buku-buku penting buat dibaca

June 30, 2006 § Leave a comment

sebagai cewek sensitif yang suka baca buku, aku pernah beberapa kali menghadapi situasi emosional di mana aku merasa cerita sebuah buku menyentuh dasar hatiku yang paling dalam dan bikin aku akhirnya nangis. dan kalo ada yang pernah liat mataku bengkak ato sembap pagi2 di kampus saat bukan hari ujian, itu artinya semaleman aku baca buku yang mengharukan.

Yah… ketauan deh…
Tapi, mari kita kembali ke inti permasalahan.

Aku cuma mau berbagi beberapa judul buku yang menurutku bisa melibatkan pembacanya dengan sebegitu dasyatnya, tapi tentu efek berlainan ke tiap individu. Kalu aku nangis, belum tentu orang lain juga karena tiap orang punya ambang nangis yang berbeda-beda.

1. The Lovely Bones (Alice Sebold. Belum ada terjemahannya)
2. Life of Pi (Yann Martel. terjemahan oleh gramedia)
3. insiden anjing di tengah malam yang bikin penasaran (the curious incident of the dog in the night-time. Mark Haddon. terjemahan KPG)

Buat cewek, lebih dasyat efeknya kalo dibaca pas PMS. Okey…???!!!

Advertisements

pusing loh, kalo ga bisa bahasa inggris…

June 30, 2006 § Leave a comment

pusing loh, kalo ga bisa bahasa inggris…dan nonton film the davinci code.
itulah kenapa bahasa adalah senjata yang luar biasa. bikin kita punya akses ke hal-hal yang ga bisa didapetin semua orang. karena ga semua buku diterjemahin dan ga semua film diterjemahin dengan bener.
aku senyum-senyum aja pas abis nonton davin code di bioskop.
semua kalimat-kalimat provokatif ditiadakan terjemahannya (misalnya tentang konferensi Nicaea dan Yesus).
Lucu aja sih… segitunya ik…
Tapi orang yang mencari kebenaran akan menemukannya. di buku terjemahannya, maupun di buku-buku yang mengklaim klarifikasi atas akurasi novel da vinci code.
Aku rasa tiap orang butuh kebenarannya masing-masing.
Yang salah adalah memaksakan satu versi kebenaran subyektif untuk diterima orang banyak, itu namanya bohong.

June 30, 2006 § Leave a comment

hidup jadi anak kedokteran ga lepas dari ujian yang menjadi marka hidup kita,
kadang jadi satu-satunya pedoman waktu.
betapa anehnya kami semua, mahasiswa kedokteran.

lalu gimana, kalo ujian yang krusial banget nilainya ini tidak kita lalui dengan sukses?
aku pernah beberapa kali ngalamin. dan setelah punya cukup kesempatan untuk berkontemplasi, aku tau reaksi klasikku terhadap nilai jelek (yang Alhamdulillah jarang kualami) :
– 10 menit pertama aku akan GA PERCAYA karena merasa bisa ngerjain dengan sukses dan penuh percaya diri
– 10 menit kedua aku mengingat lagi bagaimana aku belajar sebelum ujian itu, dan apa yang salah dengan cara dan bahan belajarku (kurang serius, kurang lama, kurang tepat?). dan kadang2 curhat ama temen tuk bersama-sama meratapi nilaiku.
-10 menit ketiga aku mulai merasa sebel, karena merasa dilecehkan oleh nilai itu (misalnya nih : “Gila, gue kan pinter, masak cuma dapet C, enak aja… dasar ga sopan tuh orang-orang pemberi nilai ga bisa membaca potensiku!”) dan langsung membuat strategi balas dendam buat mengubah nilai itu menjadi A (atau kalau kurang beruntung AB atau B) dengan semangat menyala-nyala tuk belajar dengan api semangat yang membara.

dan begitulah caraku melanjutkan hidup setelah dapet nilai jelek. Hidup adalah perjuangan.

June 30, 2006 § 2 Comments

dari blog temen saya sari_qee:

kriteria desa yang bisa dipilih buat PTT dokter yang baru lulus:

– Biasa >> 2 tahun
– Terpencil >> 1 tahun
– Sangat terpencil >> 6 bulan

Kalau lihat pilihan diatas kaya’nya banyak yang tertarik dengan pilihan yang terakhir…
Hmmm…gimana ga tertarik coba? Kalau insentif nya dapat 5 juta per bulan!!!
Sungguh jauh berbeda dengan 2 pilihan diatasnya yang enggak nyentuh angka 1 juta..
Itukan insentifnya…
Kalo gajinya sih sama semua.. Setara gaji PNS golongan 3B

Itu sih kalo mau itung2an “untung”nya…
Dilihat dari waktu dan uang…
Dua hal yang banyak dikejar2 manusia di dunia ini…

Mungkin buat beberapa orang, ada yang mengurungkan niatnya buat milih pilihan kedua ato ketiga… malah bahkan tidak memilih PTT sama sekali…

Tanya kenapa??
Yah tentunya banyak alas an utk ga mau PTT…

“ gue Mau langsung nerusin sekolah la yaw…”
>> itu buat yang emang punya duit buat ngelanjutin spesialis or S2..kalo yang ga punya duit???? Mimpi kali ye…..

“hi…ngebayanginnya aja ngeri…kalo gue ditempatinnya di tempat terpencil…nun jauh entah dimana…. Hayo gimana???!!”
>> apalagi setelah denger cerita seorang kakak kelas yang PTT di desa TERPENCIL (ingat!! Ga pake kata sangat…CUMA terpencil). Pas baru nyampe di desa itu, sang dokter nanya “penyakit apa yang sering diderita masyarakat disini?” sang dokter mikir paling ISPA,penyakit infeksi ringan atau paling parah DB or malaria. Kalian tau jawabnya???
“digigit buaya n keinjek gajah!”
Hah, gimana ga serem dengernya….

Atau tentang seorang kakak kelas yang ditempatkan di Kalimantan yang selalu was-was dengan ikan buntal yang doyan makan daging…

sebagai anak yang pernah tinggal bertaun2 di daerah hutan Sumatra, Kalimantan Timur dan Selatan, aku mesti bilang bahwa situasi2 ekstrim di atas bener banget. emang sebagai orang kota kita butuh adaptasi untuk tinggal di tempat yang beda, ketemu ama org2 dengan karakter kedaerahan n bahasa yg beda, dan berusaha betah tinggal di tempat tanpa pertokoan n tv swasta, dan di bawah ancaman binatang liar n melata hampir tiap saat (semuanya pernah mengisi hari2ku selama 15 tahun lebih). Bokapku yang cuma dokter umum pernah dipanggil mendadak ke puskesmas karena burung kasuari peliharaan bosnya di Kalsel ditombak sama org tak dikenal! aneh banget kan… yah gitu lah. Anggep aja kita kerja ke tempat yang EKSOTIK. Terus terang aja, tinggal di tempat2 begituan bikin kita gak money-oriented, gampang buat membesarkan anak2 karena ga banyak gangguan (asal bisa dapet sekolah bagus aja…), bisa nabung banyak (karena ga bisa belanjain duit kita kecuali di pasar)… gitu deh. It won’t be easy, but it’s all good if you can see the bright side.

“docere” di kokojo

June 16, 2006 § Leave a comment

Sekarang posting2 favorit blog ini udah bsa dinikmati sambil makan burger enak di KOKOJO, Jl Kusumawardhani no.7 Semarang. Lokasinya di belakang kantor Telkom, Pleburan.

gairah

June 2, 2006 § Leave a comment

GAIRAH

Hujan malu-malu menyapa di luar kafemu. Kelihatannya hanya segan menemani kita berdua hari ini. Hari ini, hanya milik kita berdua. Setelah aku masuk dan menyapamu, aku mengambil tempat duduk yang biasa, di dekat pintu, tapi menghadap ke bar. Hari ini aku cukup memesan espresso saja, single. Toh aku tidak harus belajar sampai malam, hanya butuh teman sembari bicara denganmu.
Saat kau duduk di depanku, aku tahu bahwa hari ini kita akan berpanjang lebar tentang buku-buku yang baru selesai kaubaca. Tentang rencana-rencana bisnismu yang baru. Tentang perjalananmu yang seru ke tanah-tanah yang belum pernah kuinjak. Tentang kamu. Dan selain saat pertama kali aku melihat wajahmu setelah sekian lama, mungkin yang kuharapkan adalah saat ketika kamu akhirnya berkata-kata.
Persamaan kita adalah yang pertama-tama merekatkan aku padamu. Tapi perbedaan kita justru telah menghias persahabatan ini ibarat kado yang berbungkus pita cantik. Menarik, namun isinya jauh lebih penting dari sekedar penampilan luarnya.
Dari sekedar hal ringan pembuka pembicaraan, sampai juga kita ke masalah lain yang lebih dalam, lebih rumit. Namun tetap menyenangkan bagiku. Kilatan matamu menghiburku. Tanganmu menari, dan kata-katamu berhamburan menghantarkan pemikiranmu padaku. Selalu ada filsafat tertinggi yang kauhayati sebagai milikmu yang paling berharga. Dan di depanmu, aku lebih banyak berperan sebagai penonton. Salahku sampai aku terbungkam. Mungkin tak pernah cukup banyak yang kuketahui untuk bisa membalas semua ide-idemu. Dan mungkin sinarmu begitu terang sampai aku hanya sekedar menjadi bayang-bayang di sisimu; sampai aku berani berucap lebih banyak, sampai aku berucap tentangku dan yang kupikir tentangmu. Dan mungkin aku hanya mencari pelarian dari himpitan rutinitasku setiap hari. Sepertinya, semua hal yang kauucap berasal dari hatimu, karena semua yang kaukatakan mengirim vibrasi-vibrasi yang berresonansi di hatiku dengan kekuatan yang sama.
Dan tiba-tiba segalanya jadi lebih jelas, aku tahu kamu juga menyadarinya. Kamu lelaki dan aku perempuan. Tapi persis saat itu, kita hanyalah dua manusia yang berkomunikasi dalam bahasa intelektual dengan intens. Sangat intens. Gairah antara dua manusia yang sedang sama-sama bersemangatnya menggali makna hidup lewat diskusi yang terlampau panjang dan dalam untuk anak muda seusia kita.
Saat kamu bicara, duniaku hanya kamu dan alur hidupmu. Saat aku bicara, kau menggali esensi jiwaku. Mungkin memang aku akrab dengan lelaki-lelaki lain, tapi keintiman seperti ini hanya kubagi denganmu. Hanya kamu yang kubiarkan membangkitkan gairah dormanku untuk mengeksplorasi tempat-tempat yang tak biasa buatku: filsafat, seni, bahasa. Hanya kamu yang kubiarkan menikmati kekagumanku, karena aku yakin itu sumber energimu: kekaguman dariku. Hanya kamu yang kubiarkan tahu tentang pergulatan-pergulatan bodohku di masa lalu, yang ternyata sedang kaualami. Hanya aku yang kaubiarkan mengetahui keresahan konyolmu, keruwetan formulasi hidupmu di balik intelektualitas dan bakatmu.
Gairah itu. Aku merasakannya. Dan aku tahu kamu juga.
Mungkin kita hanya saling menguatkan. Atau saling menginspirasi. Atau, bersama-sama melarikan diri dari realitas yang berlari menerjang kita saat kita sedang ingin berjalan gontai. Apapun sebenarnya itu, saat kita berjumpa dan berbicara, aku memilih menyebutnya sebagai “gairah”, karena memang itu yang kurasakan.
Mungkin sebenarnya hanya kamu yang bisa membagi cukup banyak denganku tentang hal di luar bidangku sehari-hari. Kamu harus tahu, bahwa sepandai-pandainya aku membangun karirku sekarang, aku masih menyimpan fantasi untuk jadi sebebas kamu. Menyimpan keinginan untuk tumbuh tetap dari akar yang sama, namun ke cabang yang berbeda. Aku ingin darahku mengalir membawaku ke arah yang sama dengan yang kau jalani. Aku menyimpan mimpi untuk mengecap sari-sari kemudaanku sendiri. Untuk memikirkan hari ini, dan bukan besok. Untuk tidak hidup hanya dengan ujian-ujian kuliah sebagai penanda kalenderku, rambu kehidupanku yang berkarat karena tetesan kronis kebosanan. Tapi sementara amanatku masih banyak, cukuplah aku merasakannya lewat narasi-narasimu, lewat kamu.
Mungkin kita hanya dua pemikir yang cukup cerdas untuk tetap menyimpulkan serpihan-serpihan kebenaran kita sendiri. Mungkin kita hanya dua hati yang cukup gigih merumuskan makna-makna kita sendiri. Mungkin kita hanya dua orang yang cukup aneh untuk menganggap semua hal kecil adalah masalah serius dan memerlukan pemikiran mendalam. Mungkin kita hanya dua manusia yang cukup berani untuk saling bicara, tidak hanya dengan kata, tapi dengan jiwa. Dan mungkin karena semua itu, kita merasakan gairah yang sama; dua manusia, satu gairah.

RaTu. Semarang, 26 Mei 2006. 00:01 WIB. http://docere.antiblog.com
An inspiring relationship is always a good relationship!

REPETISI MENGHANTUIKU

June 2, 2006 § Leave a comment

REPETISI MENGHANTUIKU

Sembilu. Sembilu. Sembilu.
Repetisi menghantuiku.
Apa hanya itu yang kutahu?
Semua lebih tragis, lebih dramatis jika berulang, bertalu.
Bukan teknik, tapi perasaan yang membanjiriku.
Kilatan kata-kata ramai berseliweran, antara hemisfer kanan dan kiriku.
Pun tak ada yang kucetak,
sampai kafein memompa darah lebih kencang ke otak,
meredupkan kobaran informasi acak,
sampai perasaan cukup jernih untuk menjadi pikiran, bukan sekedar decak.

RaTu. Semarang, 25 Mei 2006.
http://docere.antiblog.com

Where Am I?

You are currently viewing the archives for June, 2006 at Docere.