TBRS dan Pasar Seni

November 20, 2005 § Leave a comment

Hari ini saya diminta menemani bapak saya ke pameran lukisan di Taman Budaya Raden Saleh. Saya tidak melewatkan kesempatan itu. Saya bosan dengan rumah dan mall, dan sedikit aktivitas ekstra bagus untuk diet saya. Selain itu, sejak kembali dari Eropa dua bulan yang lalu saya belum sempat melihat-lihat lukisan; kegiatan yang saya nikmati di sana.
Di gerbang masuk TBRS ada spanduk yang bertuliskan pagelaran seni tapi tak ada tulisan yang menyebut tentang pameran lukisan. Setelah memarkir mobil kami menuju ke tempat yang ditunjukkan satpam. Halaman terbuka di belakang gedung kesenian.
Betapa saya terkejutnya saya. Ketika yang saya harapkan adalah deretan lukisan, yang pertama kali saya lihat justru stan-stan yang menjual batik dan makanan. Setelah menyusuri stan-stan itu, akhirnya di kejauhan saya lihat sekat-sekat kayu yang digunakan sebagai papan display lukisan. Kami bergerak ke tempat itu.
Di area pameran ada kerumunan orang. Mereka rupanya sedang menonton beberapa pelukis yang melukis potret, lengkap dengan “model” yang duduk di depan para pelukis. Yah, tidak terlalu aneh sih. Sampai ke Florence di Italia dan Sacre Coeur di Paris pun, bila ada yang sedang membuat lukisan ada saja orang lewat yang penasaran dan ingin melihat pelukis in action.
Kemudian saya memperhatikan tempat itu. Agak salah lokasi menurut saya, pameran lukisan ini. Beratap langit dan rawan hujan. Selain itu paving jalan setapak yang compang-camping sepertinya lebih didominasi tanah yang becek. Tapi apapun jadi lah. Apalagi kegiatan pameran seperti ini sepertinya jarang ada di Semarang. Walau cenderung perfeksionis dan penuntut, saya juga tak patut mengharap TBRS langsung menjadi galeri bak Museo Thyssen-Bornemisza di Madrid. Saat saya sedang berjalan dengan mata yang terpaku pada lukisan-lukisan itu, kaki saya menginjak tanah becek, membuat saya terpeleset. Huh. Melihat lukisan saja mesti menghadapi risiko cedera. Untung saya tidak jatuh.
Lukisan-lukisan tersebut dipampang beserta harga dan nama pembuatnya. Tidak banyak lukisan yang dipamerkan. Sedikit malah. Ada lukisan kapal, kaligrafi, bunga, dan potret. Harganya berkisar antara 500 ribu sampai 1 juta.
Saya tak terlalu mengerti lukisan. Waktu saya berkunjung ke Prado dan Thyssen Bornemisza di Madrid, Rijskmuseum di Amsterdam serta Maurithuis di Den Haag, Musei Vaticani di Roma dan Accademia di Venice, yang saya kagumi adalah komposisi, paduan warna, teknik, pemilihan obyek, pesan yang disampaikan pelukis, latar belakang sejarah sebuah lukisan. Tingkatan pengetahuan dan apresiasi saya hanya sejauh itu terhadap lukisan. Di tempat-tempat itu ada lukisan yang membuat saya seperti dihempaskan ke dinding di belakang saya saat melihatnya. Ada yang membuat saya merinding. Ada karya fenomenal yang membuat saya menatapnya lama sekali, menikmati tiap momen penuh emosi yang saya rasakan saat memandangnya.
Anyway, di TBRS siang ini ada lukisan bunga matahari ala Van Gogh. Selain itu ada lukisan pantai dengan langit yang didominasi gradasi ungu dan putih yang membuat saya betah melihatnya sedikit lebih lama dari yang lain.
Entah suasana gaduh bak pasar atau keamatiran saya melihat lukisan. Atau mungkin kemasan pameran ini yang kelewat “santai” dan “biasa”; area yang tak nyaman; sedikitnya lukisan yang dipampang. Yang jelas saya tidak minat berlama-lama melihat lukisan-lukisan itu. Saya khawatir bahwa ini kesombongan saya setelah kembali dari Eropa, memandang sebelah mata lukisan lokal. Tapi bagaimana lagi. What you see is what you get.
Di seberang lokasi display ada beberapa “seniman” yang baru mulai melukis; kanvas mereka masih didominasi area kosong. “Seniman”, dengan tanda petik karena mereka berambut gondrong terurai. Hm… mereka seperti hippie asli Indonesia. Generasi pemberontak yang moralis, pengagum Sujiwo Tejo dan Iwan Fals. Oke deh. Keep going guys! Tapi yang lebih menarik perhatian saya adalah dua orang fotografer yang sedang super serius memotret mereka, menjalankan tugas suci untuk mengabadikan tiap detik dari sebuah proses penciptaan. Berusaha menghasilkan foto seartistik mungkin, menunjukkan bahwa hippie asli Indonesia ini memang seniman tulen. Pikiran saya waktu itu, apa mereka tidak punya hal lain yang lebih menarik untuk dikerjakan.
*
Di perjalanan pulang saya merenungkan Pasar Seni Ancol yang saya datangi beberapa minggu yang lalu. Saya heran juga, pasar seni sudah jadi pasar. Orang-orang pun lebih tertarik pada kios pakaian, tas, dan makanan yang dipasang di sepanjang jalan menuju atrium tengah. Benar-benar sebuah keramaian. Speaker raksasa memekikkan lagu-lagu dari band yang tampil di panggung. Gaduh dan terlalu penuh.
Saya belok ke arah kios-kios permanen berisi benda seni. Lorongnya lengang dan senyap. Kios yang selalu berisi lukisan, patung, dan aneka barang kerajinan tampak mati. Kosong. Banyak yang buka tanpa ditunggui satu manusia pun. Mungkin kalaupun ditunggui, tak ada yang beli. Lukisan berdebu. Tas-tas kulit overprice, dengan harga yang amat dollar sekali dan tidak menarik untuk pengunjung lokal. Patung dan ukiran menumpuk, berdesakan.
Hari itu, sudah kelelahan, saya hanya berputar-putar di Pasar Seni. Eyang saya selalu datang ke sini kalau menginap di Ancol. Tradisi. Sesaat menghidupkan lagi kenangan atas almarhum eyang saya. Rasa nyaman muncul dengan mengetahui bahwa tepat ini masih seperti dulu, ketika saya berkunjung dengan eyang dan tante-tante saya.
Mungkin justru itu masalahnya, tempat itu masih sama persis seperti dulu. Statis. Tidak bisa menjual seni sebagai sebuah kebutuhan. Dan sepertinya, masyarakat yang hari itu datang ke Pasar Seni memang mereka yang tidak butuh seni.
What you see is what you get. If you only see a bunch of clothes stall in Pasar Seni, then you’ll get the clothes, not the art. Maybe our people just needs to learn how to understand art first. And then, hopefully they will come to Pasar Seni for the right reason; the art itself.

Advertisements

Embriotomi

November 13, 2005 § 1 Comment

Embriotomi

Dokter Binarso berdiri di depan kelas dengan mikrofon yang tergenggam di tangan kanannya. Tangan kirinya setia berdiam di saku depan celananya. Pandangannya yang tajam menyapu seisi kelas. Hari itu ruangan tidak penuh, tidak juga sepi. Mungkin tidak banyak mahasiswa yang absen hari ini. Lagipula sudah hari kesekian puasa, mestinya tak ada lagi mahasiswa yang bangun kesiangan dan terpaksa melewatkan kuliah.

Pagi ini ia menyampaikan beberapa materi sekaligus. Yang tak memperhatikan baik-baik akan tertinggal dengan pejelasannya yang super cepat. Belum lagi mahasiswa-mahasiswa yang tak pernah belajar dari buku ajar, tak akrab dengan singkatan-singkatan klinis. Di tengah penjelasannya, biasanya mereka sibuk toleh kanan kiri dan bertanya ke teman di sebelahnya, “Eh, POP itu apa? Kalo CPD? Eh eh, SBR apaan sih? Iih.. ini maksudnya apa sih?”

Di tengah-tengah penjelasannya, ginekolog senior itu berhenti. Dengan perlahan ia mulai bertutur kembali, kali ini menyimpang dari kuliah embriotomi yang sedang disampaikannya. “Dulu waktu saya masih SMA, profesi yang digemari itu arsitek. Waktu saya baru jadi dokter berubah, yang paling terhormat itu dokter, makanya banyak yang mau jadi dokter. Tapi sekarang kalau begini keadaannya, dokter bukan profesi yang dihormati lagi. Mungkin yang paling terhormat itu pengacara.”

*

Saya, duduk di barisan ketiga, mendengus saja mendengarnya. Skeptis. Jangan salah. Dokter Binarso termasuk dosen kesukaan saya. Saya suka tampilan dan caranya mengajar, dan menurut saya ia memang bisa mendidik dan mempersiapkan kami jadi dokter bermutu. Namun tetap aliran pikiran saya tak terbendung. Inilah jadinya kalau profesi dipilih gara-gara cari kehormatan. Begitu kehormatan sudah tak didapat, keseluruhan korps kalang kabut cari kompensasinya. Yang sudah keburu mengumpulkan harta, masih bisa beli kehormatan dengan mobil mewah, rumah besar dan tampilan necis; mungkin sekarang jadi lebih hati-hati supaya kemakmuran tetap bisa dinikmati anak istri. Yang tak beruntung menimbun materi justru jadi getir dengan profesinya dan meratap, menghibur diri, sambil menganjurkan anak-anak mereka memilih pekerjaan lain yang kini lebih terhormat daripada dokter. Kedua kelompok ini sama, kerapkali mengingatkan generasi penerus mereka untuk makin berhati-hati dalam menjalani profesi sebagai dokter.

Kehormatan itu apa sih? Datangnya dari mana? Saya lebih suka dengan konsep bahwa kehormatan itu didapat bersamaan dengan hadirnya kita sebagai manusia. Status dokter tak harus menambah penghormatan yang kita dapat. Kalaupun seseorang dihormati sebagai dokter, itu karena ia melakukan tanggung jawabnya dengan baik dan menghargai orang lain selayaknya manusia patut dihargai. Dokter bukan seperti gelar kebangsawanan yang menjamin penghormatan secara otomatis tanpa ada kewajiban yang mesti dilakukan untuk dianggap pantas mendapatkannya.

Kesan terhormat secara visual dari tampilan seorang dokter, menurut saya muncul bukan dari licinnya jas putih yang di penghujung hari masih tetap kinclong saat kaki sang pemakai jas memasuki Mercy terbarunya. Tapi justru dari jas panjang (gaya Amerika) seorang dokter yang sibuk mondar-mandir mengurusi pasiennya di rumah sakit.

Dalam benak saya muncul gambaran-gambaran tentang seorang dokter yang demi mempertahankan kewarasan dan kewajarannya, berusaha memiliki hidup yang seimbang. Seimbang antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Antara teman-teman di pekerjaan dengan teman beda profesi. Antara belajar dan senang-senang. Antara bersosialisasi dan menyediakan waktu untuk diri sendiri. Antara bangun dan tidur. Antara zat toksik seperti kafein dan makanan sehat. Antara olah raga dan olah mata di depan tv. Antara bersenang-senang melepas kepenatan dengan belajar keras.

Bicara soal kewajaran dan kewarasan dokter, tak bisa lepas dari kemampuan untuk mengenali stres dan mengendalikannya, menghilangkan penyebabnya dan memulihkan diri. Ini kemampuan yang mesti dipunyai semua mahasiswa kedokteran sampai mereka menjadi dokter nantinya. Kemampuan ini biasanya tumbuh dengan berjalannya waktu, namun tingkat kemampuan ini tetap berbeda-beda antara tiap individu. Dan sebagaimana tiap gelas punya bentuk dan ukuran yang berbeda, berbeda-beda pula kapasitas seseorang untuk bertahan digempur stressor. Buat mahasiswa kedokteran saja, stressor yang paling jelas berasal dari banyaknya tugas, kegiatan praktikum, dan ujian yang menyita fisik dan mental. Padahal efek stres itu fatal ke aktivitas sehari-hari. Stres fisik saja bisa bikin sakit, apalagi ditambah stres pikiran.

“Jadi… jangan sekali-kali embriotomi kalau tidak yakin bayinya sudah benar-benar mati.” Suara Dokter Binarso membangunkan saya dari lamunan. “Jangan sampai lehernya sudah kalian potong, tapi waktu kakinya ditarik keluar ternyata masih gerak-gerak.” Saya instan menoleh ke teman di sebelah saya dan bergidik ngeri bersamanya, “Iiih.. serem…” Terdengar suara-suara tertahan dari sekitar kami.

*

Seorang dokter obsgin sedang menolong persalinan seorang ibu. Partus macet, janin tak bisa dilahirkan walau ibu sudah dipimpin mengejan. Ia mendesah. Rupanya hari ini akan beda dari kebanyakan hari yang dilaluinya. Diagnosis: sang ibu mengalami persalinan macet dengan janin meninggal. Ia berpikir sejenak. Berarti pilihannya hanya melakukan tindakan embriotomi. Alat-alat disiapkan. Kemudian ia mulai. Ia memasukkan pengait Braun ke dalam liang vagina sang ibu, mengaitkannya ke leher janin dan menariknya ke bagian bawah panggul. Giliran gunting Siebold yang difungsikan. Ia berkonsentrasi penuh menggunting leher janin sedikit demi sedikit. Saat sudah yakin kepala terpisah sepenuhnya dari badan janin, ia siap untuk tahap selanjutnya, mengeluarkan bagian-bagian janin itu. Ia menarik tangan janin itu dengan hati-hati, mengeluarkan badan yang kini tanpa kepala. Tangan muncul, diikuti dada dan perut, dan saat kakinya terlihat… Ya Tuhan! Ia tak bisa mempercayai matanya. Dengan lemah kaki-kaki itu masih bergerak! Tidak mungkin. Ia yakin janin itu sudah mati sebelum memutuskan melakukan embriotomi. Hanya butuh sesaat sebelum kaki-kaki itu berhenti bergerak, kehidupan kini akhirnya benar-benar meninggalkan tubuh bayi itu. Sang dokter masih membeku, terpukul. Ia merasa pusing seketika. Badannya terasa limbung dan pandangannya kabur. Dadanya seperti ditumbuk benda berat, menguras semua udara dari paru-parunya. Ia masih berjuang mencerna apa yang terjadi. Detik berlalu. Lantas, kengerian yang dasyat menyerang kesadarannya. Ia telah menjagal janin hidup-hidup!

*

Saya sudah tak lagi memikirkan nasib si bayi hidup yang terpotong dengan tak sengaja itu, pastinya tak selamat. Tapi yang langsung jadi perhatian saya adalah bagaimana seorang dokter dapat hidup dengan menanggung rasa bersalah seperti itu. Dokter harusnya menyelamatkan nyawa, bukan mengakhirinya. Tidak usah dulu bicara soal tuntutan pengacara senilai miliaran rupiah. Hati nurani yang merasa dikhianati pikiran saat melakukan tindakan medis yang salah itu; perasaan telah menjadi seorang pembunuh; keteledoran yang kemudian membawa bencana. Semua pastinya lebih sakit dari sekedar kehilangan harta akibat tuntutan malpraktek. Dia akan frustasi, depresi. Entah bagaimana ia tetap waras setelah kejadian semacam itu. Sampai di situ imajinasi saya buntu.

Kemudian dosen saya melanjutkan, “Itu terjadi di sini.” Saya tertegun, tak bersuara. Terkejut. Tak sedikitpun saya menyangka bahwa ini terjadi di rumah sakit kami. Sepertinya kisah mengerikan tadinya saya pikir hanya eksis di imajinasi saya kini telah menjadi begitu nyata. Begitu dekat, begitu mungkin terjadi. “Setelah kejadian itu dia stres berat. Dia menghadap profesor, dan karena Nasrani, datang ke pastor minta pengampunan.” Sekeliling saya sunyi senyap. Tak ada satupun teman saya yang bicara. Saya rasa saat itu semua orang mengucap doa singkat supaya kami jangan sampai mengalami hal semacam ini. Dokter Binarso pun sepertinya menyisihkan sedikit momen bagi kontemplasi dan kontak singkat kami dengan Tuhan sebelum akhirnya memulai lagi.

“Jadi, ini alat-alat yang digunakan untuk embriotomi…”

So… life goes on again after shocking events like that. But never without some quiet moments to remind us after about the frailty of life and the imperfection of human plans.

*

Mungkin pada akhirnya toh tidak salah-salah amat seorang dokter mengharap tempat yang terhormat di masyarakat. Ini tak lepas dari hakikat seorang dokter yang sudah ditelanjangi dari gelar-gelar akademiknya: seorang manusia. Dokter adalah manusia biasa yang punya keinginan untuk dihormati dan dihargai secara materi atas jerih payahnya. Dokter juga manusia biasa yang kadang (entah sial, entah diingatkan, atau diberi cobaan Yang Maha Kuasa) berbuat kesalahan fatal yang bisa menimbulkan perasaan bersalah seumur hidupnya. Yang sebagai kompensasi dari hak istimewanya, menjadi perantara Tuhan untuk menyembuhkan makhluk-Nya, juga mesti menanggung risiko kehilangan segala-galanya karena kesalahannya. Bukannya saya permisif dengan ketaksempurnaan sifat manusia dari seorang dokter. Namun ini membuat saya ingat dengan segala keterbatasan saya sebagai manusia biasa pula. Pengingat untuk sekedar berhati-hati dalam tiap tindakan saya, dan bahwa saya duduk di ruang kelas ini, di sebuah fakultas kedokteran negeri, bukan karena saya istimewa. Tapi karena saya dibebani tanggung jawab untuk mempraktekkan pengetahuan saya, dengan risiko yang tidak main-main.

RaTu. Semarang 19 Oktober 2005

Where Am I?

You are currently viewing the archives for November, 2005 at Docere.