tentang cinta dan dewa

March 11, 2006 § Leave a comment

cuma entry singkat. aku pengen mengucapkan terima kasih kepada Ahmad Dhani yang udah mengajarkan tentang cinta ke pendengar musik. dua album terakhir DEWA bener2 luar biasa, dan selain lirik kontemplatif-religius, aku rasa kualitas musiknya (aransemen, mixing, dan eksplorasinya) bener2 ga bisa ditandingi lagi di Indonesia. dan aku hanya satu dari sekian banyak yang dia sebut sebagai Laskar Cinta. aku masih belajar tentang cinta.

aku minta maaf

March 11, 2006 § 3 Comments

Aku mengajarimu cinta dan kelembutan

Aku mengajarimu kasih dan kebaikan

yang dengan rendah hati kauresapi

Aku melihatmu belajar merentang sayap dan terbang

Bukan aku yang mengajarimu, Tuhan yang menentukan sudah saatnya bagimu

yang dengan rendah hati kausyukuri

Aku menerima sanjunganmu dan diam-diam menyangkalnya

Bahwa aku matahari,

bahwa aku takdirmu

Tidak mungkin sebesar itu artiku untukmu, aku hanya kebetulan mampir di hidupmu

Jangan berharap, dan jangan membuatku menyakitimu

Aku hanya sedang menerima satu orang lagi di kehidupanku. Kamu.

Saat kauberkata ’selamanya’, aku berkata ’saat ini’

Saat kauberkata ’janji’, aku berkata ’semoga’

saat kau lelap, aku mencari jalan keluar dari labirin hatimu

Aku minta maaf, bukan aku yang kauinginkan

Aku minta maaf untuk kebodohanku, ketakpedulianku

dan kegagalanku untuk selalu ada buatmu

Aku minta maaf, aku telah lari menjauh

Aku minta maaf untuk ketakutanku, ketaksiapanku

dan harapan-harapanmu yang tak sempat kupenuhi

Aku minta maaf tidak bisa mendampingimu

Aku minta maaf atas ketidakmampuanku, kelemahanku

dan beban-bebanmu yang tidak sempat kuringankan

Aku minta maaf untuk singkatnya waktu bersamamu

tapi aku berharap itu cukup untukmu

Aku harap kau menganggap itu cukup

Aku minta maaf telah masuk terlalu jauh ke hatimu

Aku minta maaf telah membiarkanmu menarikku ke dalam sana

dan akhirnya aku melihat semuanya tanpa sepenuhnya mengerti

Aku minta maaf tidak bisa memahami kisahmu

Aku minta maaf karenanya aku perlahan melukaimu, lagi dan lagi

Dan membuat air matamu jatuh, lagi dan lagi

Aku minta maaf telah membuatmu menutup diri

Aku minta maaf kau menjadi berjarak dan kaku dan dingin

Aku mengerti kau hanya menjaga diri agar tak ditikam berulang kali, olehku dan mungkin orang lain

Aku memang lari, dan tampak tak peduli

Namun saat kau berpaling, diam-diam aku menangis

karena aku tahu diam-diam kau menangis karenaku

Dan selagi aku menghilang, sebenarnya aku mengajarimu tentang pasrah dan melepaskan

Tentang menerima rencana-rencana yang gagal, upaya-upaya tanpa hasil

Dan bagaimana melupakan hal yang menyakitkan

Aku berhenti menjauh saat kau berhenti menangisiku

Aku minta maaf karena ternyata aku bukan apa-apamu

Aku minta maaf

RaTu/ 6-3-06

Matahariku terbenam

March 11, 2006 § Leave a comment

Tentang seseorang yang pernah jadi matahariku:

Ada Zahir-ku, yang selalu kurindukan dan entah sampai kapan.

Dan kemudian ada Matahariku, yang membuatku melupakan Zahir-ku.

Oke, dia adalah seorang teman. Dia tahu banyak banget tentangku. Tapi suatu saat, sinarnya meredup, dan aku menjauh dari orbitnya. Sempat melayang-layang di kehampaan tanpa kehangatan, tanpa ada yang menerangi.

Tanpa kiasan lebih lanjut: aku menjauh, mengasah lagi kemampuanku untuk bertahan tiap hari tanpa dukungannya lagi. Butuh waktu lama untuk pulih dari rasa kehilangan itu. Dan butuh usaha besar sampai aku cukup percaya diri dan bilang bahwa aku tidak mau tergantung sama siapapun sekarang.

Justru akhirnya sekarang setiap kali akan bertemu dia (menjaga komunikasi dan hubungan yang santun), aku selalu ketakutan. Takut ketemu dia ngembaliin semua perasaan nyaman yang bikin aku pengen tergantung lagi sama dia. Takut aku gak percaya diri lagi bahwa aku bisa mandiri dan ga tergantung sama dia. Takut suasananya aneh dan canggung karena tiap ketemu, kami inget apa yang pernah kami bagi, dan bagaimana jadinya hubungan kami sekarang. Jauh lebih mudah untuk batalin janji ketemuan kami daripada nyiapin diriku untuk ketemu dia.

Dulu setiap ketemu dia, aku ngrasa waktu berlalu cepet banget. Sekarang, aku cuma pengen tiap pertemuan kami segera selesai. Hebat kan, perubahannya?

Anehnya, aku masih ga bisa melenyapkan dia dari hidupku. Dia tahu terlalu banyak tentang aku. Dia ga sepenuhnya memahamiku, tapi setidaknya dia tahu sejarah hidupku, dan jauh lebih mudah curhat ke temen yang udah punya prior knowledge banyak tentangku. Aku ga berharap dapet nasehat atau dukungan, cuma butuh manusia yang mendengarkan.

Mungkin… ini mirip ama kasus di mana mantan pacar jadi sobat. Atau balik sama mantan pacar. Udah tau terlalu banyak tentang satu sama lain. Dan nyatanya, hubungan kami sekarang, walau ga seperti dulu, tetap ga tergantikan buatku. Ga ada orang lain yang menjadi temanku seperti dia menjadi temanku.

Ya sudah lah. Let it be.

 

Diego cermin Cinta

March 11, 2006 § Leave a comment

Suatu hari saya berjumpa sahabat lama yang bernama Rinda. Obrolan mengalir sampai kami bicara tentang cinta, dan ia mulai mengisahkan persahabatannya dengan seorang laki-laki bernama Diego. Saya pikir ini hal menarik yang bisa jadi bahan renungan. Mungkin ada yang pernah mengalami pergulatan batin serupa dengan Rinda. Ini tulisan saya sesuai yang diceritakan Rinda.

Aku tahu kekuatan cinta. Aku melihat apa yang berhasil digerakkannya. Aku menjalani perubahan besar dalam hidupku ketika aku belajar mencintai. Pengalaman pertamaku dengan cinta adalah pengalaman yang membuatku tumbuh paling cepat dalam rentang waktu yang paling singkat. Namanya adalah Diego. Dia bukanlah kekasihku, ataupun orang yang ingin kunikahi. Dia sahabatku. Cinta kami adalah cinta platonik antara seorang laki-laki dan perempuan, tanpa romantisme. Sejak pertama kali aku mengenalnya, kehadirannya selalu memancarkan cinta dan ketulusan. Mungkin karena itu aku mencintainya. Dan mungkin karena aku mencintainya maka ia mencintaiku lebih dari cintanya pada teman-teman kami yang lain. Aku tahu bahwa keluarga adalah yang pertama mencintai kita, namun Diego adalah orang yang pertama kali menunjukkan padaku bagaimana aku dapat memanifestasikan cinta dalam kehidupan sehari-hari.

Diego dan aku adalah orang dengan latar belakang berbeda. Karenanya, aku takut bahwa kedekatan kami, cinta kami terhadap satu sama lain, adalah hal yang tabu. Namun kenyataannya persahabatan kami mendatangkan begitu banyak cinta dan kebahagian bagi hidupku. Kami sering menghabiskan waktu bersama, mengobrol, bersantai, hanya itu. Aku berusaha sesering mungkin menemuinya, karena aku merasakan kenyamanan saat bersamanya. Kenyamanan yang berasal dari kenyataan bahwa dia membuatku merasa dicintai. Ia menunjukkan cintanya dengan menjadi sahabat yang penuh perhatian, menjadi pendengar yang baik, pemberi nasehat yang bijak, dan selalu berusaha membantuku di saat-saat sulit dalam hidupku. Diego adalah orang yang selalu menebarkan cinta kepada sesamanya, dan saat itu aku termasuk salah satu yang menerimanya. Aku menghormati dan mengagumi sahabatku. Sepertinya dia memiliki begitu banyak kekuatan dan kesetiaan untuk selalu memberi dan membantu siapapun. Aku merasa bahwa aku harus menjadi orang yang lebih baik, meneladaninya, agar pantas menjadi sahabatnya walau ia tak pernah menuntut apa-apa dariku.

Seperti sebuah gelas yang diisi air, setelah penuh maka isinya akan meluap keluar. Itulah yang terjadi pada diriku. Setelahnya aku merasa menerima kasih sayang dan cintanya, aku merasa mampu memberikan cintaku pada seluruh dunia.

Paulo Coelho mengatakan bahwa mencintai seseorang adalah melihat percikan Tuhan dalam diri orang itu. Perlahan aku mulai memahami bahwa cinta Diego begitu kuat, begitu mempengaruhiku karena cintanya adalah pantulan cinta ilahiah. Aku mulai mengerti bahwa kemurnian hati Diego telah membuatnya mampu menyalurkan cinta ilahiah kepada orang-orang di sekelilingnya; dan bahwa semua orang juga mampu melakukan hal yang sama jika mampu mengingat kembali kemurnian hatinya seperti bayi yang baru lahir dan membiarkan dirinya menjadi instrumen Tuhan. Sejak saat itu aku sadar bahwa ketika aku menatap Diego, aku menatap karunia Tuhan. Cinta Diego padaku adalah cinta Tuhan padaku yang Ia berikan lewat Diego, sebagaimana lewat orang-orang dalam hidupku yang selalu peduli dan mencintaiku. Tuhan pasti mengirim Diego dalam hidupku untuk membantuku tumbuh, begitu keyakinanku.

Sejak saat itu aku mencari jalan untuk dapat mewujudkan cinta bagi sesama. Aku mencari cara agar dapat mencintai dan melayani Tuhan pada saat yang sama. Aku mengalami perubahan besar dalam prioritas hidupku. Aku berani menyatakan bahwa aku akan berusaha untuk hidup demi melayani Tuhan, karena kita belajar mengenal Tuhan lewat cinta di sekitar kita. Aku berusaha untuk membantu orang lain karena mengingat Tuhan dan keinginanku untuk menjadi instrumen Tuhan.

Itulah saat di mana aku sadar kekuatan cinta yang sesungguhnya. Cinta mampu membuat kita berusaha menjadi manusia yang lebih baik. Mampu memberi kebahagiaan dan mendorong kita untuk selalu bermimpi dan bekerja untuk mimpi itu. Mampu memberi kita kekuatan untuk memberi dan membantu orang lain. Gampangnya, cinta harusnya membuat kita lebih baik bukan hanya terhadap orang yang mencintai kita, namun terhadap orang-orang di sekitar kita. Cinta tidak egois, karena cinta harusnya membuka jiwa kita untuk mencintai semua makhluk-Nya.

Tapi aku tetap manusia yang kadang terlalu sibuk dengan kelemahan dan bukan kekuatannya. Ketika menyadari pengaruh cinta yang kini begitu mewarnai hidupku, ketika itu pula aku menjadi takut. Aku takut kehilangan Diego, kehilangan cinta yang selama ini telah memberiku kekuatan besar untuk membantu orang lain. Aku takut bahwa kemampuanku untuk mencintai selama ini semu, dan hanya mungkin karena ada Diego di sampingku. Aku takut bahwa aku sendiri saja takkan mampu mencintai ketika aku tidak menerima cinta, dalam hal ini dari Diego. Aku sepertinya menjadi lupa bahwa sebagaimana yang telah kupelajari, Diego hanya menyalurkan cinta Tuhan. Tetap saja aku takut kehilangan dirinya.

Tidak ada yang abadi, begitu pula persahabatanku dengan Diego. Aku seharusnya menyadari bahwa cintanya harus menjangkau lebih banyak orang, menyentuh lebih banyak kehidupan. Dan itu artinya kami harus berpisah. Sebelum raga kami terpisah, hati kami terpisah lebih dulu, kurang dari dua tahun sejak persahabatan indah kami dimulai. Aku merasa kedekatan emosional kami mulai terganggu ketika ia mulai menjalin hubungan-hubungan baru, persahabatan baru. Dengan semua itu, aku perlahan tapi pasti terpinggirkan dari pusat kehidupannya.

Aku mengalami tahun yang berat karenanya, dan ketika itu aku menyadari bahwa selama ini aku terlalu menggantungkan diri padanya. Aku seperti kapal yang karam, perlahan berputar turun mengikuti pusaran air yang menarik aku ke dasar. Aku membiarkan diriku bergantung secara emosional pada Diego, sehingga tanpanya aku merasa tak berdaya. Aku limbung, seperti lupa cara berdiri di atas kakiku sendiri karena selama ini selalu menyandarkan diriku padanya. Diego seperti tak menyadari akibat perbuatannya, karenanya ia menyakitiku. Sepertinya ia tetap sama terhadap semua orang di sekitarnya kecuali terhadapku. Tak ada yang memahami apa yang tengah kualami.

Selama setahun aku berusaha sekuat hati bertahan. Ia berada di hatiku, dalam sekali, sehingga luka yang ditimbulkannya menganga. Saat itu aku menyibukkan diri dengan rutinitasku, mengusirnya dari pikiranku sebisa mungkin. Aku tidak tahu kapan aku pulih dari patah hati akibat kehilangan sahabatku, namun aku yakin bahwa selama apapun waktu yang kuperlukan, aku akan dapat melupakannya. Aku harus melupakan kenyataan bahwa ia pernah menjadi bagian terpenting dalam hidupku.

Aku mendapatkan kesempatan untuk melakukan perjalanan ke Afrika Selatan untuk waktu yang cukup lama. Akhirnya perjalanan itu menjadi perjalanan yang bernilai spiritual bagiku. Aku belajar untuk mencintai lagi, aku belajar untuk melihat cinta Tuhan lewat orang-orang di sekitarku yang baru kukenal. Aku hanya melihat keindahan Tuhan di keindahan alam dan kebaikan hati orang-orang di sekitarku. Aku mendapatkan keyakinan diri bahwa aku mampu mencintai tanpa tergantung pada siapapun.

Sekarang aku sudah tidak merindukan Diego lagi, aku tak mencarinya lagi. Seperti aku, Diego hanya instrumen Tuhan, dan Dia-lah yang menentukan segala sesuatu. Diego muncul dalam hidupku untuk mengenalkan Tuhan padaku dari sudut pandang yang baru bagiku. Pengalamanku bersama Diego menyadarkanku, bahwa seseorang yang paling sempurna di mata kita pun tak luput dari perbuatan yang dapat menyakitkan orang lain. Tuhan telah menunjukkan jalan-Nya untukku, lewat Diego, lewat perjalanan spiritualku, bahwa aku harus tumbuh menjadi diriku seutuhnya, bukan menjadi orang lain. Bahwa kehidupan adalah sebuah grafik sinus yang naik dan turun, seperti gelombang, dan aku tak akan tahu apa yang akan kualami. Aku tak akan pernah menduga perjalanan batinku sampai aku mengalaminya. Kadang aku dapat mencegah diriku dari berbuat kesalahan, kadang tidak. Diego bukan sebuah kesalahan, bukan pula penyesalan. Aku akan selalu bertemu dengan orang-orang baru, membiarkan mereka masuk, dan mungkin juga keluar dari hidupku. Dan selama itu pula, aku akan terus belajar dan tumbuh dengan cinta.

INTELEKTUALITAS yang pintar

March 11, 2006 § Leave a comment

Aku rasa kunci intelektualitas adalah keinginan untuk terus mengeksplorasi ide-ide baru. Masalah utama dalam mengeksplorasi ide-ide baru adalah, kita akan mendapatkan banyak tantangan atas ide-ide yang selama ini kita anut. Dan dalam proses mencari kebenaran, kita harus berani mengalami naik turunnya emosi.

Contohnya, baru-baru ini aku harus membaca tulisan pakar evolusi untuk bisa memahami evolusi. Namun dalam tulisan mereka, suka atau tidak, akan muncul pernyataan yang menentang creationism. Dan akhirnya jelas buatku, bahwa seorang evolutionist sejati sudah pasti atheis. Problem muncul saat atheisme ini dikemas dalam bungkus sains (diterjemahkan sebagai sains), dan dipaksakan untuk diterima dengan hasil akhir berupa dikotomi: percaya evolusi dan anti-Tuhan, atau percaya Tuhan dan menjadi makhluk anti-sains. Sudah jelas keislamanku membuat aku percaya Tuhan dan melihat sains sebagai tanda-tanda-Nya.

Mudah saja untuk "takut" tersinggung dan marah dengan tulisan para evolutionist, dan akhirnya memilih untuk tidak membaca atau mempelajarinya sama sekali. Lebih mudah lagi membaca argumen anti-evolusi yang ditulis para creationist, tapi ada kemungkinan bias yang emosional dalam penyampaiannya. Aku merasa harus memutuskan sendiri apa yang akan kupilih dengan melakukan penelusuran intelektualku sendiri.

Dan akhirnya, intelektualitas hanyalah keberanian untuk menentukan pemikiran kita sendiri.

Pro-Liburan anti-SP

March 11, 2006 § 1 Comment

Aku punya kepercayaan aneh yang ditularkan seorang teman:

BELAJAR TIDAK BOLEH MENGGANGGU WAKTU BERMAIN.

Dan karena pernyataan di atas tabu buat seorang mahasiswa kedokteran, paling ngga aku berusaha mengaplikasikan prinsip ini setiap semester:

LIBUR SEMESTER TIDAK BOLEH DIISI DENGAN SEMESTER PENDEK (SP).

FYI, for your info, di FK Undip, SP cuma untuk perbaikan nilai.

Jadi kalau banyak temen-temenku merujuk waktu 1,5 bulan antara semester genap dan ganjil sebagai SP, aku menyebut waktu itu sebagai LIBUR.

Gosipnya, aku satu-satunya di angkatanku yang ga pernah SP. Temen2ku yang mahasiswa cerdas nan pintar nan teladan banyak yang SP demi meng-A-kan nilai B mereka. Cuma aku terlalu males aja untuk senapsu itu. 1,5 bulan kayaknya lebih baik dihabiskan untuk hal berbobot seperti baca buku non-kedokteran (pengeluaran terbesarku tiap bulan adalah buat buku), kegiatan ngeluarin duit seperti jalan2 ke mall (yah… memang aku secara umum rada konsumtif sih), tanding basket dan ngurusin badan (yang sekarang dah ga pernah lagi), ato nonton sebanyak mungkin DVD (bajakan tentunya). Dan walhasil, setiap selesai liburan yang bikin aku semi-pengangguran, aku udah panas lagi pengen mulai kuliah. Liburan itu charging otak, mental, dan normalisasi kehidupan sosial yang tidak dimungkinkan dalam masa-masa perkuliahan (misalnya bergaul sama anak-anak non-mahasiswa).

Sebenernya ga ada ambisi untuk jadi yang paling anti SP. Misalnya aja, semester 6 kmaren nilai radiologiku C tapi karna selama liburan aku pergi jauh banget, jadi aku ga mungkin SP, dan akhirnya brusaha perbaikin dengan ngambil lagi regulernya di semester 7 (Alhamdulillah jadi A).

Trus akhir semester 7 ini aku jadi ambisius banget pengen bikin interna dan THT-ku jadi A (dari B), tapi lagi-lagi Tuhan menentukan lain.

Aku harus sebuah kursus (demi membahagiakan orang tuaku dan meningkatkan kemungkinanku berwirausaha di masa depan), dan mesti jadi koordinator camp IIWC (Indonesia Intl Work Camp) selama 2 minggu di akhir Februari (bertepatan dengan ujian SP, padahal aku mesti nginep di sebuah panti asuhan dan ngurus volunteer2 korea n jepang). Dan daripada hasilnya setengah2 semua, mending aku gak SP aja.

HOW TO BE GOOD / Nick Hornby

March 11, 2006 § Leave a comment

Aku baru baca 2 buku Hornby, tapi kesimpulanku, dia bisa nulis tentang masalah biasa manusia dengan sudut pandang yang amat ga biasa dan merangkum semuanya dalam kemasan yang ringan, menarik, dan simpatik.

HOW TO BE GOOD adalah kisah tentang pergulatan batin seorang dokter cewek, Katie Carr, yang mulai merasa mati rasa dan ga bahagia bareng suami dan kedua anaknya, selingkuh, dan minta cerai. Walau begitu, dia selalu menjustifikasi dirinya sebagai orang baik hanya karena dia dokter (dan tentu tidak semua pasiennya bisa sembuh).

Suaminya, David, adalah orang yang penuh sinisme dan sarkasme, bahkan menulis kolom yang isinya kemarahan terhadap semua hal yang bisa dia benci di dunia (misalnya, tentang gmana seharusnya orang tua tidak naik bis umum karena mereka selalu jatuh kalau bis berhenti!!!). Suatu hari suaminya jadi baik, sampe2 Katie takut suaminya berubah gara2 GMO (Gangguan Mental Organik, harap diingat kembali ilmu psikiatrinya…). Dia mulai punya misi besar membantu orang di sekitarnya, dan itu bikin Katie ngrasa punya suami baru, sekaligus hampir gila karena saking murah hatinya David, harta mereka mulai terkuras. Akhirnya Katie juga mulai berpikir tentang kebaikan, buat orang lain maupun keluarga dan dirinya sendiri. Dan mulai ngerti apa yang layak dipertahankan maupun ngga. Dari pengalaman David, kita belajar bahwa kesempurnaan itu butuh banyak energi, yang bisa kapan aja menyedot habis semua tenaga kita sampe kita justru mati rasa sama kebaikan itu sendiri dan ngrasa ga sanggup lagi melakukan kebaikan. Dan Katie mulai belajar gimana jadi orang baik, walaupun kebaikan ga harus dilakukan dengan sempurna. Karena kebaikan tidak menuntut kesempurnaan, cuma ketulusan.

ISTIMEWANYA novel ini adalah gmana semua kejadian terasa nyata banget, semua proses batin tokohnya mungkin banget terjadi di kehidupan sehari-hari (dan sesungguhnya, listen people, pernah kujalani sendiri!).

ASIKNYA novel ini adalah dialognya yang super lucu, dengan penempatan ironi dan momen sentimentil yang pas banget dan bikin nangis. Casually brilliant!

SELAMAT buat Hornby, karena aku baru aja memutuskan untuk jadi fans beratnya (dan jadi fans berat artinya aku bakal beli semua bukunya begitu terbit hanya demi menikmati apapun yang dia tulis, bagus atopun jelek, kayak aku beli semua buku Paulo Coelho).

BUSUKNYA GRAMEDIA kenapa sih selalu nerbitin buku terjemahan berbobot dengan cover yang KAMPUNGAN??? Contoh: Tuesdays with Morrie dan 5 People U meet in Heaven (Mitch Albom), The Zahir (Coelho. Cover aslinya adalah siluet wanita, bukan gambar kartun ga mutu seperti terjemahannya), Fire of The Heart (Deepak Chopra), dan masih banyak lagi cover kampungan lainnya.

Where Am I?

You are currently viewing the archives for March, 2006 at Docere.