tidak ada keseganan. Baginya, aku bukan sebuah sandi yang harus dipecahkan. Dia membacaku seperti pawang membaca hujan. Seperti pelaut membaca rasi bintang. Dia tahu aku dan dia tahu kalau aku menyadari hal itu, dia tahu aku merasa nyaman dengan hal itu. Dan makin lama, kami makin fasih dengan kata-kata eksplisit yang kerap kami gunakan untuk menumpahkan bahasa hati. Makin lama, kami makin mahir dengan kediaman yang sebenarnya buah dari kehampaan kami akan kata-kata yang sanggup menjelaskan perasaan kami.

Badai besar pernah menghantam persahabatan ini. Saat itu dia meradang karena aku mengasingkan diri. Saat itu, aku mengasingkan diri karena dia meradang. Entah bagaimana kami sampai ke titik itu. Seolah-olah waktu itu aku melihatnya dari kejauhan, dan bukannya menghampiri aku justru berbalik badan dan pergi. Dia tersakiti tapi aku mati rasa.

Namun kenyataannya, saat kita terpuruk sampai ke dasar, saat itu pula tidak ada arah lain untuk bergerak kecuali untuk kembali naik ke permukaan. Apa yang kupikir adalah ucapan selamat tinggal terakhir untuknya justru memberi nyawa baru untuk persahabatan kami. Sekarang, hari-hari keterpisahan kami itu adalah lembaran lama yang sudah ditutupnya. Belakangan dia mengejutkanku dengan mengatakan bahwa sepenggal lirik lagu sempat menjadi soundtrack episode itu dalam hidupnya.

"Wanting you to be wanting me.
No that ain’t no way to be.
How I feel, read my lips,
because I’m so over..
Moving on, it’s my time,
you never were a friend of mine.
Hurt at first, a little bit,
but now I’m so over.
I’m so over it.."

Dan jujur aku terenyuh. Baru kali itu aku mengerti benar apa yang dia rasakan saat itu. Baru kali itu aku paham kehilangan semacam apa yang dia rasakan. Dan rasanya aku ingin minta maaf lagi dan lagi padanya seperti yang kemarin-kemarin belum cukup. Masa itu menyakitkannya dulu. Masa itu masih menyakitkan buatku sampai sekarang.

Sekarang ini kami lebih memahami satu sama lain. Lebih tenang dalam menghadapi keterbukaan yang kadang kebablasan. Lebih sabar menghadapi kekesalan-kekesalan dan tuntutan-tuntutan yang kadang hanya sekedar pelampiasan keletihan. Lebih kuat menghadapi kenyataan bahwa jarak adalah sebuah kenyataan hidup yang tragis namun kami tidak harus kehilangan satu sama lain karenanya. Lebih siap menjalani kenyataan bahwa dia harus pergi.

Persahabatan ini membuatku merasakan keindahan, dan itu yang kuelu-elukan, kudengung-dengungkan penuh rasa syukur. Kunyanyikan dengan riang. Persahabatan ini. Keindahan ini. Dengan khidmat dia menyimaknya. Sekali waktu menyedihkan memang, saat kerinduan membuat kami mengharu biru. Tapi kami selalu bertemu lagi. Yang kujanjikan padanya sebelum dia pergi adalah bahwa aku membawanya dalam hatiku. Dan waktu aku terpasung di pulau sunyiku, merindu sampai menangis, dia syairkan hal yang sama untukku: dia membawaku dalam hatinya.

Ajeng. 24 November 2007.

– Aku katakan padanya, "Aku tahu kalimat pertama tulisan ini. Seperti dibisikkan malaikat padaku pagi ini. Sayang betul aku pada sahabatku yang satu ini." –

di pintu surga

November 24, 2007 § Leave a comment

Di pintu surga aku menantimu

Karena buatku surga adalah saat aku bisa melihatmu

Saat aku mengenali aroma tubuhmu

Saat aku rasakan kelembutanmu

     Di pintu surga aku akan menyapamu

     Karena buatku surga adalah saat aku mendengar suaramu

     Aku hidup untuk sampai ke surga itu

    Karena tanpamu sayangku, aku masih mencari surga itu.

“Aku butuh kamu sekarang”, kataku

“di sela letih dan sedu sedan, di kecemerlangan bintang”

“Tunggu aku di surga”, katanya

“tunggu aku di sana”

     Di pintu surga aku mencarimu

    aku butuh kamu di perjalanan, bukan di akhir tujuan

     “Sekarang aku di sini untukmu Sayang,” sambutnya

     “aku menunggumu”

Ajeng, 24 November 2007

– untuk surgaku, impian masa kecil yang tak kunjung hilang disapu waktu –

bandku main di radio

November 18, 2007 § 1 Comment

Wah, pengalaman luar biasa, pertama kali main di Trax FM. Waktu pertama kali dateng, kita disambut ma orang trax penyiar (Jun n Prita), dan ditanya, siapa yang main. Kayaknya Trax belum siap nyambut Simplicity, band yang isinya cewek-cewek semua. Mreka sempet ngira kita Cuma nganterin pacar-pacar kita, pemain band yang sesungguhnya.

Kali ini yang main adalah Neno, main gitar rhythm, Diani, vokalis, et moi, Ajeng, main gitar melodi tentunya. Terpaksa bertiga aja, karena Gina lagi ga bisa main, lagi konsen jadi koas senior di anak. Tapi cukup lah, walo gmanapun Simplicity punya musik yang simpel, dan mesti siap modifikasi personel, alat musik dan aransemen lagu.

Waktu masuk ke studio pun kita hepi banget, bisa rileks, ga tegang dan siap banget buat memperdengarkan musik akustik Simplicity buat pendengar trax. Dan… puas banget bisa main bagus. Yah, walo dari luar kita cewek-cewek cantik begini, Simplicity memang udah lama ngeband. Kita ngga bilang bahwa kita punya jam terbang tinggi sebagai band, soalnya ngga juga. Cuma kami ini suka main musik dan ga bisa dipungkiri bahwa makin lama main musik kita juga tambah pengalaman bikin aransemen dan tampil.

4 lagu meluncur: Accidentally in love-nya Shrek 2, How to Save a Life dari the Fray, Umbrella versi akustik dan Don’t Speak-nya No Doubt. Puas… pendengar juga puas. Ada beberapa sms yang masuk dan kita seneng banget ada apresiasi dari para pendengar. Diantaranya:

“cewek-cewek bermusikalitas tinggi…” Alhamdulillah, makasih.
“sering ikut festival yah..?” Wah, kami tersanjung, tapi nggak pernah malah.

Dan… Dr. Gatot nelfon!!! Waaaaaaa…. kita sempet histeris juga… hehe… Makasih untuk Pak Gatot yang nelfon Trax segala… Makasih banyak Pak.

Dan tentunya identitas para personel sebagai koas FK Undip juga terungkap.

Ngeband itu gampang. Kedokteran itu susah tapi enak. Ngeband di kedokteran itu ngga gampang dan ngga selalu enak. Kalo lagi ngeband jadi inget mesti belajar (terutama kalau masih menyimpan ambisi-ambisi akademik). Kalo lagi belajar jadi pengen ngeband (terutama kalau ada jadwal manggung).

Dengan nonton Tompi semalem aku bener-bener bertekad kuat untuk tetep main musik dan belajar dengan serius (silent desire: kapan yaa… aku Insya Allah bisa jadi musisi terkenal sekaligus dokter yang baik…).

Dengan punya temen yang pinter-pinter aku jadi slalu inget untuk belajar dengan rajin. Dengan pengalaman manggung di kafe dan main di radio aku jadi slalu inget bahwa aku harus tetap main musik.

TOMPI dari baris pertama!

November 18, 2007 § Leave a comment

Tompi smalem luar biasa di acara malam amal Porseni FK Undip. Tentu sapaan-sapaannya yang membuat kita terpukau.

“Katanya anak kedokteran pemalu”
“Katanya kalian menderita”
“Capek sedikit tidak apa-apa… sekolah yuk”
“Kita sama-sama jadi dokter umum”

Gila nih orang. Sebenernya semalem bersyukur banget, beruntung walau dateng belakangan tapi bisa dapet tempat duduk PALING DEPAN, sebuah keajaiban.

Dan waktu dia bilang, “Saya tahu yang paling menderita malam ini adalah koas”, aku langsung terenyuh, terharu. Karena aku tahu itu betul, dan dia ngerti… Dan tentu aja aku langsung kehebohan sendiri dan ngasi aplaus buat dia, dan buat koas-koas se-Kariadi.

Dan tentu aja bagian yang paling menyenangkan, waktu kita semua berdiri buat lagu terakhir… Busy clapping our hands, just move and sway with the music. AWESOME!!!

Mungkin aku dan temen-temenku di baris depan bukan yang fans Tompi yang paling berat, tapi yang jelas kami-kami ini yang paling puas bisa nikmatin musiknya malam tadi!

hectic

November 18, 2007 § Leave a comment

Dear all,

I haven’t written anything for quite sometime. Things have been hectic. I had my Ear Nose Throat rotation last month, and it was 4 weeks of writing case reports and assignments, attending case presentations, presenting my own case reports and getting ready for the final exam. At the same month, Dr. Keuter, my professor in Radboud Nijmegen came to Semarang for her research with Dr. Hussein. I attended some of the meetings as well. Another thing is, during that crazy week of ENT and Dr. Keuter coming, I have a basketball match of FK Porseni and my best friend coming to Semarang. It’s all to much. In between everything, I got a gastritis attack, not uncommon during my stress-filled days.

My bestfriend visiting was good though. There was some tension in the past, and though we had spoken of so many things before, a lot more was revealed this time. And we’re both glad of this chance.

And… now I’m in forensics. We’ll see how things go.

Love, ajeng

kenikmatan

November 6, 2007 § Leave a comment

Di antara sekian banyak kenikmatan dunia adalah bepergian dengan orang yang anda cintai, menjauhi orang-orang yang anda benci, terhindarnya diri dari orang-orang yang suka menyakiti, serta selalu mengingat keberhasilan.
Aidh Al-Qarni – 2004

Where Am I?

You are currently viewing the archives for November, 2007 at Docere.