Yudisium Gone Bad, Until finally it’s happy ending again

August 28, 2006 § 4 Comments

…I started smart and sheltered
I started mischievous and gifted
I’ve always seem overconfident
I’ve always seem to be impulsive and rebellious,
And always seem to dare paying its price
I am a believer of madness…

Hari ini yudisium, dan… aku bermasalah karena belum nyerahin hasil TES TOEFL. Sebenernya, yang lebih gila lagi, sampe yudisium tadi aku belum ikut tesnya. Aku emang selama ini sering terlalu yakin bisa lolos dari apapun, dari kemalasan dan kenakalan apapun yang kulakukan. Dan hari ini aku sendiri yang harus nanggung akibatnya.

Tapi bayangin, pagi-pagi tau kalo IPK idaman alhamdulillah tercapai setelah aku ikut semester pendek untuk pertama kalinya di FK. Eh, siangnya diancam gagal wisuda gara-gara belum nyerahin hasil tes toefl. Bukan Cuma ancaman gagal cum laude, tapi gagal wisuda!!!

Dengan penuh doa dan harapan aku menuju SEU Undip untuk tes. Setelah mengemis beberapa saat akhirnya aku dibolehin tes sendiri.

Yang lucu, salah satu topik percakapan di ujian listening adalah tentang alasan kenapa seseorang suka terlambat. Sangat aktual dan relevan dengan apa yang kualami : terlambat tes toefl dan mengumpulkan hasilnya. Ada beberapa sebab kenapa orang terlambat, baik yang disadari maupun tidak oleh yang bersangkutan, menurut percakapan itu.

1. Mencari perhatian
2. Cemas berlebihan
3. Menentang otoritas dan peraturan

Caper, enggak dengan cara bunuh diri seperti ini, jadi bukan itu alasanku. Cemas berlebih juga nggak, karena aku justru tenang berlebih. Aku terlambat, sadar-ngga sadar, karena aku menentang otoritas dan peraturan.

Mischievous. Overconfident. Impulsive. Rebellious.

Aku ngerjain tes toefl itu dengan kecepatan tinggi. Semua selesai dalam waktu 1 jam.

Lanjut lagi… setelah balik ke kampus, aku ketemu Wiwit yang memberi tahu bahwa sudah ada ultimatum bahwa deadline adalah hari ini jam 3. Dia akhirnya nawarin nemenin aku tuk ngurus sertifikatnya, jadi kita balik ke SEU.

Setelah ngemis-ngemis lagi… dan dengan keberuntungan seribu bintang dari Yang Maha Kuasa, aku bisa mendapatkan sertifikatnya dengan instan karena Alhamdulillah, kebetulan si Kepala SEU baru saja datang dan ada di tempat.

Dan akhirnya kami touch-down lagi ke FK jam 2 siang, menyerahkan hasil tes toeflku. Dengan demikian akhirnya aku secara sah telah terdaftar untuk mengikuti wisuda bulan depan.

Ya ampun. Aneh banget… semalem aku baru aja nulis “ I am a believer ”, dan semua kata-katanya emang nggambaran apa yang terjadi hari ini. I am a believer of madness!

Di penghujung hari ini aku mau mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya untuk Allah atas semua karunia, kemudahan dan kebaikan yang kudapatkan.
Wiwit, atas kemuliaan hatinya membantuku yang sedang dilanda krisis yang telah kusebabkan sendiri ini.
Gina atas dukungan dan kebaikan hatinya.
Tika dan Onggo yang sempat memberiku instruksi kilat di ruang yudisium.
Rina atas humor-humor mengejeknya yang selalu menghiburku di saat kuterhimpit beban.
Isnawan, Ivan, Sari Q dan Kusuma yang telah mengikhlaskan waktu dan tenaga untuk mendukung keartisanku.

Dan yang tak kalah penting, semua teman-temanku yang hari ini yudisium bersamaku: terima kasih kalian semua bersimpati, mendoakan keberhasilanku, dan tidak tertawa keras-keras saat aku tergopoh-gopoh keluar ruangan tadi. Kalian semua emang calon dokter sejati.

Alhamdulillah!

Advertisements

I am: a believer

August 27, 2006 § Leave a comment

I didn’t come from a humble beginning
I have much to learn about humility
I started smart and sheltered
I started mischievous and gifted
I believe in my aristocracy
I believe in the long bloodlines of artists and intellectuals evolving before me
And so I’ve always known where to start
I’ve always seem overconfident
I’ve always seem to be impulsive and rebellious,
And always seem to dare paying its price
I am a believer of madness

I’ve done the best I could
Or maybe a little less than I should have
Yet I ended up this way
As what some say: smart, sheltered, mischievous, and gifted
I am a woman; a child, a teenage, an adult
I am complete
Because as I am smart, I battle my ignorance
As I am sheltered, I battle my abandonment
As I am mischievous, I battle my insecurities
As I am gifted, I battle my laziness
And still, I am a believer of greatness

My eyes bear my strength and my weakness
My heart sings my joy and sorrow
My arms do me good and bad
My ears listen to kindness and anger
My boots take me to places where my wit is tested
I am a witness of my own fragile humanity
And I struggle to practice my love, my faith, my words
And I try to witness The Light in all things
And I sometimes surrender to my exhaustion and sadness
But I am still strong enough to be as great as I was written to be
Because I am a believer of love

I’ve been lost
I’ve been broken
I’ve been left
I’ve been lonely
I’ve been sad
But I talk
I listen
I do my work
I learn
Again I walk
Because I am a believer of The Light

I am
a believer of madness
I am
a believer of greatness
I am
a believer of love
I am
a believer of The Light

-**-
RaTu. Semarang 28/8/06. http://docere.antiblog.com

Bukan Mainstream

August 27, 2006 § Leave a comment

Bayangkan. Kita sudah membayar untuk sebuah jasa dan tidak mendapatkan pelayanan yang kita harapkan. Kecewa kan? Tapi kita harus belajar bahwa kekecewaan itu timbul karena kita terlanjur mengharapkan jasa itu akan kita terima sesuai dengan kriteria subyektif yang kita inginkan. Di sisi lain, si pemberi jasa tidak menjanjikan apa-apa tentang produk jasanya.

Bingung, apa yang sedang saya bicarakan?

Saya baru saja mengikuti sebuah ceramah agama. Dan ternyata, ceramah itu tidak memberikan kepuasan seperti yang saya harapkan sebelumnya. Ceramah itu tidak sepenuhnya mengecewakan, tapi kurang bisa memenuhi harapan saya.

Mungkin soal penyegaran rohani juga masalah kebutuhan, selera, dan metode penyampaian. Kebutuhan tiap orang akan ilmu berbeda-beda. Selera, apa yang disukai dan tidak disukai tiap orang dari ilmu tersebut, juga berbeda-beda. Metode yang disukai dari pemenuhan kebutuhan akan ilmu itu juga pasti berbeda-beda untuk tiap orang. Dan malam ini, saya tidak puas karena kebutuhan, selera, dan metode yang saya inginkan tidak bisa terpenuhi.

Sebelumnya, saya lebih baik menginformasikan dulu bahwa pemahaman saya tentang agama tidaklah “mainstream”, artinya tidak seperti yang kebanyakan dipahami orang. Saya tidak bilang yang bukan mainstream itu lebih baik. Cuma berbeda saja, karena metode pembelajaran saya adalah dengan membaca dan diskusi. Berani menceburkan diri ke samudra ide-ide baru, baik yang bisa saya terima maupun tidak. Tapi kelihatannya orang-orang mainstream masih sering curiga dengan yang di luar mainstream, jadi lebih baik saya diam saja soal ini.

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya saya juga tidak diam saja. Saya mungkin sering berdiskusi dengan beberapa orang tertentu tentang hal-hal di luar mainstream ini. Saya, menjadi orang yang berkarakter “bandel” dan “nekat”, sering mengajak orang-orang mainstream untuk berdiskusi juga, tapi sayangnya mereka kadang kurang bisa mentoleransi apa yang sedang saya bicarakan, saya jadi enggan.

Contoh hal di luar mainstream yang saya eksplorasi adalah pemikiran atheis, anti-Tuhan, dan anti-agama. Saya belajar apa yang mendasari pemikiran tersebut dan mengapa pemikiran seperti itu bisa meluas. Saya belajar apa yang bisa membuat pemikiran yang berporos pada Tuhan menjadi bisa dipahami oleh orang-orang yang anti-Tuhan. Saya belajar cara berkomunikasi dengan orang-orang yang anti-Tuhan ataupun orang yang berbeda keyakinan dengan saya. Saya suka ide-ide tentang spiritualitas manusia, dan bukan hanya “produk-jadi” dari penceramah-penceramah tipikal saja.

Tentu saya punya belief system saya sendiri; cara saya melihat dunia dan memahaminya. Termasuk soal keberadaan seorang Saya di dunia ini, agama, dan Tuhan. Berhubung saya kurang hobi melayani perdebatan, belief system saya tidak saya beberkan secara eksplisit ke publik. Lagipula ini urusan pribadi saya. Kalau ada yang bertanya, saya jawab. Kalau tidak, ya sudah.

Saya pernah membicarakan persoalan menjalankan agama di luar negri dengan beberapa orang, kebetulan beberapa dari mereka akan tinggal di luar negri dan beberapa lainnya pernah tinggal di Eropa. Salah satu teman bersikap apologetik, minta maaf sebelum bicara dengan mengatakan “Saya tidak religius, tapi pengalaman saya selama di sana…”. Dan saat itu saya berharap agar dia tahu, bahwa saya tidak mempermasalahkan kereligiusannya sama sekali. Dia ingin berbagi pengalaman dan kami ingin mendengarnya.

Saya tidak mau orang merasa harus “menyesuaikan diri” atau “tidak menjadi diri sendiri” saat bersama saya hanya karena saya “tampak religius”. Buat saya, orang lain harus merasa “aman” saat bicara dengan saya. Mereka harus merasa bebas jadi diri sendiri, bebas bicara dan didengarkan serta tidak tertekan saat berdiskusi dengan saya karena itu akan membuat saya mendapatkan lebih banyak pengetahuan baru.

Jadi seseorang yang “bukan mainstream” tidak gampang, tapi kepuasan yang datang dari berpikir dan belajar sanggup mengalahkan semua kesulitan yang ada.

belahan jiwa (the movie)

August 27, 2006 § 1 Comment

Belahan Jiwa (The Soulmates) is a highly disturbing movie. I watched it earlier today and there were so many scenes I wasn’t comfortable watching. Dian Sastro appeared convincingly depressed all the time. Marcella Zalianty’s character was obviously the most solid and stable. The rest were not so believable. The dialogue was annoying, plenty of repetition in a scene. I’m still a bit shaken by the movie, I don’t really know whether I like it or not. I was most uncomfortable watching Dian Sastro on screen in this movie just because she was so real, so sad.

I’m quite familiar with the “multiple personality” storyline, but I’m not sure that the movie came across as being enjoyable. It’s certainly not all sugar and sweet in life, and sometimes even in movie life, for example Tentang Dia. But yet we human keep on going and living the best way we could. Maybe that’s the most disappointing thing about Belahan Jiwa. We’ve seen Dian Sastro suffered and went through hell, and yet, even with the help of her soulmates, she couldn’t survive all the pain. I’m sad for her.

RaTu. 27/8/06. http://docere.antiblog.com

friendship?

August 27, 2006 § Leave a comment

A stroll with Cee along the streets of Old Madrid made us talk about friendship. Cee is a good friend of mine who lives in Madrid. She told me, with her 4 years of additional experience compared to me in living, that friendship is tricky because it involved two or more people with different personalities and beliefs about how the friendship should be. She had a big problem with her best friend once because of it. They’re simply different people, and they should respect each other to make the friendship work. And unfortunately we’re not the ones capable of reading the mind of others, so when we can’t expect others to give what we need just by thinking about it.

Cee and I are the same kind when it comes to friendship: we prefer close and intimate friendship with very few people and casual friendship with more people. That has an upside. We’re devoted and loving when it comes to nurturing a friendship. Once it’s established, it’s easily meant to be a friendship for a lifetime. The downside is, we tend to expect too much from a friend, and forget that they too, like ourselves, are human beings with occasional flaws and imperfections. Then there’s disappointment because of the imperfections and the failure to fulfil the expectations.

It’s human nature to make mistakes and be imperfect. It’s simply catastrophic to expect too much from anything, including friendship and a best friend.

One guy, once I called my good friend, ended up hurting me the most on purpose because (I assume) that he’s jealous of what I’ve achieved. And then I realized that all that time we spent together, he’d never really my good friend; all that time I only had an “illusion” of him being my good friend. We can’t lose what we never have.

I’ve experience broken heart, tears, and residual disappointment caused by friendships and their over-expectations. But I’ve also had loving nourishment and wonderful learning experience through my friendships with several different people. It’s all well worth it.

Toledo of Spain

August 27, 2006 § 2 Comments

Bayang-bayang Pohon Delima (Tariq Ali; terjemahan) adalah buku yang dengan begitu hidup menggambarkan momen-momen di masa jatuhnya Andalusia ke tangan kerajaan Spanyol. Penduduk Andalusia, yang dalam novel ini diwakili kehidupannya oleh sebuah keluarga, dipaksa untuk memilih. Mereka harus pindah agama Katolik; tetap menjadi muslim dan terusir dari tanah mereka untuk mengungsi ke Maghreb; atau tetap menjadi muslim, tetap tinggal di tanah mereka dan berjuang melawan pemerintah sampai mati. Banyak yang bertahan untuk tinggal di Andalusia dan berpindah agama, walau sebenarnya mereka tetap memiliki keyakinan sebagai Muslim. Pihak gereja akhirnya menyadari bahwa banyak sekali kasus pindah agama dengan motif material dan keselamatan jiwa semata, sampai-sampai mereka akan menyelidiki mana saja yang keimanannya asli sebelum dibaptis. Kebanyakan penduduk belakangan menyadari bahwa yang diinginkan kerajaan dan gereja sesungguhnya adalah tanah dan harta mereka. Pindah agama tidak akan lagi bisa menyelamatkan harta benda dan masa depan mereka di Andalusia.

Hal yang berulang kali digambarkan dalam novel ini adalah betapa seringnya kaum muslim membanggakan kejayaan mereka di Spanyol pada masa lalu, ter-ninabobo-kan oleh kenangan sehingga mengabaikan kondisi genting yang mereka hadapi di depan mata. Di sisi lain, pada saat detik-detik perjuangan akan dimulai, hanyak segelintir orang yang sanggup maju sebagai pemimpin yang berani.

Perjuangan mereka bukan sekedar perjuangan mempertahankan iman Islam mereka, tapi juga perjuangan untuk mempertahankan hak hidup mereka di Spanyol, yang telah mereka ditinggali kaum muslim selama ratusan tahun. Bukan hanya muslim yang menjadi korban penindasan kerajaan dan gereja, tapi juga kaum Yahudi pada saat itu.

Novel ini heart-breaking dan mengapresiasi kekalahan terhormat kaum Muslim yang tetap berupaya mempertahankan keimanan, harga diri, dan masa depan mereka di Spanyol pada masa Inkuisi.

Sepanjang membaca buku ini saya terus-terusan teringat kepada perjalanan saya di Toledo, Spanyol. Kalau ingin mengenal lebih dekat kehidupan muslim Spanyol pada masa kejayaannya memang kita patut menyaksikan Granada. Tapi Toledo, yang sempat saya kunjungi, sudah menggambarkan kehidupan bangsa Moor yang untuk beberapa lama dapat hidup bersama dengan kaum Yahudi dan Katolik Spanyol. Saat itu saya hanya punya waktu sehari penuh untuk berkunjung. Dari rumah Celia, teman saya di Madrid, saya menuju ke terminal bus dengan menggunakan metro (kereta bawah tanah). Perjalanan ke Toledo memakan waktu lebih dari satu jam dengan bus. Ketika sampai di Toledo saya langsung menuju ke pusat informasi turis dan menanyakan rute terbaik untuk berkeliling. Dan akhirnya saya sempat mengunjungi sebuah katedral, sinagog, dan mesjid.

Toledo was famously known in the past for its best qualities of weapons. It’s a heavenly city, ciudad divina, at least before the cruel Inquisition, where devotees of 3 religions had lived alongside each other peacefully.

Seeing the mosque just humbled me to the point where I was in silently in tears. You couldn’t help but to face The Lord with sincerity and nothingness, being in a mosque like that. It spontaneously gave you a quiet and contemplative mood. You would be reminded by the surrounding that you were there to worship Allah and to cherish your blessings. You would be forced to admit that when it comes to worship place, the essence is to feel the stronger presence of your own spirituality, which was exactly what the mosque did. All the tourists there were quieter than if I visited big cathedrals. They would be moved. They would know that a place to communicate with God didn’t always need gold-furnished decorations and enormous statue of a bleeding man on a crucifix (which was the case with most European worship place).

It’s such a beautifully designed space, laying on the side of a steep hill. The mosque itself is small, but there was garden immediately next to it, giving a fresher atmosphere to the place. From the garden we could see the walls of Toledo and some parts of the city. The construction was made of bricks with Moorish style. It can easily be seen as beautifully bare, with leftover trace of Christian mural, as it was taken over as a church when Christians entered to rule Toledo. The praying space was opened to the sides, bearing no walls. The 9 panels of ceilings between the pillars were each decorated with calligraphy in geometric patterns. Precision of math is only mirroring His Precision, that’s the spiritual message of math, captured by the great Muslim mathematicians in the past.

Visiting Toledo boosted my morale. I was 5 days away from coming back home to Indonesia after an exhausting 3 month journey throughout West Europe. I was becoming more and more alienated from my own spirituality as most of the people I met during the trip were dry of it. The mosque was a breeze of fresh air for my heart.

a song sings it all

August 22, 2006 § 1 Comment

Some songs were just written so beautifully and so honest.

I wake up, it’s a bad dream
no one on my side
I was fighting
but I just feel too tired to be fighting
Guess I’m not the fighting kind
Wouldn’t mind it
if you were by my side
But you’re long gone
Yeah you’re long gone now

(Keane, “A Bad Dream”, album: Under The Iron Sea)

It’s a bad dream when no one’s on my side. I am fighting. And sometimes I do feel too tired to be fighting. Maybe I’m not the fighting kind, though I won’t mind it if someone’s by my side. But that person is long gone now.

I find myself in that song. You sometimes try in every way to make it clear of what’s going on in your heart, and you still can’t. And sometimes, one song sings it all just like that.

RaTu. http://docere.antiblog.com

Where Am I?

You are currently viewing the archives for August, 2006 at Docere.