The Downside of Success: Jealousy

February 22, 2006 § 2 Comments

C dan E, pesan ini spesial untuk kalian berdua:

Hari ini aku baru sadar memang semua hal yang kita dapat ada harganya.

Dan di saat-saat yang paling tak disangka, kita akan tahu siapa teman yang sesungguhnya. Kata Coelho, teman bukanlah dia yang ada saat kita kesulitan. Dia adalah yang ada saat kita sedang senang dan bahagia, dan bisa tetap lapang dada dan ikut bangga dengan kesuksesan kita. Dan tragisnya, semalam aku baru sadar bahwa yang selama ini kusangka teman, tak lebih dari sekedar orang yang mampir sebentar di kehidupanku, dikirim Tuhan untuk membuatku belajar tentang arti pengkhianatan dan kesetiaan.

Gimana yah, aku selama ini sibuk dengan kegiatan di luar kedokteran. Dan syukurnya, hal ini bisa membuatku keluar negri gratis. Syukurnya lagi, nilai-nilai kuliahku masih tetap salah satu yang terbaik di FK. Akhirnya, satu-satu mulai terlihat sikap iri beberapa orang temanku. Mempersulit dan tidak mau menolong saat aku membutuhkan.

Gak apa2. Bukan yang pertama kali ini terjadi. emang mungkin selama ini aku punya standar dan cita-cita sendiri tentang apa yang mau kulakukan dalam hidupku, beda dari orang lain. dan kalau ini membuat beberapa orang (yg tdk dewasa) iri, maka ini bukan masalahku. They’re just jealous. Aku kasihan sama mereka, yang pikirannya terlalu sempit bahkan untuk mampu memahami bahwa kelebihan orang lain bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi diri sendiri.

This fuc%!n Blue Valentine

February 14, 2006 § 2 Comments

There are days when tears are just unavoidable. Ironically, today, Valentine’s Day, is that day for me. Not becuz I’m heartbroken. Not becoz I’m single. But cuz I’m too freakin tired (physically n mentally, that is) to even function normally. I’m nervous cuz tomorrow is the first day of my workcamp, where I, for the first time ever, will be the coordinator. I’m tired becuz there’s a million thing I had to take care of before starting the workcamp.

I’m stressed becuz… I’m TIRED. I need SLEEP. I need REST.

and the worst thing is : NOBODY WILL EVER UNDERSTAND HOW TIRED AND FRUSTRATED I AM AT THE MOMENT.

It’s hard to be a med student when you’re doing activities outside med school. People expect more from you, when you have less time to do everything other than studying. I’m a cum laude med student for God’s sake, GIMME A BREAK!!!!!

Kartun Ofensif. Kopenhagen. Beirut

February 6, 2006 § 3 Comments

Soal kartun yang menghina Rasulullah.

Presiden

RI

“berhasil membuat” wakil Denmark di Indonesia minta maaf atas kejadian ini.

Pemerintah

Denmark

meminta pemimpin dunia membantu menenangkan situasi.

Bush menyatakan bahwa “press’ freedom and independence” (kebebasan dan kemandirian pers) harus diimbangi dengan “press’ responsibility” (tanggung jawab pers).

Di Beirut orang2 ngrusak gereja Katolik gara2 masalah ini. Pemimpin agama negara itu langsung silaturahmi dan meeting. Jubir pemerintah

Lebanon

menyatakan bahwa umat beragama di

Lebanon

adalah “one people” dan perusakan semacam itu tidak bisa dibiarkan.

Aku jadi bertanya-tanya, apakah Muslim sedang dimanipulasi dan dibodohi lagi untuk nimbulin citra “Muslim adalah makhluk barbar dan anarkis” ke seluruh dunia?

Sementara kita tahu bahwa orang brengseknya adalah koran yang memuat kartun itu, di sebuah negara yang (lagi-lagi berdasarkan pengalaman pribadi di Eropa) aku yakin lebih banyak atheisnya dibanding yang menjalankan agama.

Dan sekarang orang2 yang merusak itu merasa mereka “membela agama” sementara hasilnya adalah orang yang ga suka ama Islam dapet alasan bagus untuk bikin orang mikir Islam-lah yang suka kekerasan.

Dan barusan ditayangin di CNN gambar dari Kopenhagen, ribuan warga kumpul di alun2 dan menyatakan prihatin dan minta maap. Ada poster yang bergambar simbol peace ama tulisan SORRY gede banget.

Mungkin nasehatku buat semua orang di muka bumi  adalah “ENGAGE YOUR BRAIN BEFORE YOUR MOUTH” (Kumar&Clark. Pass Finals. London: Sanders, 2004 –buku rangkuman untuk persiapan ujian kedokteran-)

Dalam hal ini, mestinya “ENGAGE YOUR BRAIN BEFORE YOUR ACTION”.

Artinya, pake otak sebelum bertindak. Pikirin dulu konsekuensi dari tindakan kita. Niat yang baik gak membuat suatu perbuatan jadi baik (inget, koruptor akan bilang kalo dia mencuri cuma karena berusaha membahagiakan keluarganya).

Hasil yang baiklah yang membuat suatu perbuatan jadi baik.

mbak2 Makro yg ga sopan

February 6, 2006 § Leave a comment

BTW. Siang ini aku n nyokap ke Makro untuk beli rak buku. Trus kita lihat sebuah kursi taman dari kayu yang harganya cuma 30 ribu. MURAH banget, langsung mutusin beli. Walhasil waktu qt tanya barang stoknya yang dikemas di box, mba2nya bilang kalo tinggal 1 yang dipajang itu, jadi kita ambil kursi itu (padahal kan mestinya dipak di box dan ga berwujud kursi begitu). Btw, tuh kursi ada barcode-nya, jadi emang dijual. Trus pas lagi muter2 ada mas2 pegawai yang nyetop n sambil senyum bilang kalo barang pajangan ga boleh dibawa. Dan aku bilang kalo tadi mba2nya bilang dibawa aja gapapa karna stok abis, dan aku suruh dia ngecek. Qt cuek dan jalan lagi sementara si mas itu nyari mba2 yang tadi.
Ternyata gapapa, karna kita ga dikejar dan disuruh balikin tuh kursi.
Anyway, ampe kasir ada insiden lagi. Si mba2 kasir berkomentar “Loh, kok yang diambil barang display sih, kan ga boleh.” Dengan ekspresi wajah menghina (mencibir, bibir kanannya ditarik ke kraniolateral).
O-ow… kesalahan fatal Mbak, Anda baru saja secara frontal melecehkan pelanggan! (aku juga heran kok dia berani bersikap gitu, beda ama si mas2 yang nanya baik2). Dan jelas memicu respon ibu dan anak yang walopun Jawa asli tapi kecampuran Madura dan ada unsur2 Batak-nya (kelamaan tinggal di luar Jawa).
Aku dengan sabar bilang kalo tadi kita udah tanya n disuruh bawa barang itu aja. Trus nyokap dengan semangat bilang “Ya jelas udah ngecek dong, kita kan ngga BODOH”. Trus dia brusaha memperbaiki kesalahannya dengan bilang “Iya, saya heran aja biasanya kan kalo beli barang, yang diambil yang di box”. O-ow, kesalahan kedua, Anda BOHONG dan kita tau itu!
Akhirnya abis dia slese ngomong aku komentar singkat, padat, tenang dan jelas, terinspirasi cibirannya tadi, “MAKANYA, KALO NGOMONG HATI2 MBAK!”.
Heran aja, kok bisa secara terbuka melecehkan customer kayak gitu.
Kita belanja banyak loh, bukan cuma beli sebotol sambel n kecap doang.
Kadang dengan bersikap tegas kita menolong orang lain supaya ga ngawur.

Integritas. Idealisme.

February 6, 2006 § Leave a comment

Aku lebih suka nyebut diriku sebagai orang yang berusaha menjaga integritas dibanding menjaga idealisme.
Aku sendiri ngrasa punya idealisme: ide di kepalaku tentang segala sesuatu yang kuanggap ideal.
Tapi nyatanya, buatku, integritas jauh lebih mulia untuk dijunjung tinggi.
Buatku, integritas artinya situasi di mana kita melakukan sesuatu dengan benar walau tak seorangpun yang melihat kita; doing the right thing even when there’s nobody looking.
Integritas lebih dekat dengan iman dibanding idealisme.
Kenyataannya, ada yang dengan bangga menyebut dirinya idealis walau akhirnya terpaksa kompromi dalam banyak situasi (misalnya, politikus busuk yang sejak mahasiswa menjadi aktivis dan “membela rakyat dari penguasa”).
Ada juga yang takut, dan menganggap bahwa semua idealisme pasti akan luntur seiring dengan waktu, sehingga lebih baik tak mengaku sebagai idealis, dan dengan bangga mereka menyebut dirinya sebagai realis. Menurutku justru banyak dari mereka yang sebenernya fatalis, orang yang menganggap bahwa segala sesuatu yang buruk adalah takdir Tuhan dan tidak berani punya cita-cita karena takut kecewa kalau tak bisa mewujudkannya.

Yang jelas, sejak umur 20 aku udah kehilangan kepercayaan sama sistem, pegawai pemerintah (kecuali Presiden RI sekarang, I totally adore him and consider him as the only trustworthy soul in the goverment), dan masyarakat.
Buah kekecewaan.
Aku tahu persis (dan mengalami sendiri sebagai pelajar yang sering berurusan dengan negara dan uang negara lewat lomba-lomba yang kuikuti sampai ke tingkat internasional) bahwa banyak bos dan bawahan PNS sama-sama sibuk mengeruk uang dan kesenangan pribadi.
Idealismeku adalah kepercayaan bahwa kemajuan adalah hasil kolektif dari perubahan individual.
Aku percaya perbuatan manusia, sekecil apapun, ada konsekuensinya.
Makanya aku percaya kalau aku melakukan apapun, sebenernya aku sedang mengubah dunia.
Dan aku percaya bahwa kemajuan adalah proses, bukan hasil, jadi kita harus konsisten dalam meningkatkan kualitas.

Di tepi sungai piedra aku duduk dan menangis

February 3, 2006 § Leave a comment

Tentang “DI TEPI SUNGAI PIEDRA AKU DUDUK DAN MENANGIS”, oleh Paulo Coelho

Buku ini tentang cinta dan segala konsekuensinya.

Tentang sejauh mana kita membiarkan diri kita percaya akan cinta.

Coelho akhirnya menyampaikan pesan yang penting dengan eksplisit:

mencintai seseorang adalah jalan untuk melayani Tuhan.

Banyak poin penting yang aku suka dari buku ini.

Misalnya: cinta hanya bisa ditemukan lewat tindakan mencintai.

Bahwa cinta adalah perangkap. Ketika ia muncul, kita hanya melihat cahayanya, bukan sisi gelapnya.

Dan satu hal lagi yang penting dalam buku ini: menjelaskan tentang dualitas sifat Tuhan. Bahwa selama ini kita lebih banyak melupakan sisi feminin Tuhan, sisi reseptif Tuhan, sisi Yin Tuhan.

Seorang sahabat Rasulullah berkata bahwa Ia takut pada Tuhan sampai-sampai kalau nanti hanya ada 1 manusia yang akan masuk neraka maka ia takut orang itu adalah dirinya; dan Ia penuh pengharapan pada Tuhan sampai-sampai kalau dikatakan hanya akan ada 1 manusia yang masuk surga ia berharap itu dirinya.

Kalau menurut Coelho mencintai seseorang artinya melihat percikan Tuhan di dalam diri orang itu, maka aku sekarang yakin bahwa aku pernah mencintai.

Paulo Coelho’s Books

February 3, 2006 § Leave a comment

Coelho.

Sebelum aku baca satupun bukunya, aku udah sering denger ada buku fenomenal berjudul THE ALCHEMIST.

Tahun lalu akhirnya aku baca terjemahan Alchemist yang diterbitin Alvamedia dan sesudahnya, langsung mutusin kalo aku bakal jadi fans berat Paulo Coelho dan baca semua bukunya (selain itu, baca bahwa dia kerja buat UNESCO langsung bikin aku mentahbiskan dia sebagai idolaku).

Sebelum baca Coelho, aku udah lebih dulu baca beberapa buku soal spiritualitas (SH Nasser, Quraish Shihab), dan ide tentang universalitas pesan agama emang udah lebih dulu aku proses dan aku terima.

Buku Coelho menegaskan lagi hal ini.

Bahwa ada pelajaran di balik semua ritual agama.

Ada

kesatuan pesan di balik semua agama.

Ada

perintah yang mutlak sama untuk semua agama.

Bahwa spiritualitas, dan bukan sekedar agama, yang harusnya membimbing manusia untuk berbuat baik di dunia.

Bahwa dalam beragama, manusia harusnya juga berpikir untuk bisa beriman.

Seingatku, sepanjang aku baca buku-buku Paulo Coelho, aku berulang kali mengingat ajaran Islam. Dan jujur aja, jadi dapet perspektif baru soal Islam.

Misalnya, di Alchemist Coelho bilang bahwa jangan mengucapkan hal buruk tentang masa depan kita, karena alam semesta akan membantu kita untuk mewujudkannya.

Persis gimana kita diajarin untuk optimis, karena pesimisme yang ga masuk akal adalah prasangka buruk kita pada Tuhan.

Where Am I?

You are currently viewing the archives for February, 2006 at Docere.