challenge

October 20, 2006 § Leave a comment

The ultimate measure of a man is not where he stands in moments of comfort but where he stands at times of challenge and controversy.

-Martin Luther King Jr.

Some news: I’ve just renewed my profile page, http://www.friendster.com/jengratu, be sure to check it out. At the moment I’m lovin it. No promises though, I’m not sure if I wanna keep it forever.

Advertisements

RaTu dan Rahajeng

October 18, 2006 § Leave a comment

RaTu dan Rahajeng

Banyak yang ingin saya tulis belakangan ini. Tapi inilah ruginya punya blog yang bukan Cuma berisi tulisan seorang RaTu, tapi juga tulisan seorang Rahajeng: saya tidak bebas.

Sebenarnya RaTu lahir akibat adanya kebutuhan saya untuk menciptakan sebuah “alter ego”, sosok yang sepenuhnya seorang penulis dan pencari. RaTu adalah pengamat yang peka, pelaku yang kelewat jujur tentang perasaannya, komentator yang aktif, dan pecinta hidup. Sementara itu, Rahajeng adalah seorang mahasiswa kedokteran tingkat 5 yang hidup dalam realita pendidikan dokter; seseorang yang analitis, strategis, dan berusaha untuk selalu waspada.

Beberapa waktu yang lalu blog seorang RaTu terpaksa diambil alih sejenak oleh Rahajeng untuk menulis hal-hal penting tentang situasi aktual yang harus diketahui komunitas pembaca blog RaTu maupun teman-teman Rahajeng. Dan saat saya ingin kembali menulis sebagai RaTu, ada kekhawatiran bahwa sebagian orang masih menafsirkan Rahajeng-lah yang sedang bicara di balik keyboard dan posting-posting terbaru blog ini. Dan hal ini bisa menyebabkan kesalahpahaman. Misalnya saja, kalau saat ini RaTu yang menulis tentang “kejahatan”, maka sebenarnya saya sedang membahas seorang Rudi (bukan nama aslinya). Sementara kalau Rahajeng menulis tentang “kejahatan”, pembaca blog yang kebetulan teman-teman sekampus akan menghubungkan karakter dalam tulisan itu dengan seorang sejawat mereka yang sedang bermasalah, dan bukannya Rudi.

Saya tahu saat ini banyak yang sedang menunggu komentar Rahajeng tentang suatu topik dan ada beberapa orang yang amat ingin menggunakannya untuk tujuan provokasi; dan sayangnya ini membatasi kebebasan RaTu untuk berekspresi.

Yang jelas, saat ini RaTu masih tetap menulis. Dan RaTu kembali ke blog ini, docere.

http://docere.antiblog.com

bermusik!

October 18, 2006 § 1 Comment

Akhirnya, setelah sekian lama meninggalkan dunia hiburan (entertainment) dan musik saya akan main musik lagi. Sebenarnya saya mesti berterima kasih pada teman-teman seband saya yang setia memaksa saya memikirkan musik lagi. Bukan salah saya pribadi juga kalau saya menganaktirikan musik beberapa bulan terakhir ini. Apalagi kalau bukan karena kuliah. Sepertinya makin dekat dengan rumah sakit, makin jauhlah saya dari musik.
Memang lain rasanya mendengarkan musik yang hanya sekedar mendengar kalau dibandingkan mendengar musik dengan tujuan memainkannya kembali. Kalau ada maksud kreatif di balik mendengarkan musik, maka telinga kita akan lebih siap untuk memproses dan mencipta ulang semua bagian dari lagu yang kita dengar.
Kalau soal bermain musik, maka aransemen adalah fokus utama. Perlu ada perhatian khusus ke tiap-tiap bagian lagu: intro, verse, chorus, melodi (kalau ada), dan akhir lagu. Lalu ada lagi bagian-bagian di mana instrumen tertentu mulai ikut dimainkan, yang bisa amat menentukan seberapa indah lagu itu (saat ini saya menulis sambil mendengarkan versi akustik lagu “wonderwall” dari Oasis, di mana intro dan verse pertama diisi gitar, dan baru di birama kedua dari verse kedua bass dan drum mulai dimainkan). Lalu kita mulai mengalihkan fokus ke bunyi tiap instrumen dan bagaimana tiap instrumen dimainkan (ritme, melodi, dan pola permainan yang esensial dalam membentuk lagu).
Secara teoretis, permainan musik dalam band bisa diibaratkan seperti sebuah rumah. Fondasinya adalah bass dan drum yang merupakan dasar sebuah lagu. Kemudian gitar adalah dinding yang menegakkan lagu tersebut. Masih ada keyboard atau piano yang fungsinya adalah menghias sebuah lagu agar lebih indah untuk dinikmati.
Saya sendiri lebih suka bermain musik akustik dalam band dengan instrumen bass, gitar, keyboard, vokal, dan bila perlu drum. Simplicity is the key in playing acoustic. Saat bermain musik secara akustik kita dituntut untuk menelanjangi sebuah lagu yang tadinya utuh, memilah-milahnya, dan kemudian menyusun kembali menjadi bentuk baru yang lebih sederhana namun tetap bisa dinikmati. Dalam permainan akustik, tiap instrumen punya tugas yang sama berat untuk membuat lagu terdengar bagus. Tidak ada pertolongan booster untuk memberi efek ini itu ke suara gitar, keyboard pun paling-paling difungsikan dengan suara piano atau string. Musik akustik benar-benar tentang instrumen, pemainnya, dan keharmonisan.
Bermusik butuh kerja sama, butuh komunikasi, butuh kepekaan dan keterampilan untuk membuat sesuatu menjadi indah. Bermusik bukan hidup, tapi latihan untuk kehidupan.

Creativity is passion, it’s endless

-undiscovered-

Img_2468_1

Img_2464

Bermusik_1

RaTu. http://docere.antiblog.com

aku akan datang dengan gitarku

October 15, 2006 § 2 Comments

AKU AKAN DATANG DENGAN GITARKU

Maaf ini untuk semua janji yang sembrono, saat kutahu tak mungkin kupenuhi
tapi tetap kukeluarkan kata-kata manis yang ingin kaudengar

Maaf ini untuk saat-saat di mana keletihan tidak membiarkanku berada di tempat yang semestinya
di saat yang seharusnya

Maaf ini karena apa yang kita jalani saat ini berbeda
karena yang kita inginkan berbeda

Maaf ini karena aku tahu kau kecewa, dan aku lemah
dan terlalu lelah untuk memperbaikinya

Maaf ini karena kau telah menunggu
dengan harapan, dengan sepi, dengan dirimu sendiri

Maaf ini karena aku adalah aku
dan aku tidak bisa berbuat apapun tentangnya

Biarkan aku lelap sampai matahari meninggi
Biarkan aku diam tanpa berpikir

Dan smentara itu biarkan aku menyentuh gitar hijauku
biarkan aku memandanginya

Biarkan aku menatapnya dengan penuh penghargaan atas kesetiannya pada rasa sakit
pada cinta dan air mataku

Lalu biarkan aku mengambil gitar hitamku yang berdebu
biarkan aku kencangkan senarnya

Biarkan aku memainkannya dengan malu-malu
karena selama ini aku berjuang mengabaikannya

Biarkan aku belajar menikmati lagi kelarutanku dalam musik
sepertinya aku telah lupa

Biarkan aku menginginkan lagi tempatku di atas panggung
Biarkan aku merindukan rasanya menghibur

Biarkan aku mendambakan ketiadaanku di balik sebuah gitar,
karena saat itu aku hanya bagian dari komposisi yang jauh lebih besar dari “aku”

Aku akan datang
Aku akan datang pada waktuku
Dengan gitarku, dengan musikku
Dengan aku yang telah menginginkan alunan musik lahir dari tanganku

I’m gonna be there with U guys!

RaTu. http://docere.antiblog.com

lapor: kami sudah ujian dengan dr. Anindita

October 14, 2006 § 2 Comments

Hari ini ujian anak minggu kedua dengan Dr. Anindita. Pasien yang kami ajukan untuk ujian memiliki gejala anemia dan hepatomegali dengan diagnosis banding drug induced, infeksi, dan keganasan.
Dr. Anindita menanyakan kami dari angkatan berapa, dan apakah sudah mendapat kurikulum baru dengan BBDM. Kemudian beliau menanyakan apakah ada manfaat BBDM yang terasa setelah masuk ke klinik. Entah kenapa, saat itu saya dengan instingtif dan impulsif langsung menjawab YA. Kami diminta membaca laporan kasus secara bergantian, kemudian saat tiba giliran saya, saya diminta menyimpulkan temuan-temuan dari anamnesis dan pemeriksaan fisik yang menjadi problem pasien. Kekurangan kami dalam pemeriksaan fisik adalah dalam pendeskripsian pembesaran limfonodi pasien. Memang hanya saya yang memeriksa limfonodi pasien, dan karena pasien kami kesakitan saya menjadi takut memeriksa lebih teliti (ingat primum non nocere: first do no harm, jangan sampai menyakiti pasien). Dr. Anindita berkomentar bahwa dalam kondisi seperti itu mestinya kami meminta residen pembimbing untuk mendampingi kami saat pemeriksaan fisik atau setidaknya mengkonfirmasi temuan kami dengan mendatangi pasien dan mengecek kembali temuan abnormal.
Dr. Anindita juga menjelaskan perbedaan keterangan “sulit dinilai” dan “tidak dinilai”. Jika kita menulis “sulit dinilai” maka kita sudah melakukan penilaian.
Setelah diskusi selama 2 jam dengan dr. Anindita, assessment kami terhadap pasien berubah (ternyata ketajaman pandangan seorang konsulen dengan residen memang jauh berbeda, ini pentingnya diskusi dengan konsulen). Assessment observasi anemia dikoreksi menjadi observasi pansitopenia (entah bagaimana kami terpaku dengan catatan medik yang hanya menilai anemia dan melupakan leukopenia dan trombositopenia pasien), dengan diagnosis banding anemia aplastik, leukemia dan drug-induced. Dalam DD anemia aplastik, seharusnya tidak ditemukan pembesaran organ, padahal dalam kasus kami terdapat hepatomegali. Dari DD leukemia, seharusnya ditemukan limfadenopati dan splenomegali. Dari DD drug-induced seharusnya ditemukan kelainan fungsi hati dengan gejala ikterus.
Di akhir diskusi Dr. Anindita menambahkan satu lagi diagnosis banding.

Dr. A : Kalau saya curiga anak ini Thalassemia. Kenapa? Apa yang membuat saya berpikir ke arah itu?
(Nah loh… kok tiba-tiba ada thalassemia? Kita cuma belajar intensif Leukemia Limfositik Akut dan Anemia aja karena hanya penyakit-penyakit itu yang masuk diagnosis banding… tapi, tiba-tiba juga aku langsung inget sesuatu…)
Ajeng : Ada hemolisis Bu. Nilai bilirubin total meningkat.
Dr. A : Iya… betul!
(perasaanku aja ato memang Dr. Anindita kelihatan senang dan terkesan waktu aku bisa menjawab pertanyaan itu? Hehehe…)

Note: terus terang aja aku bangga banget bisa jawab pertanyaan itu! Aku inget bahwa thalassemia merupakan jenis kelainan darah hemolitik sehingga menyebabkan hemolisis intravaskuler serta meningkatkan bilirubin.. Aku inget informasi itu bukan dari kuliah atau diskusi dengan residen tapi karena saat volunteering sebagai pendamping kelompok di Asian Medical Students Conference saat semester 2 dulu, kelompokku mendapat kesempatan berkunjung ke pusat transfusi untuk pasien thalassemia di RSCM Jakarta. Seorang konsulen di sana menyatakan bahwa pada thalassemia didapatkan hemolisis. Kalaupun aku baca dalam klasifikasi bahwa thalassemia termasuk kelainan hemolitik, aku nggak akan inget dibandingkani kalau info itu kudapatkan saat sedang kegiatan kunjungan ke RSCM.

Cheers! http://docere.antiblog.com

Alhamdulillah. I’m turning 22 today

October 12, 2006 § 2 Comments

Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah

Cuma itu yang ingin kukatakan hari ini… atas semua nikmat, atas semua doa dan kasih sayang dari setiap jiwa di sekelilingku, atas semua yang telah diridhai untuk terjadi.
Hari ini aku penuh dengan cinta dari dunia untukku, dan penuh cinta untuk dunia, keluarga, dan sahabat-sahabatku.
Lucu. Mungkin juga indah. Kalau kebahagiaan sedang berkeras untuk singgah, tinggal, dan menemani kita, maka tidak ada yang bisa mengusirnya. Tidak kebohongan, tidak kekejian, tidak kata-kata kasar, tidak kemuraman. Aku menari-nari di atas hamparan harapan, padang luas bertabur ucapan-ucapan menentramkan. Aku ringan hari ini, karena tidak mengijinkan beban menorehkan jejak di hatiku.
Dan aku adalah pemenang karena telah mengijinkan cinta menaklukkan sisi gelapku.

The day is full of happiness, for as long as I’ll remember it. There’s much to celebrate. The gift of life, the gift of friendship, the gift of being able to feel love and joy in the moment.

Semarang, 11 Oktober 2006
RaTu. http://docere.antiblog.com

Pic_2402_2

Pesta_keboen_009

Pesta_keboen_010

Pesta_keboen_012

Pesta_keboen_019

Pesta_keboen_020

Pesta_keboen_021

Pesta_keboen_049Pesta_keboen_056

Pesta_keboen_103

Pesta_keboen_038

reputation vs character = character wins

October 7, 2006 § 1 Comment

Today is a great way to start a day, especially after an exhausting week in pediatric ward. For the past 5 days we’d been coming to the hospital at 6.30 am, being in the ward (examining the patients, interviewing the family, taking notes from the medical record) until 1 pm, then having discussions with the residents until 4 pm. Yesterday we had a focus group discussion (FGD) until 5 pm! That was a physical torture.

Anyway, today I woke up at 8.30 am and left for the hospital at 9 am. My group, 6 students, were having the exam today; Q and A session with a professor. We waited for him until 12 pm and finally having the group exam for only about 15 minutes. It was a funny one for me. Anyway… I thought I did well on the exam. He frequently stressed how we should understand the basic of medical interview and physical examination, and then apply them to the patients in the ward; also how we should be fluent with definitions of diseases.

I try to relax a bit this afternoon. A weekend is precious! Monday is already another day in the ward.

Two weeks ago things were messy for me because apparently there’s this guy who tried hardly to ruin my reputation. But then I realized that it’s my character I should rely on, not my reputation. This is an anonymous quotation I got from a book.

Where you live determine your reputation
The truth you believe in shapes your character

Your reputation expects you to be somebody
Your character is who you really are

Reputation is a picture
Character is a face

Reputation comes from the outside
Character grows from the inside

Reputation is who you are when you arrive in a new community
Character is who you are when you leave

Your reputation is formed in an instant
Your character is built over a lifetime

Your reputation is learned in an hour
Your character won’t be recognized until a year after

Reputation grows like fungus
A character lasts forever

Reputation makes you rich or poor
Character makes you happy or miserable

Where Am I?

You are currently viewing the archives for October, 2006 at Docere.