VOLLEYBALL, PLAYERS, AND IGNORANT COACH

April 29, 2006 § 2 Comments

VOLLEYBALL, PLAYERS, AND IGNORANT COACH

Alkisah. Ada sebuah tim bola voli. Awalnya mereka berkumpul karena sama-sama suka main voli, tapi belakangan karena ada waktu dan tenaga untuk ikut pertandingan, mereka mulai sering ikut turnamen.

Kegiatan ini diminati banyak orang yang sekedar ingin berolahraga; namun demikian, kalo udah waktunya pertandingan, hanya beberapa orang tertentu yang dipercaya untuk main dan mengupayakan kemenangan oleh pelatih.

Tentu saja di tim itu tiap orang punya bakat, kemampuan, dan sifat yang berbeda-beda.

Pemain-pemain utama di tim, yang selalu dimainkan saat pertandingan memang punya karakter sendiri-sendiri.

Ada Ina yang ga merasa hidup kalo ga main voli dan paling jago.

Ada Suprapti yang punya badan paling tinggi dan atletis.

Ada Oni yang bertenaga kuda dan punya spike tajam.

Ada Rani yang gesit ngejar bola.

Ada Vivit yang staminanya jauh melebihi temen-temennya.

Ada Wida yang bisa ngatur tempo permainan timnya.

Selain itu ada “yang lainnya”. “Yang lainnya” selalu rajin latian, tapi kalo tiba saatnya pertandingan, mereka biasanya cuma jadi pemain cadangan. Dan cadangan artinya, kalau semua pemain utama di lapangan sudah cedera berat, baru mereka diturunkan oleh pelatih. Biasanya, mereka main saat skor timnya sudah unggul jauh, atau tertinggal jauh. Maksudnya, oleh pelatih, mereka dianggap tidak penting untuk kemenangan tim sehingga hanya diturunkan kalau hasil pertandingan sudah jelas. Awalnya, para cadangan ini masih semangat berlatih. Tapi mereka sering sakit hati karena walau sudah berusaha keras, tetap saja pelatih menganaktirikan mereka. Tidak jarang pelatih membuat mereka tersinggung saat menyampaikan kritiknya. Akhirnya, para pemain cadangan mulai merasa disia-siakan keberadaannya dalam tim. Apa gunanya mengorbankan waktu untuk latihan kalau mereka tidak dimainkan saat pertandingan? Beberapa memutuskan untuk berhenti dari tim namun tetap berlatih, sementara lainnya benar-benar jengkel dan berhenti main voli. Perbuatan pelatih ini merugikan timnya sendiri, walau ia cuma ingin timnya menang. Akhirnya, seringkali saat pertandingan tidak ada pemain cadangan, dan pemain utama terpaksa bermain penuh sepanjang pertandingan dan turnamen sampai mereka selalu cedera, ringan maupun berat.

Pemain utama tidak pernah pusing dengan keadaan ini. Menurut mereka, tugas mereka adalah bermain sesuai arahan pelatih. Buat mereka, voli tetap menyenangkan. Mereka berlatih, mereka bertanding. Kadang menang, kadang kalah. Mereka tetap tidak memahami apa yang dirasakan oleh teman-temannya yang selalu hanya menjadi cadangan di pinggir lapangan, menyemangati mereka. Yang mereka tahu, setelah beberapa saat, jumlah pemain cadangan mulai berkurang. Sampai akhirnya hilang sama sekali.

Saat para pemain utama mulai sibuk dengan karir masing-masing, mereka tidak bisa mengutamakan voli lagi. Mereka tidak bisa lagi berkomitmen penuh terhadap voli seperti dulu. Pelatih selama ini terlalu sibuk mengejar kemenangan timnya, sehingga ia lalai menyiapkan regenerasi untuk para pemain utamanya. Pemain cadangan yang sebenarnya sudah mengantongi banyak ilmu terlanjur meninggalkannya. Ia harus mulai dari awal, membangun tim baru lagi dengan melatih pemain-pemain baru.

Tentu saja pelatih ini akhirnya dengan mudah dibenci banyak orang, walau dia tetap menjadi pelatih (karena timnya terdiri dari orang berbakat dan bukan karena ia pelatih yang baik). Dia dianggap dibutakan oleh kemenangan sampai-sampai mengabaikan keutuhan dan masa depan timnya. Ke-6 pemain utama di tim itu juga bersalah karena tidak bisa membuat pelatih memahami bahwa keberadaan pemain cadangan di tim perlu dihargai. Menang tidak harus selalu menjadi segalanya. Tiap manusia punya perasaan, dan perasaan manusia butuh dihargai. Tiap manusia berhak diperlakukan dengan adil dan penuh rasa hormat. Nafsu pelatih akan kemenangan ternyata destruktif bagi timnya.

RaTu. Semarang, 19-4-2006

(This is based on a accurately true story). http://docere.antiblog.com

Advertisements

The things I’d say to you

April 29, 2006 § Leave a comment

The one thing I feel we need to do is to start over

But what if starting over is completely an illusion?

What if we’ve tried, but then I realized that I’d always tried harder

It takes two to tango. And I’ve been dancing alone

I’ve never been much of a pesimist Anything is possible.

That’s how I’m taught to live

But with you, I keep holding my breath

Because it shoves away the pain when you hurt me

Why am I the only one who’s feeling this?

Maybe you’re too numb from the start to even feel anything

But of course, that’s entirely my fault

To take chances with your ignorance

There was bitterness. Sadness. Anger. Disappointment

But then I understand, that this is real only for me

You don’t even know what’s going on

And I, I just have to live and let go

* RaTu. Semarang, April 2006. http://docere.antiblog.com

all the little sh*t in life

April 16, 2006 § Leave a comment

Life, sometimes, is about allowing yourself to cry.
Allowing yourself to be confused and dazed.
About not knowing what to do and facing uncertainties.
Life is sometimes about facing the things you never want to happen;
and even when running away is an easier option, you choose to face the problem and conquer the obstacles.
What don’t kill you will only make you stronger.
And though you crash and burn, you bleed and weep, in time you will stand up again. Stronger.
Your face may hardened as life puts you to the test.
And you can choose to learn from past experiences.
When your mind is sharp and focused, your heart is open along with the hardship that comes, new wisdom appears itself.
You don’t stay alert without constant alarm.
Even when it’s fake one, you know that you’re ready, prepared, responsive, quick to act and consider every aspect of the problem.
Sometimes, only patience and tactful actions carefully planned can have victorious result.
Other times, it’s persistence, perseverance, and the belief that you’re made for success.
You just have to refuse failure.
Because you understand, that when you strive, you’re processing your own blend of success.
*RaTu*

the greatest jihad

April 16, 2006 § Leave a comment

The greatest jihad

We all know that the greatest jihad is against ourselves.
Kata ini berakar dalam bahasa arab dari j-h-d, berarti ‘berjuang’ atau ‘bekerja keras’ dan dalam konteks Islam hal ini dilakukan di jalan Tuhan (bukan jalan agama); dengan demikian kita bisa memahami jihad sebagai “pengerahan tenaga dan perjuangan di jalan Tuhan” (Nasr, 2002). Hal yang umum kita ketahui adalah bahwa jihad terbesar adalah jihad untuk melawan hawa nafsu.
Lalu sebenarnya apa yang kita lawan?
Kata ‘hawa nafsu’ sendiri terlalu luas dan abstrak untuk langsung kita aplikasikan ke kehidupan sehari-hari. Kalau mendengar kata hawa nafsu, saya langsung membayangkan suatu awan atau kabut berwarna putih. Tidak jelas, kabur.

Pernah merasakan dorongan yang kuat untuk melakukan sesuatu yang bagi kita mendatangkan kenikmatan, yang kemudian kita lakukan, dan setelah melakukannya membuat kita merasa bersalah? Guilty pleasure. Kira-kira itulah hawa nafsu yang kita turuti. Kalo udah terlibat dalam guilty pleasure yang jadi kebiasaan, biasanya sulit buat nglepasin diri. Sepertinya walau tau hal ini buruk, sirkuit kenikmatan kita butuh stimulasi lagi dan lagi dari hal ini. Akhirnya kita ngalamin ketergantungan yang patologis, yang merusak diri. Kita ngerasa begitu gak berdaya melawan dorongan ini, bahkan rasanya mengendalikan tubuh dan keinginan diri sendiri saja kita tidak sanggup.

(Sebenarnya ketergantungan terhadap pemuas kenikmatan apapun melibatkan sirkuit neurotransmitter DOPAMIN di otak kita. Kegiatan atau zat tertentu bisa memacu pelepasan dopamin yang tinggi, yang oleh tubuh kita diterjemahkan sebagai "kepuasan" atau "kenikmatan". Makin lama, jika kita selalu menuruti kebutuhan akan kenikmatan ini, reseptor dopamin otak akan menuntut lebih banyak kadar dopamin untuk tingkat kepuasan yang sama. Ini sebabnya kecanduan adalah sebuah penyakit di tingkat neurohormonal. Ini sebabnya seseorang bertahap meningkatkan dosis zat pemuas kenikmatannya sampai bisa meninggal karena overdosis. Peinsip sufistik ada benarnya. Hawa nafsu tubuh kitalah yang menghalangi pengabdian kita kepada Allah.)

Kita bisa saja tergantung sama makanan, kita butuh nutrisi untuk hidup. Tapi kebiasaan itu patologis jika kita tergantung pada makanan berlemak, yang walaupun nikmat, akhirnya bisa membuat kita kelebihan berat badan dan ngalamin risiko penyakit kronis kalau berlebihan jumlahnya.

Coba merenung sesaat dengan diri sendiri; apa kita pernah nglakuin dan ngalamin hal semacam itu. Dan cari tau apa hal itu.

Apa jihad kamu ngelawan ketergantungan? Jangan pikir kalo ketergantungan melulu terhadap narkoba. Dunia ini luas dan dihuni 6 miliar orang. Kesemuanya dengan kebiasaan dan perilaku yang berbeda-beda. Ada yang ngalamin ketergantungan sama narkoba, seks, belanja, atau hal-hal lain. Intinya adalah, kamu pengen hidup kamu jauh lebih simpel, tanpa ketergantungan ini. Kamu berusaha nglepasin diri, tapi kadang kamu relaps dan balik ke kebiasaan yang menurut kamu buruk ini.

Mungkin inilah salah satu jihadmu. Jihad melawan ketergantungan patologis.JIhad untuk mengendalikan dirimu sendiri. Jangan khawatir. Jalan ini dilalui banyak orang. Jalan ini bisa dilalui, walau ga mudah. You just have to choose to walk this line, not avoid it. Face and conquer it!

ajeng setaun belakangan

April 9, 2006 § Leave a comment

Maaf banget buat banyak temen-temen yang udah lama ga denger kabarku, terutama setaun belakangan ini. Barusan aku jalan ma sobatku jaman SMA, dan dia ingetin aku kalo udah sejak awal 2005 kita belum pernah ketemuan lagi, padahal biasanya aku rutin ketemu dia di Jogja. Kalo gitu sekedar curhat aja, yang kulakuin setaun belakangan ini adalah…

Juli – September 2005 aku alhamdulillah disponsorin ASEF (Asia Europe Foundation) & IIWC ikut Asia Europe Young Volunteers Exchange, sebagai wakil dari Indonesia Intl Work Camp bareng satu orang lagi dari Kalimantan. Tidak berhubungan dengan kedokteran. Kegiatannya training, volunteering, sama evaluasi. Yang ngadain CCIVS UNESCO. Kegiatannya di Paris, Roma dan Napoli (Italia). Bersyukur juga sempet jalan-jalan, backpacking sendirian ke Venice, Florence dan Pisa selama di Itali. Trus, mampir ke Belanda dan Spanyol 2 selama minggu setelah program ini selesai. Di Belanda aku nebeng ama host family adekku Tommy yang taun lalu AFS di kota Groningen. Di Spanyol aku nebeng ama temenku yang kukenal waktu aku volunteering di Itali. Liat tulisan pengalamanku di archive blog ini! Selama 2 bulan itu aku ga kuliah berhubung lagi masa liburan semester 6! Alhamdulillah pas banget waktunya, walau sempet ada beberapa minggu kuliah yang terlewat. Dan BTW, aku tambah gemuk banget karna di sana makan keju dan roti melulu. Trus… Pulang dari Eropa, aku langsung super sibuk dengan kegiatan nulis laporan dan ambisi menurunkan kembali berat badan. Dan karena adaptasi yang berat terhadap cuaca dan lingkungan sosial, plus terlalu memaksakan diri nulis laporan dan mulai kuliah, aku kena ISPA (infeksi saluran pernapasan akut) sampe mesti ga masuk kuliah seminggu lagi. Ironisnya, aku jatuh sakit persis di hari ultahku ke-21. Setelah sembuh, aku mulai kuliah semester 7 seperti biasa. Oktober sampe Desember. Dan kegiatanku bener-bener Cuma kuliah, walau kemudian sempet ikut 1 x turnamen basket antar-fakultas (di mana tim kita kalah… of course). Di turnamen itupun asmaku udah kambuhan terus. Fatigue. Aku mulai sering bolos latian basket dan lebih banyak belajar ato nonton tivi di rumah. Dan Alhamdulillah lagi, pertengahan Januari pengumuman, dan nilai semester 7-ku bisa cum laude… bahagia lah, jelas! Mulai akhir Januari, di liburan semester 7 aku isi dengan ikut kursus (akupunktur). Berhubung aku ga SP jadi aku gak pernah ke kampus dan menghilang begitu saja dari peredaran. Dari 15-28 Februari aku jadi campleader (pertama kalinya buatku) bareng Ayu (anak FK angk 04) untuk camp IIWC di Panti Asuhan Siti Khadijah, di Pedurungan. SERU! Volunteer di camp ini ada 10 orang; 3 dari Korea, 2 di Jepang, sisanya Indo. Kita tinggal di panti selama 2 minggu penuh dan berkegiatan bareng. Kegiatannya renovasi n dekorasi, bikin taman, n cultural exchange ama adek-adek panti. Yang jelas aku jadi kurus dan item banget selama camp ini. Trus karena ga biasa tidur beralas tiker aku jadi masuk angin, hehe…. STRES juga, karena di camp yang aku koordinir ini ada BANYAK MASALAH. Selain itu aku juga ninggal panti karna ngurus proposal penelitianku dan sakit. Masalah lain yang cukup norak: di tengah2 camp, ada temen kampusku yang ngajak aku berantem lewat sms. Terpaksa juga ngabisin pulsa nglayanin dia. Yaudahlah… gapapa. Diambil hikmahnya aja: pohon kelapa makin tinggi akan makin digoyang tiupan angin. Maksudnya… mungkin ada unsur kecemburuan sosial, akademik, dan intelektual yang bikin si temenku ini ngajak aku berantem. 2 hari terakhir aku ISPA berat dan dengan kondisi tubuh yang menyedihkan tetep berjuang untuk menyelesaikan camp… Sayangnya aku ga bisa sakit lama-lama karena sehari setelah camp selesai aku harus langsung presentasi dan review proposal. Setelah review selesai aku punya waktu 2 hari untuk tidur. Setelah tidur selama 2 hari aku mulai lagi masa perkuliahan semester 8 (awal Maret 2006). HOREEEEE…..!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Dan sekarang aku semester 8. Menjalani tahap akhir (ciee…..) perkuliahan sebelum mulai masuk RS bulan Agustus sampe 2 tahun ke depan. Kegiatanku sehari-hari adalah… hm…. KULIAH, BELAJAR seperti semua temen-temenku, nonton sinetron, kursus akupunktur seminggu 3x, tenis seminggu sekali, jalan-jalan sama ortu seminggu sekali, nulis blog kalo lagi mood, BELAJAR XTRA LAMA dan XTRA SERIUS kalo mau ujian, dan UJIAN kira-kira 1,5 minggu sekali. Hobi terbaruku sekarang adalah MINUM SUPLEMEN VITAMIN B-KOMPLEKS. Dan aku berusaha tetep sehat dengan TIDAK MINUM KOPI KEBANYAKAN.

Dubai Incorporated

April 6, 2006 § Leave a comment

http://docere.antiblog.com, halalan thayyiban for your ever-growing mind

DUBAI INC.

Oleh: Rahajeng N. Tunjung (RaTu)

Hari ini saya baru saja membaca soal Dubai, ibukota Uni Emirat Arab, dan ekspansi ekonominya di majalah Time bulan ini. Penulisnya sampai menjuluki Dubai sebagai Dubai Inc. (Dubai Incorporated) dengan sheik-nya sebagai CEO (chief executive officer) layaknya sebuah perusahaan, bukan pemerintahan. Kenyataannya, UEA memang dijalankan bak sebuah korporat raksasa. Sistem dijalankan jauh dari adat nepotisme Timur Tengah, dan transparansi dijunjung tinggi. Pendapatan negara meningkat 3 kali lipat dalam satu dekade. UEA menjadi negara yang ekonominya paling sehat di Timur Tengah, dengan minyak bumi yang hanya menyumbangkan 6% dari 16% lebih pertumbuhan ekonominya (yang membuat saya tersenyum adalah, angka 16% di Indonesia adalah angka inflasi tahunan).

Apa sih yang dilakukan Dubai? Well. Mereka menangkap betul esensi kapitalisme dan liberalisasi ekonomi, kemudian menyerapnya ke dalam kebijakan ekonomi negara. Konglomerat (kongsi perusahaan-perusahaan besar) dibentuk dan dikuasai oleh negara, dengan ekonomi yang murni berorientasi bisnis (tujuan: memperoleh keuntungan sebesar-besarnya). Terdengar sedikit rakus, materialistis, dan duniawi? Guess what. Mereka hanya sedang menyejahterakan negara dan rakyatnya!

Dubai telah berhasil menjual diri sebagai komoditas wisata, pusat industri komputer, bioteknologi, dan sekarang berminat “bermain” di tingkat dunia dengan membeli, menguasai dan menjalankan pelabuhan di Amerika Serikat! Dan akhirnya, sekarang Paman Sam kebakaran jenggot. Mereka resah bahwa aset nasional akan berada di bawah kekuasaan negara Timur Tengah.

Sukses dengan invasi di bisnis pelabuhan, kini Dubai sedang melakukan negosiasi untuk membeli perusahaan yang bisnisnya adalah menyediakan komponen tank, pesawat tempur dan senjata AS. Ambisius sekali. Dan ambisi ini membuat pemerintah AS semakin pusing dan ketakutan, apalagi ada ancaman baru dengan masuknya unsur asing ke wilayah militer mereka.

Sinisme diarahkan ke AS yang ternyata tidak siap dengan konsep GLOBALISASI mereka sendiri. Selama ini, perusahaan multinasional yang dominan adalah perusahaan AS, yang melakukan “investasi” (lebih tepat disebut “invasi ekonomi”) ke seluruh penjuru dunia. Dan saat negara lain melakukan hal yang sama persis, di halaman belakang mereka sendiri, mereka akhirnya merasakan kepanikan yang selama ini hanya dirasakan negara dunia ketiga (termasuk Indonesia).  AS sendiri getol membela diri dengan menyatakan bahwa prestise Dubai dibangun di atas utang. Tapi justru itu yang dilakukan perusahan besar. Menggunakan uang orang lain untuk membuka bisnis, dan akhirnya mendapat keuntungan (kalau di Indonesia: meminjam uang, dikorup dulu, dipakai membangun infrastruktur, dikorup lagi oleh pejabat bersama pegawai rendahan sehingga semua yang dibangun bakal ambruk lagi dalam waktu singkat, negara kumuh dan rakyat miskin tak bisa berproduksi, meminjam uang lagi, dst).

Saya hanya bisa berharap Dubai tetap konsisten membangun ekonominya; meneror AS dengan ekspansi bisnisnya. Soal Indonesia, saya tidak mau banyak komentar lah. Dan briliannya, justru lewat jalur bisnislah sebuah negara Timur Tengah bisa membuat AS panik dan ketakutan dengan cara yang cerdas, licik (mencuri taktik AS sendiri), bermartabat dan kompetitif. Bukan lewat demo-demo di depan kedutaan AS atau dengan membakar benderanya, sebuah aksi penuh keputusasaan yang kelewat superfisial untuk bisa disebut intelek.

Kisah dua buku bedah

April 6, 2006 § Leave a comment

LANGE
VS. DE JONG

Oleh:
RaTu (http://docere.antiblog.com)

*
Barusan
aku baca textbook bedah, Lange, keluaran Amrik taun 2003. And I was
pleasantly amused (bingung + seneng) of finding a new piece of
information about peptic ulcer (tukak peptik).

Di
textbook bedah asli produk dalam negri (De Jong), yang dibahas duluan
adalah tentang gejala dan tanda kelainan lambung dan duodenum,
termasuk perdarahan (muntah darah, berak darah). Dan ini artinya,
perforasi dan perdarahan lambung dan duodenum cukup tinggi
prevalensinya di Indonesia, sampai-sampai gejala ini dibahas
tersendiri. Mahasiswa dianggap perlu untuk mengenali hal ini sedini
mungkin karena keterlambatan diagnosis dan penanganan berakibat
kematian pasien.

Di
Lange, aku bingung waktu baca soal PEPTIC ULCER, karena ga ada
pembahasan soal perdarahan sama sekali! Tadinya aku pikir buku ini
aneh dan ga lengkap (yang secara teoretis ga mungkin). Tapi akhirnya
terbaca juga olehku kata-kata PERFORATION dan HEMORRHAGE di bawah
judul COMPLICATION. Rupanya soal perforasi dan perdarahan adalah
komplikasi dari tukak peptik, dan tidak selalu ada pada tiap kasus
tukak peptik. Hanya tukak peptik yang tidak ditangani yang progresif
menjadi perforasi dan perdarahan. Baru kemudian perforasi dan
perdarahan dibahas tersendiri setelah pembahasan tukak peptik. Selama
ini yang kupahami dari De Jong dan kuliah, tukak adalah perforasi.

What
does this mean, that two textbooks from two oppositely advancing
countries are different in presenting the information?

Ini
artinya, bahwa kesadaran pasien di Amrik lebih tinggi. Begitu
merasakan sakit dan mual, mereka memeriksakan diri ke dokter, dan
tukak tidak lantas menjadi perforasi. Sedangkan di sini, mungkin baru
setelah perdarahan terjadi dan nyaris syok, pasien baru dilarikan ke
RS.

Selain
itu, dininya diagnosis tukak peptik (berdasarkan definisi) di AS
membuat penyakit ini bisa dengan mudah dicegah mengalami komplikasi.
Tukak peptik menurut Lange adalah aksi korosif asam lambung terhadap
dinding mukosa lambung. Definisi De Jong serupa, namun langsung
ditambah keterangan “…dapat menembus mukosa, dapat berkembang
lebih lanjut sehingga terjadi perdarahan, penetrasi ke pankreas, dan
perforasi bebas…”.  Ini saja sudah menunjukkan bahwa manifestasi
kasus tukak di Indonesia adalah yang telah mengalami komplikasi.

Ada
perbedaan lain dari kedua textbook ini. Lange sudah menyatakan bahwa
penyebab utama tukak adalah infeksi kuman Helicobacter pylori,
sementara De Jong menyatakan bahwa infeksi kuman ini mempermudah
terjadinya tukak. Kontras sekali kan? Implikasinya, pengobatan di AS
selalu dianjurkan kausatif, dengan melibatkan antibiotik terhadap
Helicobacter pylori. Di Indonesia, anjuran ini tidak populer.

Ini
bukan soal mengejar ketinggalan dengan dokter lulusan AS. Ini lebih
ke soal membuat diri kita menjadi sama pintarnya dengan dokter
lulusan AS. Kalo bersaing dengan lulusan FK negri lainnya saja sudah
bikin minder, jangan harap bisa angkat kepala tinggi-tinggi di luar
negri kalau konferensi internasional. Jangan harap bisa datang ke
konferensi internasional.

Kepercayaan
diri itu seperti api yang bahan bakarnya ilmu. Dan ilmu itu dicari,
bukan ditunggu.

Where Am I?

You are currently viewing the archives for April, 2006 at Docere.