Jadi Orang Sakit, Penderita, Pasien : emang sakit, menderita, dan harus patient

October 16, 2005 § Leave a comment

Kemarin saya sakit. Sudah lama saya tak merasa sakit seperti waktu itu. parahnya lagi, sakit itu dimulai di sore hari ulang tahun saya ke-21. Saat itu saya sedang berada di acara buka puasa bersama angkatan saya. Awalnya saya merasa pilek, tapi saya kira hanya alergi yang sedang kumat. Kemudian tenggorokan saya mulai gatal, yang biasanya identik pula dengan gejala alergi saya. Saya pamit pulang sebelum acara selesai. Setelah saya sampai di rumah barulah saya bisa minum obat alergi saya. Dan di luar kebiasaan, gejalanya tak langsung mereda. Tenggorokan saya mulai terasa sakit, dan saya tahu bahwa bisa jadi saya sakit. Esok harinya saya mulai minum antibiotik dan tidak berpuasa.

Di hari kedua itulah saya benar-benar merasa menderita. Oke, tadinya saya berpikir, “Ah, Cuma faringitis akut. Paling minum antibiotik sehari juga beres.” Tapi rupanya kuman-kuman di tubuh saya kelewat banyak dan kuat untuk dikalahkan sistem imun saya. Malam itu saya demam. Seluruh badan saya terasa begitu sakit, dan saya seperti ingin merintih saja sepanjang malam. Saya jadi takut kontak dengan air, kena percikan sedikit saja badan saya seperti ditusuk-tusuk. Saya dengar orang yang sakaw seperti itu pula reaksinya terhadap air.

Malam itu saya terpikir bahwa inilah rasanya menjadi orang sakit. Menjadi penderita. Menjadi pasien. Memang sakit, menderita, dan harus patient, sabar. Untuk tidur saja tak bisa, saya gelisah dan hanya bergulung-gulung sambil mengerang di atas tempat tidur. Saya pikir mungkin juga karena demam maka saya jadi resah begitu, pikiran saya kacau dan tak fokus. Saya sesekali melekatkan kompres ke kening, tapi juga tak banyak menolong kondisi mental saya. Saking parahnya, kalau saja ada yang memegang tangan saya, pasti saya sudah merasa lebih baik.

Kemudian saat itu juga saya berjanji pada diri sendiri, untuk menghormati orang yang sakit dan membantu mereka untuk sembuh, paling tidak merasa nyaman sampai mereka pulih. Jangan sampai saya menambah beban mereka.

Entah bagaimana, saya bisa tidur sebentar sampai masuk waktu sahur. Walau saya tak mungkin berpuasa, makanan tetap hanya ada di waktu sahur dan berbuka jadi saya ikut makan dengan jadwal ini. Lagipula tiap detik yang saya habiskan di tempat tidur, berbaring ditemani rasa sakit sepertinya kelewat menyiksa buat saya. Lebih baik saya bangun dan makan. Setelah sahur saya bangun sekitar jam 10. Masih demam, masih lesu, masih dengan tenggorokan yang membengkak, namun perasaan saya sudah lebih baik. Saya juga percaya bahwa tahap terburuk dari sakit saya sudah terlewati malam itu. Dan kalau sudah mencapai titik terendah, satu-satunya jalan adalah naik kembali. Saya tinggal sabar saja menunggu kesembuhan saya.

Yah, apa yang tak mengenakkan dalam hidup ini Cuma proses. Kita sebenarnya tinggal mencari celah untuk berhenti sejenak dan berpikir. Dan setelah tahu apa yang bisa kita pelajari, move on. That’s life.

Keyboard baru

October 16, 2005 § Leave a comment

Cum pengen ngetes aja gimana keajaiban keyboard mahal dalam mendongkrak kreativitas menulis. Hm. Ternyata rasanya lain. Keyboard bermerk membuatku merasa jadi… wanita sepenuhnya (LOH?)

Ngga sih. Bedanya, tuts terasa lebih dalam dan pastinya menimbulkan perasaan yang jauh lebih mantap saat jari ini bersentuhan dengan permukaannya untuk memunculkan huruf-huruf di monitor.

Baru kali ini aku pake keyboard bermerk. Susahnya itu, kadang duit di dompet Cuma cukup buat beli keyboard yang kacangan, akhirnya rusak berhubung pemakaian keyboard di rumah ini rada-rada hardcore. Belum lagi kalo kebanting ato jatoh. Tapi yang jelas, kita baru aja kedatengan tamu istimewa dari toko gunung agung, anggota terbaru komputer set yang serba lengkap ini. Dan setelah memasangnya dengan antusias, kini aku punya kepercayaan baru dalam membeli produk komputer bermerk. Rasanya lain ama yang murah Man!!!

October 9, 2005 § Leave a comment

Sebenarnya laki-laki macam apa yang saya inginkan? Kalau berguru pada Celia, maka ia akan katakan bahwa kita tak berhak memilih, maupun menentukan syarat ideal idaman kita. You just fall in love with the person. saya tidak tahu apa ini hal yang mungkin terjadi di negara kita, persatuan dua insan yang semata berbekal cinta. Terlalu banyak elemen yang harus dilibatkan. Keluarga, bibit bebet bobot, agama, pendidikan, latar belakang keluarga dan pekerjaan. Belum lagi saya pribadi yang sering memasukkan embel-embel hobi, kecerdasan, spiritualitas, misi hidup, dan kharisma.

Oke, saya percaya bahwa kunci utama tetaplah cinta. Cinta apa nih? Yang membuat saya bergairah menginginkannya. Nafsu dong? Mungkin. Saya bisa saja jadi seorang perempuan yang langsung saja “melahap” laki-laki pada momen yang tepat. Beberapa kali saya merasa sanggup melakukannya. Kami berbicara, berdekatan.

Ada

saat di mana hati dan tubuh saya seolah ditarik olehnya, makin dekat. Dan ada sedikit percikan yang menggerakkan saya untuk terus mendekat. Dan…. kemudian saya padamkan. Haha… saya belum sanggup melakukan itu karena komitmen yang saya ambil untuk menjaga diri dari segala bentuk keintiman seksual apapun sebelum menikah. Saya tekankan lagi bahwa terlepas dari aturan agama, ini pilihan yang saya buat. Saya berusaha menjaga komitmen ini sekuat tenaga.

Kalau bicara soal percikan, dan menilik kembali “elemen” yang saya butuhkan, saya akan langsung mengingat Malik (bukan nama asli tentunya, haha… demikian pula nama-nama lain yang saya pakai di sini). Saya masih memikirkannya, dan tersenyum saat mengingat wajahnya, perilaku love-sick saya saat di dekatnya. Dia punya fisik yang memikat saya. Hobi, cocok. Kecerdasan, saya percaya sepadan (walau dia sempat punya IP yang membuatnya terhambat satu semester). Spiritualitas… yah, ada lah. Kharisma, jelas itu yang pertama kali bikin saya tertarik padanya. Sayang sungguh disayang, saat percikan itu mulai menyala, saya harus menghadapi realita bahwa dia sudah punya pasangan. Shit. Yah, setelah melalui periode “i’ve had enough with his playboy attitude” dan “he’s so adorable today, maybe I should fight for him” bergantian selama beberapa minggu, saya merasa sudah cukup saya direndahkan. Saya ingin pria yang menginginkan saya, dan jelas itu bukan dia. Seberapa pun besar percikan yang saya rasakan. He’s just not for me.

Dan itulah akhir percikan yang pertama. Setelah periode putus asa yang diselingi relaps, keinginan kuat untuk mengontaknya kembali, saya mengalami excitement lain dengan Radit, lagi-lagi kakak kelas. Tapi inipun hanya sesaat, dan dia membuatnya jelas setelah kencan pertama kami bahwa dia ingin hubungan kami tetap seperti kakak-adik…kelas. Huh, membosankan sekali.

Kemudian dalam upaya saya mengatasi kebosanan ini, saya menyalakan lagi api lama. Yah, mungkin tak sesensasional itu. Yang jelas saya mulai menjalin komunikasi lagi dengan Rico. Email exchange karena dia tinggal di Negara lain waktu itu. Banyak informasi pribadi, pengalaman dan pandangan hidup yang kami bagi. Lebih mudah terbuka pada seorang pria dalam bentuk sebuah konsep. Itulah dia dulu bagi saya. Tanpa bentuk, tanpa wajah, sebentuk awan di pikiran saya. Hanya nama, email-email, dan kesempatan mengintip apa yang ada di jiwanya. Tentunya setelah saya menjumpainya pertama kali saya memutuskan dia pria sempurna buat saya. Apapun yang dia pikirkan tentang saya. Tampan sekali. Cerdas. Artistik. Deep. Lucu. He amazed me, fascinated me. Ibunya menyukai saya di pertemuan kami yang pertama, dan sepertinya berharap ada sesuatu antara kami. Yah, kalau dipikir lebih lanjut memang kesempatan saya mengambil hati calon mertua yang satu ini cukup besar: calon dokter, santun, supel, anak seorang kawan lama pula. Kemudian beberapa minggu kemudian Rico datang lagi, menginap di rumah saya. Dan saya memutuskan bahwa dia benar-benar sempurna buat saya.

Kemudian ada lagi pertemuan-pertemuan berikutnya. Saat duduk di hadapannya dan kembali ada sensasi familier. Saya yakin di tempat yang berbeda, dengan diri saya yang berbeda, akan terjadi sesuatu antara saya dengannya. Tapi itu alternate universe, not this one. Beberapa waktu saya menunggu sesuatu yang lebih. Saya menunggu hati saya mengatakan saya menginginkan dia. Tapi rupanya kali ini semuanya hanya soal stimulasi fisik sesaat, tak lebih dalam dari itu. Saya kemudian menemukan frase yang tepat. Intellectual chemistry. Itu yang ada antara kami. Tapi perasaan saya biasa-biasa saja. Seperti air laut yang tenang.

Dan beberapa hari kemudian ada insiden yang mengindikasikan dia sudah punya pacar. Di Indonesia. Yah, saya tak bisa berharap dia tetap single. Tidak laki-laki semenarik dia. Ketika saya tantang, dengan segala asumsi dan sindiran saya, dia masih (menurut saya) menyangkal bahwa dia punya pacar. Entah apa pula maksudnya.

Saya kemudian berusaha melihat ke dalam, mengerti perasaan saya sendiri. Kenyataannya, betapapun menyedihkannya hal ini, saya merasa begitu kosong saat ini. Tak ada minat akan cinta dalam hidup saya sekarang. Semuanya rutinitas dan kerja. Munkin saja ini periode tenang saya, lagi-lagi. Dan sekarang saya akan bilang bahwa ini baik untuk saya sekarang ini. Tak ada laki-laki, tak ada percikan. Walau jika ada, tak saya tolak mentah-mentah.

RaTu/

Semarang

, 9 Oktober 2005

Hmm… Laki-laki dan Percikan

October 9, 2005 § Leave a comment

Sebenarnya laki-laki macam apa yang saya inginkan? Kalau berguru pada Celia, maka ia akan katakan bahwa kita tak berhak memilih, maupun menentukan syarat ideal idaman kita. You just fall in love with the person. saya tidak tahu apa ini hal yang mungkin terjadi di negara kita, persatuan dua insan yang semata berbekal cinta. Terlalu banyak elemen yang harus dilibatkan. Keluarga, bibit bebet bobot, agama, pendidikan, latar belakang keluarga dan pekerjaan. Belum lagi saya pribadi yang sering memasukkan embel-embel hobi, kecerdasan, spiritualitas, misi hidup, dan kharisma.

Oke, saya percaya bahwa kunci utama tetaplah cinta. Cinta apa nih? Yang membuat saya bergairah menginginkannya. Nafsu dong? Mungkin. Saya bisa saja jadi seorang perempuan yang langsung saja “melahap” laki-laki pada momen yang tepat. Beberapa kali saya merasa sanggup melakukannya. Kami berbicara, berdekatan.

Ada

saat di mana hati dan tubuh saya seolah ditarik olehnya, makin dekat. Dan ada sedikit percikan yang menggerakkan saya untuk terus mendekat. Dan…. kemudian saya padamkan. Haha… saya belum sanggup melakukan itu karena komitmen yang saya ambil untuk menjaga diri dari segala bentuk keintiman seksual apapun sebelum menikah. Saya tekankan lagi bahwa terlepas dari aturan agama, ini pilihan yang saya buat. Saya berusaha menjaga komitmen ini sekuat tenaga.

Kalau bicara soal percikan, dan menilik kembali “elemen” yang saya butuhkan, saya akan langsung mengingat Malik (bukan nama asli tentunya, haha… demikian pula nama-nama lain yang saya pakai di sini). Saya masih memikirkannya, dan tersenyum saat mengingat wajahnya, perilaku love-sick saya saat di dekatnya. Dia punya fisik yang memikat saya. Hobi, cocok. Kecerdasan, saya percaya sepadan (walau dia sempat punya IP yang membuatnya terhambat satu semester). Spiritualitas… yah, ada lah. Kharisma, jelas itu yang pertama kali bikin saya tertarik padanya. Sayang sungguh disayang, saat percikan itu mulai menyala, saya harus menghadapi realita bahwa dia sudah punya pasangan. Shit. Yah, setelah melalui periode “i’ve had enough with his playboy attitude” dan “he’s so adorable today, maybe I should fight for him” bergantian selama beberapa minggu, saya merasa sudah cukup saya direndahkan. Saya ingin pria yang menginginkan saya, dan jelas itu bukan dia. Seberapa pun besar percikan yang saya rasakan. He’s just not for me.

Dan itulah akhir percikan yang pertama. Setelah periode putus asa yang diselingi relaps, keinginan kuat untuk mengontaknya kembali, saya mengalami excitement lain dengan Radit, lagi-lagi kakak kelas. Tapi inipun hanya sesaat, dan dia membuatnya jelas setelah kencan pertama kami bahwa dia ingin hubungan kami tetap seperti kakak-adik…kelas. Huh, membosankan sekali.

Kemudian dalam upaya saya mengatasi kebosanan ini, saya menyalakan lagi api lama. Yah, mungkin tak sesensasional itu. Yang jelas saya mulai menjalin komunikasi lagi dengan Rico. Email exchange karena dia tinggal di Negara lain waktu itu. Banyak informasi pribadi, pengalaman dan pandangan hidup yang kami bagi. Lebih mudah terbuka pada seorang pria dalam bentuk sebuah konsep. Itulah dia dulu bagi saya. Tanpa bentuk, tanpa wajah, sebentuk awan di pikiran saya. Hanya nama, email-email, dan kesempatan mengintip apa yang ada di jiwanya. Tentunya setelah saya menjumpainya pertama kali saya memutuskan dia pria sempurna buat saya. Apapun yang dia pikirkan tentang saya. Tampan sekali. Cerdas. Artistik. Deep. Lucu. He amazed me, fascinated me. Ibunya menyukai saya di pertemuan kami yang pertama, dan sepertinya berharap ada sesuatu antara kami. Yah, kalau dipikir lebih lanjut memang kesempatan saya mengambil hati calon mertua yang satu ini cukup besar: calon dokter, santun, supel, anak seorang kawan lama pula. Kemudian beberapa minggu kemudian Rico datang lagi, menginap di rumah saya. Dan saya memutuskan bahwa dia benar-benar sempurna buat saya.

Kemudian ada lagi pertemuan-pertemuan berikutnya. Saat duduk di hadapannya dan kembali ada sensasi familier. Saya yakin di tempat yang berbeda, dengan diri saya yang berbeda, akan terjadi sesuatu antara saya dengannya. Tapi itu alternate universe, not this one. Beberapa waktu saya menunggu sesuatu yang lebih. Saya menunggu hati saya mengatakan saya menginginkan dia. Tapi rupanya kali ini semuanya hanya soal stimulasi fisik sesaat, tak lebih dalam dari itu. Saya kemudian menemukan frase yang tepat. Intellectual chemistry. Itu yang ada antara kami. Tapi perasaan saya biasa-biasa saja. Seperti air laut yang tenang.

Dan beberapa hari kemudian ada insiden yang mengindikasikan dia sudah punya pacar. Di Indonesia. Yah, saya tak bisa berharap dia tetap single. Tidak laki-laki semenarik dia. Ketika saya tantang, dengan segala asumsi dan sindiran saya, dia masih (menurut saya) menyangkal bahwa dia punya pacar. Entah apa pula maksudnya.

Saya kemudian berusaha melihat ke dalam, mengerti perasaan saya sendiri. Kenyataannya, betapapun menyedihkannya hal ini, saya merasa begitu kosong saat ini. Tak ada minat akan cinta dalam hidup saya sekarang. Semuanya rutinitas dan kerja. Munkin saja ini periode tenang saya, lagi-lagi. Dan sekarang saya akan bilang bahwa ini baik untuk saya sekarang ini. Tak ada laki-laki, tak ada percikan. Walau jika ada, tak saya tolak mentah-mentah.

RaTu/

Semarang

, 9 Oktober 2005

Ulang Tahun…

October 9, 2005 § Leave a comment

Ulang Tahun*

            Hari ulang tahun.

Ada

banyak sisi dari sebuah peristiwa ulang tahun seseorang. Begini contohnya, seorang mahasiswi tingkat empat di sebuah fakultas kedokteran negri berulang tahun ke-22. Di kampung halamannya, beberapa hari sebelumnya keluarga di rumah menyiapkan hadiah yang akan dikirimkan ke tempat tinggal mahasiswi itu via pos, atau mungkin jasa travel yang lebih cepat. Adiknya yang kuliah di

kota

lain mengingatkan diri sendiri untuk memberi ucapan selamat lewat ponsel tepat waktu. Teman-teman sekosnya menyiapkan kejutan, entah apa lagi jenisnya untuk tahun ini. Sahabatnya panik karena belum menyiapkan apapun untuk diberikan tepat waktu; prinsipnya, ucapan on time, kado bisa menyusul. Si mahasiswi bisa jadi merasa hari ulang tahun adalah hal yang biasa-biasa saja, namun ada kebahagiaan ekstra yang muncul dari perhatian orang-orang yang sayang dan peduli padanya. Atau bisa jadi ia sedang menunggu, siapa saja yang ingat ia berulang tahun hari itu dan memberi ucapan selamat. Atau pikirannya melayang ke ulang tahunnya yang telah lewat, mengulang rekaman memori dari mana yang paling berkesan untuknya.

            Bisa jadi malah khayalan yang mengisi pikirannya. Seandainya, aku sudah punya kekasih yang tampan, cerdas dan tajir. Dia akan mengucapkan selamat ultah dengan memberiku seikat bunga. Malamnya kami akan makan di sebuah resto bersuasana romantis…

Yang jelas, tiap tahun adalah perayaan. Atau paling tidak sebuah ungkapan syukur, bahwa setahun ini Allah masih beri kita kesempatan untuk menjalani kehidupan. Sungguh, seharusnya hari ulang tahun kita menjadi pengingat akan kehidupan itu sendiri; yang sudah lewat, yang sedang dijalani, dan yang akan datang. Tidak usah dulu berpikir soal siapa saja yang mengucapkan selamat ulang tahun, atau memberi kado, atau bagaimana menraktir teman-teman sebagai sebuah kelaziman sosial. Semua harusnya kalah penting dibanding hadiah terbaik bagi pemenang utama, si yang berulang tahun, yaitu satu tahun terlewat yang pantas dihikmati.

            Renungan apa yang paling baik dilakukan seorang yang berulang tahun? Hm. Let’s see. Bagaimana kalau mulai dengan pertanyaan-pertanyaan. Apa saja yang kualami setahun ini, yang membuatku belajar lebih tentang kehidupan. Bagaimana tahun depan akan berbeda dengan tahun yang telah lewat. Apa yang kuinginkan tahun mendatang. Apa aku tetap punya keinginan, minat, cita-cita yang sama seperti yang kuinginkan tahun lalu. Apa aku harus berubah. Atau, jawaban atas pertanyaan sederhana dari seorang teman, “Gimana rasanya jadi 22 tahun?” Bisa jadi berbeda dengan usia 21? Entah, makanya saya bertanya, saya sendiri belum sampai ke angka itu.

            Enaknya jadi manusia, peristiwa penting bisa dijadikan tonggak dalam rentang waktu hidup. Awal yang baru! Yang sudah lewat adalah bagian dari memori, dan saatnya fokus ke untaian masa yang akan datang. Demikian pula ulang tahun. kalaupun tahun lalu terasa menyesakkan, penuh dengan kenangan menyebalkan, atau kesempatan yang terlewatkan, maka musnahkan semua kekecewaan lewat ulang tahun ini. Janjilah pada diri sendiri untuk bekerja lebih banyak, memberi lebih banyak. Just to be a better person. Lagipula, hidup dua dekade yang sudah lewat bisa terasa begitu cepat. Harus manfaatkan waktu sebaik-baiknya!

             Saya sudah melewatkan 20 tahun dari jatah hidup saya dari Sang Gusti. Kalau hanya melongok ke setahun yang lalu, banyak hal yang membuat saya merasa saya belum memanfaatkan umur ini sebaik-baiknya. Tapi setelah merenung (melamun, tepatnya) lebih lama lagi, dan melihat diri saya di usia penting, usia 17 tahun, saya sadar. Begitu banyak yang telah saya dapat dalam rentang 3 tahun terakhir. Ilmu, wawasan pengetahuan. Karakterpun berubah (saya lebih suka kata “berkembang”). Saya tahu saya masih bisa jadi apapun, saya masih bisa menemui kesulitan apapun. Tapi tidak apa-apa, toh tahun kemarinpun sudah banyak kesulitan yang syukurnya bisa saya lewati.

Jalan manusia, kadang mulus kadang tidak.

Ada

hari penuh antisipasi dan petualangan. Sisanya membosankan dan begitu mengurung. Semua tergantung pertanyaan retorik si yang berulang tahun, “What do I want this year? How do I want my life to be today?”. Berusaha sekuat tenaga, kemudian berdoa dan menyerahkan hasilnya pada Sang Gusti. That’s life.

* Selamat ulang tahun Anggia. Doaku buatmu, biar sukses lahir batin. Jangan lupa, hidup ini untuk dinikmati, dan kamu masih bisa jadi apapun yang kamu mau!

RaTu/

Semarang

, 9 Oktober 2005

Gegar Budaya!

October 9, 2005 § Leave a comment

Gegar Budaya!

Alkisah. Seorang mahasiswa kedokteran pergi selama dua bulan untuk sebuah perjalanan intelektual dan kultural gratis di Eropa, menyandang nama UNESCO pula. Setelah kembali, ia merasa seolah dipaksa keadaan untuk mengamati kehidupan di sebuah fakultas kedokteran secara obyektif sebagaimana orang “luar” (bukan dari dunia kedokteran/pendidikan kedokteran) yang melakukannya.

Ketika berangkat ke

Paris

, ia meninggalkan satu-satunya identitas dan peranan yang mendominasi hidupnya selama tiga tahun terakhir, identitas sebagai seorang mahasiswa kedokteran. Ia berangkat hanya sebagai seorang manusia, membawa pengetahuan dan pengalaman hidupnya sebagai manusia, dan hendak belajar lebih banyak mengenai manusia-manusia lain. Mungkin dia saja yang hiperbolis, namun ia merasa terdehumanisasi berada di lingkungan kedokteran. Seharusnya belajar menghadapi manusia, tapi yang terjadi adalah pembelajaran tanpa akhir mengenai penyakit-penyakit yang sepertinya lebih penting dan menarik dari harga sebuah nyawa.

Selama delapan minggu, semua dijalaninya berbeda dari rutinitas sebelumnya. Ia bicara pada begitu banyak orang, mendengar dan belajar dari jauh lebih banyak orang. Pengetahuan yang didapatnya adalah tentang kemanusiaan, konflik dan permasalahan manusia, kebudayaan, sejarah, dan seni. Juga, ia berusaha membangun hubungan interpersonal yang saling percaya dan terbuka dengan sebanyak mungkin orang. 

Ia merasa lewat perjalanan itu, ia telah belajar lebih banyak daripada yang ia dapatkan hanya dari pendidikannya sebagai calon dokter di bangku kuliah. Ia merasa lebih percaya diri. Lebih mandiri. Ia tidak tahu bahwa tantangan terbesar sedang menantinya, tak memberinya ruang dan waktu untuk bernapas kembali seirama dengan kehidupan yang sempat ditinggalkannya.

Ketika kembali pulang dan masuk lagi ke dunia kampus, ia merasa menjadi terkejut. Ia merasa seperti alien. Gampangnya, ia merasa terapung tanpa pelampung di lautan. Melayang sendiri di semesta tak bertepi. Ia kehilangan pegangan karena wajah realita yang ia lihat tak ia kenali lagi. Apakah dunianya yang dulu berubah? Atau justru ia yang berubah? Potongan jigsaw ini tak bisa menempatkan dirinya di puzzle, dan potongan-potongan lain yang dilihatnya tak membentuk gambar yang masuk akal. Ia tak sanggup mencari pertolongan karena sudah merasa begitu jauh, terputus dari teman-temannya. Mereka begitu berjarak darinya, hanya karena ia sempat tinggalkan mereka dan bersahabat dengan manusia-manusia lain ras di seberang dunia.

Ia merasa asing dengan kehidupan di sebuah Fakultas Kedokteran dan sepertinya menjadi bingung dengan kenyataan yang dilihatnya. Ritme kehidupan begitu cepat, namun monoton. Gaduh dan memusingkan. Sebelum waktu kuliah, semua orang datang dan membaca buku kuliah atau mengobrol. Yang mendatanginya kemudian menanyakan mana oleh-oleh yang dibawanya. Waktu itu ia sepertinya lupa dengan tata cara komunikasi lokal yang wajar, bahwa hal itu hanya basa-basi khas Jawa. Buatnya, sepertinya mereka tak punya etika, tak tertarik dengan kemunculannya tiba-tiba setelah dua bulan menghilang namun justru hanya peduli dengan diri mereka sendiri dan apa yang mereka dapatkan darinya.

Kemudian kuliah dimulai, berjalan selama 4 jam. Setelahnya semua orang berhamburan keluar kelas, kembali tersita pikirannya dengan urusan pribadi masing-masing. Mereka mengurusi berbagai macam kegiatan ekstrakurikuler, berjualan segala macam, maupun urusan-urusan sepele yang mendesak. Ada begitu banyak mahasiswa di kampus yang ukurannya teramat kecil, dan lebih banyak wajah asing yang tak bisa ia kenali. Semua orang sepertinya berjalan dengan tatapan kosong, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Seperti melayang, terlepas dari dunia ini. Dia yang baru kembali merasa tersesat dan sendirian, tak tahu di mana tempatnya di tengah kekacauan di sekelilingnya. Ia tak mengerti apa yang harus dilakukannya untuk menjadi dirinya yang dulu, sebelum meninggalkan tempat itu dua bulan yang lampau.

Sungguh, hari itu tak ada yang berbeda di kampus. Semuanya berjalan “normal” seperti hari-hari lainnya. Tak ada yang istimewa. Kecuali kehadiran makhluk asing, seorang mahasiswa tingkat empat yang berjuang memahami logika kehidupan di sebuah dunia yang disebut “kedokteran”. Ia yang selama dua bulan menjadi manusia, kini mendapati dirinya harus kembali menjadi seorang calon dokter. Logikanya tak jalan. Ia tahu ia harus cepat mengejar ketinggalannya selama tiga minggu melewatkan perkuliahan. Namun ia terlalu lelah, masih dengan jetlagnya, ditambah kenyataan bahwa setelah dua bulan terus-terusan berpindah tempat baru saat itu ia bisa beristirahat. Pikirannya ingin ia bekerja, namun tubuhnya melawan, hanya ingin pulih dan kuat kembali. Ia mencoba mencari sahabat-sahabatnya (dulu?), namun mereka juga amat sibuk. Lagipula ia sendiri belum siap menemui mereka. Terlalu letih untuk bertemu muka dan menceritakan perasaannya pada mereka. Lagipula mereka belum tentu paham. Ia sadar apa yang sedang dialaminya: gegar budaya, culture shock.

Aneh sekali. Ia bingung bagaimana ini sampai terjadi. Oke lah, jika terjadi gegar budaya ketika ia menginjakkan kaki di benua Eropa, tanah barat di mana budaya berbeda dan ia hanyut dalam lautan orang-orang yang bicara bahasa asing. Ia sudah antisipasi dan mencegah hal itu terjadi, dan memang itu tak terjadi. Namun justru malah ia diserang gejalanya ketika kembali. Ia HANYA berada di Eropa dua bulan. Ia heran kenapa hanya dalam waktu begitu singkat Eropa mengubahnya sampai-sampai sulit mengenali tanah di mana ia telah mengakar selama bertahun-tahun. Ia tak bisa memahami dan menerima kondisinya, ia masih berusaha melawan dan mengatasi hal ini secepat mungkin. Ia HARUS segera menjadi “normal” kembali, bekerja seproduktif dan seefisien mungkin mengejar ketinggalannya dan menyelesaikan laporan-laporan untuk lembaga di Eropa dan kampusnya. Kegundahan pun makin sesak merambati hatinya.

Ia mencari satu-satunya makhluk yang mengerti kondisinya saat itu, yang ia rasa mampu membantunya menghadapi apa yang terjadi. Seorang teman dari Madrid yang menjadi sahabatnya di Napoli. Jarak terbentang 12.000 km, memisahkan mereka di dua belahan dunia berbeda. Hanya email yang terkirim. Ketika ia baru tiba di Jakarta ia mengirim email yang menceritakan keletihannya, dan temannya mengatakan bahwa ia hanya butuh waktu untuk mengorientasi diri kembali pada lingkungannya. Hal itu kemudian dipegangnya. Ia tahu ia hanya butuh waktu.

Kali ini, bisikan-bisikan rasa frustasi yang ditahannya sendiri kembali terungkap lewat huruf-huruf yang lahir dari keyboard komputernya. Termasuk bagaimana rutinitas terasa begitu menyiksa baginya dan ia merasa perlu mengingat lagi kenapa ia memilih kedokteran sebagai dunianya. Lalu jawaban dari Madrid nun jauh di sana tiba. Temannya mengatakan bahwa rutinitas adalah realita yang telah ditentukan sebelumnya, yang berisi pebuatan dan hasil yang telah ditentukan pula sebelumnya. Bahwa meninggalkan rutinitas memberi kesempatan untuk rindu pada rutinitas itu sendiri. Kembali ke rutinitas memberi kesempatan untuk mengapresiasi dunia yang lebih luas di luarnya. Kata-kata ini begitu sulit ia pahami.

Akhirnya ia memutuskan untuk menyerah, kalah. Ia berhenti berpikir. Dan tubuhnyapun dibiarkannya beristirahat. Jam demi jam dilewatinya di atas tempat tidur, bersua dengan mimpi kabur. Saat bangun kadang ia merasa segar, hanya untuk beberapa jam sampai ia merasa butuh lebih banyak tidur. Namun setelah menyatakan gagal kembali ke rutinitas yang produktif, justru saat itulah ia mulai mengerti apa yang terjadi. Ia menerima fakta bahwa dirinya memang mengalami gegar budaya setelah kembali. Ia tak bisa melawannya, dan tak ada yang bisa dilakukannya untuk mencegah hal itu terjadi. Ia menerima fakta bahwa mungkin tak ada yang perlu dilakukannya selain menunggu sampai tiba waktu fisik dan mentalnya dapat menyesuaikan diri, selaras dengan sekitarnya. Dan sementara itupun ia hanya berusaha menjalani hari-harinya sesuai kemampuannya.

Dan hari itu akhirnya tiba tak lama kemudian. Suatu pagi ia bangun, mendapati dirinya tak selelah sebelumnya. Ia mampu bersosialisasi lagi dengan teman-temannya. Ia menelepon mereka dan tertawa dengan mereka, mengobrol dan bertemu, membagi ceritanya. Ia tak lagi bingung dengan suasana di kampus, bahkan mulai menikmati kembali rutinitasnya: belajar dan kuliah. Ia menyibukkan diri dengan laporan perjalanannya dan tugas lain yang harus diselesaikan.

Kadang hal yang harus diingat adalah menerima suatu keadaan. Tubuh dan pikiran kita tak mampu dipaksa melebihi kapasitasnya, dan saat itulah benturan-benturan terjadi di dalam diri. Kadang kalah berarti mundur sementara dari peperangan dan menyiapkan tenaga untuk kemenangan selanjutnya.

RAhajeng TUnjung aka RaTu/ Semarang, 9 Oktober 2005

Where Am I?

You are currently viewing the archives for October, 2005 at Docere.