tahun ini

September 22, 2007 § 1 Comment

Rasanya pengalaman jiwa ga semuanya bisa ditumpahkan dengan kata-kata, terutama karena berat pertanggungjawaban atas kata-kata kita ke Bos Yang Di Atas. Tapi yang jelas, atas segala hal yang terjadi tahun ini, aku Cuma bisa berucap Alhamdulillah, dan atas segala hal yang akan datang, aku Cuma bisa bilang Bismillah.

Alhamdulillah, tahun ini aku bersentuhan dengan begitu banyak cinta. Dan aku sempet juga bersentuhan dengan kebencian. Dan astaga, betul-betul berat rasanya terdesak dan tercekik kebencian itu. Saat itu aku bersyukur bisa mikir jernih. Aku merasakan sendiri bahwa kebencian itu bisa saja mengubahku menjadi seperti orang yang menjahatiku. Alhamdulillah, kebaikan Allah yang terus terasa. Gara-gara dijahatin, aku belajar sabar, aku belajar tawakkal, aku belajar untuk menjalani semua dengan bersandar ama Allah dan orang-orang yang Insya Allah dipilih Allah untuk bantuin aku.

Waktu ada cobaan berat, seorang temen bilang sama aku, dan kuinget sampe sekarang. “Jeng, sabar yang (biasanya Cuma) diomongin orang (Alhamdulillah udah) lo bisa (lakuin)”. Ucapan itu ga bikin aku ngrasa bahwa aku sabar. Ucapan itu ngasi aku motivasi untuk sabar, bahwa sabar itu ga mudah, dan bisa bersabar itu baik. Kata Paulo Coelho kadang malaikat bicara lewat orang di dekat kita. Sabar itu artinya “menahan diri dari keinginan jiwa agar dapat mencapai yang lebih baik/luhur” (M. Quraish Shihab, 2006). Sabar bisa dalam usaha mencapai sesuatu untuk tetep giat maupun dalam meneruma kejadian dengan kelapangan hati. Nabi berkata, “Hakikat (kesempurnaan) kesabaran dinilai pada saat-saat pertama dari kedatangan malapetaka” (bukan setelah berlalu sekian waktu).

Suatu hari, ngeliat ke belakang aku bilang ke seorang temen deket, “Gin, hidup gue tahun ini kayak novel aja.” Banyak betul cerita. Yang lihat perjalanan saya dari dekat tahu apa saja kisahnya.

Bicara sabar sepertinya perlu bicara tentang sakinah juga. Kata sakinah mengandung makna ketenangan. Merujuk ke QS Al Fath (48):26, menurut Prof. Quraish Shihab, “sakinah” diturunkan Allah karena ada kesiapan mental, atau tanah subur, yang siap menerimanya. Sebelum didapatkan sakinah, ketenangan jiwa sebagai anugerah Allah, perlu adanya upaya untuk menekan gejolak nafsu, kesabaran dan kekuatan. Perlu usaha terus-menerus untuk mengganti keburukan dengan kebaikan, kecerobohan dengan keberanian, perjuangan melawan sifat tercela dan mengganti dengan sifat terpuji sambil memohon bantuan Allah. “Sakinah bukan sekedar ketenangan pada air muka, tapi adanya kecerahan wajah dengan kelapangan hati yang dilahirkan oleh ketenangan batin akibat menyatunya pemahaman dan kesucian hati serta bergabungnya kejelasan pandangan dengan tekad yang kuat”.

Tawakkal. Terambil dari kata wakala-yakilu, yang berarti mewakilkan. Kata wakil bisa diterjemahkan sebagai pelindung. Bertawakkal, menjadikan Allah sebagai wakil, berarti menyerahkan pada-Nya segala persoalan setelah berusaha optimal.

Demikian sedikit tentang sabar, sakinah dan tawakkal sebagaimana yang bisa saya sarikan dari buku Secercah Cahaya Ilahi karya Prof. Quraish Shihab. Ini bukan dakwah dari atas menara gading. Betul-betul hal nyata yang dekat di hati saya setahun terakhir. Sekali lagi, Alhamdulillah.

Wa Allahu ‘alam.

Ajeng. http://docere.antiblog.com

Advertisements

Where Am I?

You are currently viewing the archives for September, 2007 at Docere.